Business CORPORATION NEWS
Trending

Hutama Karya Fokus Garap Pembangkit Kapasitas Besar

Hutama Karya Fokus Garap Pembangkit Kapasitas Besar
PLTU Suralaya garapan PT Hutama Karya (Persero) [Foto: twitter.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - PT Hutama Karya (Persero) atau HK, perusahaan plat merah yang selama ini berkiprah di industri jasa konstruksi, tak ingin sekadar menerima "penugasan" turut menggarap proyek energi, khususnya penyediaan tenaga listrik. 

Pilihan garapan HK saat terjun ke sektor energi berdasarkan kajian mendalam. Apa persoalan mendasar sektor kelistrikan? Apa solusi efektif untuk benar-benar menjawab permasalahan dimaksud?

Direktur Operasi I PT Hutama Karya (Persero) Novias Nurendra menegaskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini lalu menggarap proyek-proyek energi yang cakupannya menghadirkan solusi atas permasalahan mendasar sektor kelistrikan hari ini dan mendatang. 

Seperti halnya megaproyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), salah satu di antara belasan proyek Engineering Procurement and Construction (EPC), sebagai bentuk pembangunan koridor ekonomi, garapan kelistrikan HK ditargetkan guna menciptakan koridor energi nasional.  

"Prioritas yang perlu dibangun adalah pembangkit skala besar, renewable maupun yang air (PLTA). Pembangkit yang besar itu economic costs, sehingga prinsip keterjangkauan atau affordability terpenuhi," ujar Novias saat menjadi pembicara pada HK Expert Talk seri pertama, yang bertema 'Game Changers In Energy Sector: Melihat Masa Depan Energi Indonesia dan Kontribusinya terhadap Perekonomian Nasional' pada Kamis, 26 Maret 2021.

Gelaran HK Academy itu menghadirkan Novias bersama pengamat energi Kurtubi, serta moderator Budi Adiputro (presenter) di Jakarta. 

Sementara pembicara utama lainnya --Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman P. Hutajulu, Wakil Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Aloysius Kiik Ro,  dan Director Energy Finance Studies, Asia, pada Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Melissa Brown-- tampil secara virtual.

BACA JUGA: Punya Pengalaman dan Kapasitas, Waskita Karya Fokus Garap Pasar Luar Negeri

Bertindak sebagai panelis, yakni Chairani Rahmatullah (wakil ketua umum I Masyarakat Kelistrikan Indonesia, MKI), Sindu Daniarta (ketua Komisi Energi Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI Dunia, kandidat Ph.D. di Wroclaw, University of Science And Technology, Polandia, Ecadin Researcher), dan Retno Gumilang (kepala Pusat Kebijakan Energi ITB).

Webinar ini diikuti seribu peserta berbagai kalangan. Termasuk di antaranya mahasiswa berbagai perguruan tinggi di tanah air. Juga berpartisipasi puluhan mahasiswa pasca sarjana yang tersebar di delapan negara.

Menurut Novias, investasi pembangkit listrik berkapasitas besar lebih rendah ketimbang yang berskala sedang atau kecil. Dengan demikian, harga jual tenaga listrik yang dihasilkan kepada masyarakat atau konsumen bisa lebih murah dibanding sekarang.

Novias lalu menyinggung penegasan Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman P. Hutajulu pada sesi sebelumnya, bahwa pemerintah menggariskan prinsip "5 K" program pemenuhan kebutuhan tenaga listrik. Masing-masing kecukupan, keandalan, keberlanjutan, keterjangkauan, dan keadilan.



"Power generation yang dibangun HK paling tidak sudah memenuhi tiga di antara lima prinsip yang digariskan Kementerian ESDM, yakni memberikan ketersediaan (availability), keandalan (reliability), dan keterjangkauan (affordability)," ujarnya. 

Sebagai contoh, pembangkit yang telah dirampungkan dan sedang dikerjakan HK, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di Grati, Pasuruan, Jawa Timur, berkapasitas 450 MW. PLTGU Tambak Lorok di Semarang, Jawa Tengah, berkapasitas 850 MW. 

Kemudian di Bekasi terdapat PLTGU Muara Tawar yang berkekuatan 650 MW. Lalu berkapasitas lebih besar, HK bekerja sama dengan perusahaan Doosan asal Korea Selatan membangun PLTU ultra supercritical 2 x 1.000 MW di Suralaya, Banten. Fuel fired power plant ini terbesar di dunia untuk kelas 1.000 MW.

BACA JUGA: Sepanjang 2020, Hutama Karya Optimalkan Program CSR Tepat Sasaran

Memperkuat argumennya, Novias mengungkapkan keberhasilan Norwegia mengekspor tenaga listrik ke Belanda sejak 2006, sebesar 700 MW. Ekspor ke Jerman sebesar 1.400 MW dalam perencanaan. "Jadi bayangkan listrik sudah menjadi komoditas," tukasnya. 

Indonesia juga dapat menjadi negara pengekspor tenaga listrik pada saatnya, jika kebutuhan dalam negeri telah tercukupi. 


Tol Listrik

Selain membutuhkan pembangkit besar,  Direktur Operasi I PT Hutama Karya (Persero) Novias memaparkan pentingnya konektivitas (connectivity) sistem kelistrikan Indonesia, yang wilayahnya wilayahnya kepulauan besar. Upaya mewujudkan konektivitas ini pun perlu dimaksimalkan, seperti halnya mendesaknya pembangunan pembangkit skala besar.

"Connectivity itu penting. Kita sebut saja di sini 'Indonesia Power Super Highway + Big Size Powerplant'.  HK coba gambarkan tol listrik yang menghubungkan ujung Sumatera sampai Bali, hingga Kalimantan dan Sulawesi. Sehingga di pulau-pulau besar yang kaya sumber daya alam, bisa ekspor sebagai energi, bisa dihubungkan ke seluruh pusat beban," papar Novias lagi.

BACA JUGA: Buku Karya Dosen IT-PLN, Kupas Tuntas Manajemen Proyek

Ditegaskan, dengan teknologi subsea cable tidak ada masalah dalam membangun transmisi antarpulau. Jadi negara kepulauan juga bisa mandiri atau swasembada energi, dalam hal ini tenaga listrik. Negara benua bisa, Indonesia pun bisa.


Efisien

Menanggapi gagasan yang dirumuskan tim HK Academy dan kiprah HK yang fokus membangun pembangkit skala besar, pakar migas Kurtubi mengamini. Menurut anggota Komisi VII DPR RI 2014-2019 ini, strategi HK bukan cuma sebuah lompatan untuk mengejar kebutuhan suplai, namun efisiensi yang dicapainya perlu digarisbawahi.

"Memang lebih efisien membangun satu pembangkit besar daripada mengerjakan yang kecil-kecil. Wah, sebagian besar publik belum tahu, ya, Hutama Karya membangun beberapa pembangkit besar. Fokus lagi di situ," kata Kurtubi, mantan komisaris PT Newmont 2000-2013.

Ia menambahkan ke depan penting dirancang lokasi pembangkit berada dekat sumber bahan bakunya. Jika memungkinkan, di lokasi yang sama pembangunan industri lainnya. Dengan demikian efisiensi diperoleh, di samping muncul pusat-pusat pertumbuhan baru di daerah. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button