NEWS
Trending

Hadapi Krisis Energi, Pemerintah Diminta Segera Ambil Langkah Tegas

Hadapi Krisis Energi, Pemerintah Diminta Segera Ambil Langkah Tegas
Pri Agung Rakhmanto (Foto: ANTARA News)
Listrik Indonesia | Krisis harga minyak dunia membawa dampak negatif tak hanya di sektor minyak dan gas (migas), tapi juga di berbagai sektor lain. 

Peneliti dan pengamat energi senior, Pri Agung Rakhmanto menyatakan, efek domino ini terus menjalar bahkan sampai ke Indonesia, yang berakibat tersendatnya pertumbuhan ekonomi, terkendalanya kemajuan pembangunan pembangkit listrik, turunnya penyerapan angka tenaga kerja, tertundanya proyek infrastruktur, hingga dampak sosial lainnya yang lebih luas di masyarakat.

"Akibatnya langsung dirasakan pada sektor migas yakni berkurangnya kegiatan eksplorasi untuk mencari cadangan migas yang baru, berkurangnya program pengeboran dan perawatan sumur, pengurangan tenaga kerja, serta turunnya minat investor terhadap penawaran wilayah-wilayah kerja baru dari pemerintah," kata Pri Agung di Jakarta, Jumat (31/03).

Ia menambahkan, apabila permasalahan ini tidak segera diselesaikan, Indonesia harus bersiap memasuki babak baru krisis energi. "Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia sedang memasuki krisis energi, dan dampak dari kondisi ini juga mulai dirasakan oleh sektor-sektor lain. Sikap pemerintah yang tegas sangat diperlukan agar risiko krisis energi di dalam negeri tidak berdampak lebih luas pada industri lainnya," terang Pri Agung.

Menurutnya, beberapa daerah di Indonesia mulai mengalami penundaan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan dan perlambatan kinerja perekonomian, terutama di daerah-daerah penghasil migas. "Tekanan APBD yang paling besar terjadi di Provinsi Riau, Dana Bagi Hasil (DBH) migas berkurang secara signifikan sejak 2014 – 2016, yaitu sebesar 4,02 triliun rupiah," paparnya.

Ia mengungkapkan, secara tidak langsung dampak dari krisis ini telah mempersempit peluang masyarakat untuk berusaha dalam sektor ekonomi lainnya. Sementara, di sisi lain, ketidakpastian pasokan gas yang diperuntukkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), juga menjadi salah satu kendala pada proyek 35.000 MW yang sedang dikembangkan pemerintah. "Belum lagi PLN sebagai operator masih sibuk berkutat pada persoalan harga gas dengan pihak suplayer. Sehingga sampai sekarang belum dapat dipastikan pasokan gas akan diperoleh dari lapangan gas yang mana," ungkapnya.

"Menurut catatan, banyak perusahaan jasa pendukung di industri migas yang sudah tidak lagi beroperasi dan bahkan lebih dari 24 ribu pekerja sektor migas mengalami kehilangan pekerjaan. Begitu juga di sektor perhotelan dan pariwisata. Tingkat okupansi bisnis perhotelan di wilayah penghasil migas mengalami penurunan  drastis  sebesar  40-50  persen, sehingga   diikuti  dengan   pengurangan pegawai sebesar 5-20 persen," sambungnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial dari Universitas Nasional, Sigit Rochadi mengungkapkan, krisis migas yang terjadi ternyata memberikan efek domino kepada sektor-sektor lainnya, baik yang langsung ataupun tidak langsung. 

"Dampak krisis akan jauh lebih luas terjadi di sektor-sektor lainnya, seperti: pengangguran, keguncangan ekonomi keluarga, menurunnya kesejahteraan ekonomi, hingga berujung pada munculnya persoalan-persoalan kriminalitas," ungkap Sigit.

Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil berbagai langkah strategis untuk mengatasi dampak dari krisis migas ini. Kebijakan yang mendorong investasi migas sangat diperlukan demi kembali meningkatnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas, terutama untuk menemukan sumber-sumber cadangan baru di Indonesia. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button