NEWS
Trending

Garap Mega Proyek Infrastruktur, Indonesia Butuh Ribuan Engineer

Garap Mega Proyek Infrastruktur, Indonesia Butuh Ribuan Engineer
Listrik Indonesia | Seiring banyaknya program yang dicanangkan pemerintah, hal ini tidak diimbangi dengan jumlah tenaga ahli di bidangnya. Seperti pada program proyek setrum 35.000 Megawatt (MW) dan proyek-proyek infrastruktur yang digagas Presiden Jokowi, yang banyak membutuhkan tenaga ahli teknik (insinyur).

Heru Dewanto, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengatakan, Indonesia pada 2019 nanti akan butuh setidaknya 82 ribu insinyur.

“Sementara yang tersedia hanya 20 ribu insinyur,” ujar Heru pekan lalu, dalam diskusi yang bertemakan "Saatnya Didengar" di JCC Senayan, Jakarta.

Ia menambahkan, faktanya sampai hari ini hanya separuh dari sarjana teknik yang berprofesi sebagai insinyur. “Hanya separuhnya lagi dari jumlah itu bekerja di infrastruktur,” terangnya.

Sekaligus menjabat Presiden Direktur PT Cirebon Electric Power, Heru mengingatkan, jangan sampai proyek-proyek infrastruktur salah satunya adalah mega proyek 35 Ribu MW akan kekurangan tenaga ahli yang mengelolanya.

“Jadi jangan sampai kita punya proyeknya tapi tidak ada yang mengerjakannya,” paparnya.

Lebih jauh Heru menerangkan, untuk itu semua pihak harus punya visi yang sama dan bergandengan tangan dalam mewujudkannya.

“Kita tidak lagi bisa hanya berkutat bicara soal skema kemitraan saat ini, tapi harus ada yang berpikir ke depan,” ungkap Heru.

Menurut data BPS, hingga Februari 2016 tercatat sekitar 7.45% rakyat Indonesia menganggur. 39% diantaranya lulusan SD, sementara 25% lainnya adalah sarjana. Data lain yang tak kalah mengagetkan menurut Heru adalah 47% dari angkatan kerja Indonesia merupakan lulusan SD.

“Bagaimana kita bisa bersaing di MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dengan kondisi seperti ini? Capacity building ini harus dimulai dari sekarang, dan cara yang paling konkret dan paling komprehensif adalah melalui proyek 35 Ribu MW dan proyek-proyek infrastruktur yang digagas Presiden Jokowi,” imbuhnya.

Heru menegaskan, jangan sampai terjadi miss-match, di mana di satu sisi ada begitu banyak lulusan SMK dan bahkan sarjana yang menganggur sementara demand dari sektor infrastruktur nantinya sangat besar. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button