NEWS
Trending

Guna Capai Target Kelistrikan 2019, PLN dan IPP Diminta Bersinergi

 Guna Capai Target Kelistrikan 2019, PLN dan IPP Diminta Bersinergi
Syamsir Abduh, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN)
Listrik Indonesia | PT PLN (Persero) diminta untuk bersinergi dengan produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP). Hal tersebut bertujuan agar proses pembangunan mega proyek infrastruktur kelistrikan 35.000 Megawatt (MW) agar lebih cepat direalisasikan dan beroperasi pada 2019 mendatang.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh mengatakan, perusahaan pelat merah dalam menjalankan program tersebut diminta bersinergi dengan perusahaan swasta. Selain itu, ia meminta dukungan penuh dari pemerintah untuk melancarkan proyek listrik milik swasta. "Pada awal pencanangan, sekitar 80% proyek pembangkit 35.000 MW itu akan dibiayai anggaran negara. Namun nyatanya, saat ini lebih dari 60% proyek 35.000 MW berasal dari swasta," katanya dalam Diskusi Kelistrikan di Jakarta, (26/01).

Ia menuturkan, secara eksplisit program kelistrikan 35.000 MW tidak disebutkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). Namun, yang namanya kebijakan nasional harus saling terintegrasi. "Tugas IPP kan membangun pembangkit tapi kalau transmisinya belum selesai, bagaimana? Itu menjadi tanggung jawab pemerintah dan PLN. Leadership commitment sangat perlu," paparnya. Ia menerangkan, target pembangkit listrik sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2011 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), di antaranya terpenuhinya kapasitas pembangkit listrik pada 2025 sebesar 115.000 MW dan pada 2030 sebesar 430.000 MW.

Dalam kesempatan yang sama, Ali Ahmudi, Ketua Pokja (Pengkajian Energi, SDA, Lingkungan dan Perubahan Iklim Universitas Indonesia /UI) menerangkan, dalam program kelistrikan 35.000 MW pemerintah berharap swasta menjadi tulang punggung. "Kalau pemerintah sudah menyerahkan ke swasta, seharusnya pemerintah memberikan ‘jalan tol' (bebas hambatan, red) ke swasta untuk merealisasikan hal itu," terangnya.

Ia mengatakan, menurut kabar yang beredar, sejumlah investor mengeluhkan pasokan listrik yang ada kurang dapat diandalkan, mengingat listrik merupakan infrastruktur vital bagi keberlanjutan produksi. "Di sini sinergi antara PLN dan pembangkit listrik swasta perlu terjalin erat. Pembangkit listrik yang terintegrasi perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan PLN karena menjadi tumpuan bagi pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang sedang digalakkan pemerintah," tegas Ali.

Lebih jauh ia mengatakan, kehadiran pembangkit listrik terintegrasi dengan kawasan industri, terbukti memberikan dampak positif bagi peningkatan keandalan sistem kelistrikan /PLN setempat, dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, serta membuka sentra ekonomi baru seperti di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Presiden tetap menargetkan proyek 35.000 MW tercapai pada 2019. Padahal jauh sebelumnya, Kementerian ESDM telah menurunkan target tersebut menjadi 19.700 MW. "Bagi investor dan stakeholders, kesimpangsiuran target dari pemerintah ini memperlihatkan, pemerintah tidak satu suara," beber Ali.

Menurut Ali, inkonsistensi juga jelas terlihat di kalangan regulator teknis yang sebenarnya menjadi pembantu Presiden dalam mewujudkan target pemerintah. Hal itu terlihat dari keinginan Presiden Jokowi yang berupaya mengundang secara luas partisipasi swasta dalam mendukung program 35.000 MW.

Namun, di sisi lain Kementerian ESDM dan PLN justru terkesan membatasi peran swasta dengan adanya regulasi denda bagi pembangkit listrik swasta serta tertundanya Power Purchase Agreement (PPA) pembangkit listrik Jawa I dan PPA Kawasan Industri Kendal.

Ali mengungkapkan, listrik merupakan infrastruktur vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, mendorong investasi, pemerataan industri yang berdampak lanjutan bagi penciptaan lapangan kerja dan ekonomi daerah. Oleh sebab itu, harmonisasi sinergi antara PLN dan produsen listrik swasta perlu ditingkatkan guna mengejar target 35.000 MW. Jangan ada lagi stigma kontestasi antara PLN dan produsen listrik swasta. "PLN jangan menganggap produsen listrik swasta sebagai saingan, tapi lebih kepada mitra usaha yang perlu bersinergi mengejar target 35 ribu MW," tandas Ali. (GF)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button