Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

'Holding' Industri Baterai Kendaraan Listrik, Apa Kabar?

'Holding' Industri Baterai Kendaraan Listrik, Apa Kabar?
Perusahaan induk atau 'holding' Indonesia Battery Corporation melibatkan empat BUMN [Foto: vibiznews.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Mohamad Hekal mengingatkan agar potensi nikel dan tambang lainnya yang akan dimanfaatkan untuk mengembangkan industri baterai, harus dinikmati pula oleh rakyat.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membentuk perusahaan induk (holding) industri baterai. Empat BUMN ditugasi menggarap berdirinya perusahaan baterai, yakni PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Aneka Tambang Tbk., PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

Holding bertugas mengintegrasikan perusahaan pelat merah guna mewujudkan dan mengoperasikan Indonesia Battery Coorporation. 

Hekal mengemukakan hal itu usai mengikuti pertemuan tim kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI dengan pejabat empat BUMN tersebut bersama Kementerian BUMN di Kendari, Sulawesi Tenggara, pekan ini. 

BACA JUGA: Komisi VII Dukung Regulasi Pendorong Perkembangan Industri Baterai

Pemerintah, kata Hekal, menyiapkan investasi besar-besaran guna mewujudkan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle).

“Kita mau jadi pelopor di industri baterai karena kita punya bahan bakunya. Terbesar ada di Sulawesi Tenggara ini,” ungkap Hekal.

Ditambahkan, pemerintah kini mulai beralih ke investasi energi baru terbarukan (EBT). Langkah guna mengurangi polusi emisi karbon dan ketergantungan pada energi fosil.

Komisi VI DPR, kata Hekal, mengundang elite BUMN dimaksud guna melihat langsung ketersediaan bahan baku baterai. Saat yang sama, DPR hendak mengetahui perkembangan penggarapan holding industri baterai dimaksud, yang mulai disiapkan pada Februari 2020.

BACA JUGA: Tren Energi Terbarukan Meningkat, PLN Persiapkan Industri Batu Baterai

“Potensi nikel di Indonesia yang dikelola dua BUMN (Inalum dan Antam) sekitar 20 persen dari sumber daya yang ada di Indonesia. Kita minta itu diamankan dan ditingkatkan supaya bisa dinikmati rakyat. Industri baterai kendaraan listrik bisa mendorong hilirisasi industri lainnya,” papar Hekal, politikus Partai Gerindra.

Dijelaskannya, butuh waktu yang panjang untuk mengalihkan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. Persiapan sudah dimulai saat ini. Dan peralihan itu harus melalui masa transisi.

“Persiapan peralihan industri electric vehicle tidak serta merta menghapus energi fosil karena pasti melalui transisi yang cukup panjang, tetapi harus dimulai. Kita sudah mulai langkah konkret untuk membangun industri baterai ini," tutur legislator daerah pemilihan Jawa Tengah IX itu. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button