PROFILE
Trending

Geothermal Investasi Berkelanjutan

Geothermal Investasi Berkelanjutan

Listrik Indonesia | Selama pandemi Covid-19, kondisi kelistrikan global terus mengalami penurunan permintaan akibat lockdown yang diberlakukan di beberapa Negara. Hal ini menyebabkan keterlambatan pengembangan maupun pembangunan proyek-proyek ketenagalistrikan. Melihat berbagai masalah tersebut, Indonesia dirasa perlu mendorong transisi energi menuju energi baru terbarukan.

Dalam catatan International Energy Agency (IEA) penurunan permintaan listrik mencapi 20 % pada saat diberlakukannya lockdown.  Pada  kuartal I 2020, penurunan permintaan listrik global telah mengalami penurunan hingga 2,5 % jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2019 dengan rata-rata terjadi penurunan permintaan hingga 20% di beberapa wilayah yang menerapkan lockdown total. 

Lockdown yang diterapkan di beberapa negara juga menyebabkan keterlambatan pengembangan maupun pembangunan proyek-proyek ketenagalistrikan, termasuk di Indonesia, di mana penyelesaian sisanya dari proyek 35.000 MW kemungkinan bisa tertunda karena adanya gangguan pada rantai pasokan, ketersediaan tenaga kerja, hingga pembiayaan proyek.

Mengutip tulisan Riki Firmandha Ibrahim Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) yang diterima Listrik Indonesia beberapa waktu lalu. Ia menyampaikan, Pandemi Covid-19 harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk melakukan lompatan besar dalam pengembangan energi terbarukan.  Indonesia melihat ini sebagai peluang meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam pasokan listrik karena outputnya sebagian besar tidak terpengaruh. Pemikiran least cost dari energi itu harus ditambah dengan aspek lingkungan, penurunan emisi Karbon Dioksida/CO2 dan aspek sustainability/ keberlanjutan karena cepat atau lambat fosil akan habis.

“Melihat berbagai masalah tersebut, Indonesia dirasa perlu mendorong transisi energi menuju energi baru terbarukan,” ujarnya.

Di antara energi terbarukan, Panas Bumi/Geothermal dinilai tepat untuk lebih dikembangkan dan diprioritaskan. Alasannya Panas Bumi di Indonesia memiliki segudang potensi, lantaran Indonesia berada di wilayah Ring of Fire  dan Panas Bumi bisa memproduksi energi dengan skala besar.  Menurutnya, pemanfaatan energi terbarukan perlu ditingkatkan tidak hanya untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23 % pada tahun 2025, tetapi juga menuju ekonomi rendah karbon (CO2). 

Dilihat dari perspektif lingkungan dan sustainability, pemakaian energi fosil dipastikan berdampak pada penurunan mutu lingkungan akibat emisi CO2 dan bahan partikulat yang cukup besar.  Indonesia sendiri masih bergantung kepada sumber energi yang tinggi emisi.  Pada tahun 2018, produksi pembangkit listrik Indonesia sebagian besar bersumber dari bahan bakar fosil, hanya sebesar 17,1 % dari 100 % berasal dari Energi Terbarukan.  Sementara porsi bauran EBT baru mencapai 8,6 %, atau sekitar 2,5 % (9,8 GW) dari potensi yang ada 441,7 GW.

Indonesia Geothermal Center of Excellence 2045 harus menjawab Kemandirian dan Ketahanan Energi Bauran Nasional di tahun 2050,” ucap Riki.

Georthermal Sebagai Solusi

Riki yang juga berpengalaman di sektor energi Panas Bumi memiliki alasan tersendiri mengapa Panas Bumi menjadi solusi energi masa depan dan roda perekonomian. Ia pun memamparkan, Indonesia diperkirakan memiliki hampir sepertiga sumber daya panas bumi dunia dengan potensi terbesar. Hingga saat ini periode Mei 2020 sebesar 2131 MW baru sekitar 8 % dari potensi ekivalen sekitar 25.8 GW yang dimanfaatkan.

“Ini memperlihatkan bagaimana Panas Bumi sangat sedikit dimanfaatkan sebagai listrik karena besaran potensi Panas Bumi yang masih berlimpah, juga membuka peluang peningkatan investasi,” terangnya.

Belum lagi Diversifikasi pemanfaatan langsung Panas Bumi keperluan pariwisata dan perkebunan masih terbuka luas yang karena energi ramah lingkungan dan memenuhi aspek sustainability, sehingga portofolio pembiayaan dengan bunga rendah dari luar negeri untuk pemanfaatan langsung ini sangat besar pula peluangnya.

“Proyek energi terbarukan Panas Bumi merupakan sebuah investasi berkelanjutan yang sangat strategis karena mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil batubara,” cetusnya.

Lebih detil, ia menjelaskan, apabila dikonversikan, PLTP sebesar 330 MW kapasitas pembangkit tenaga Panas Bumi setara dengan 105 Juta Bbl BBM untuk 25 tahun.  Rata-rata sumur energi Panas Bumi itu dapat berproduksi selama 30 tahun lebih, maka bisa dikatakan proyek ini memberikan investasi yang menguntungkan, karena stabil dapat diprediksi. Tentu ini dapat mendatangkan pendanaan yang lebih menarik hingga beberapa dekade mendatang.

Menurutnya, Pengembangan Panas Bumi akan memperbaiki neraca perdagangan, berbeda dengan sumberdaya energi terbarukan lain yang intermittent dan dipergunakan PLN sebagai Base Load.  Apabila target dalam RUPTL terpenuhi dengan PLTP, sekitar 100 ribu BOE per hari kebutuhan bahan bakar domestik dapat digantikan. 

“Salah satu sumber energi yang mampu menggantikan energi fosil sebagai Base load adalah panas bumi (PLTP) dan Air (PLTA),” tuturnya.

Riki menambahkan, melihat peluang tersebut, pemerintah sepertinya sudah menyadari pentingnya pemanfaatan sumber energi Panas Bumi.  Hal tersebut terbukti dari data Kementerian ESDM yang menyebutkan bahwa kapasitas PLTP terus mengalami peningkatan, misalnya pada tahun 2019, kapasitas terpasang berasal dari PLTP yaitu sebesar 182,3 MW.  Sayangnya pengembangan ini belum dikaitkan dengan pendanaan menuju ekonomi rendah karbon. (Cr)

 

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button