NEWS Figure PROFILE
Trending

IBNU SUTOWO; Dirut Pertama Pertamina

IBNU SUTOWO; Dirut Pertama Pertamina
Ibnu Sutowo [Foto: boombastis.com & medium.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta, 23 Septermber 1914. Berdinas sebagai tentara 1946-1976, pangkat terakhirnya letnan jenderal TNI, tiga bintang di pundak. 

Sebelum berkarier menjadi tentara, Ibnu seorang dokter. Dia menamatkan pendidikan dokternya di Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) alias Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya (1940). 

Menyandang profesi dokter, Ibnu bekerja di Kota Palembang. Tepatnya di Rumah Sakit Plaju, Sungai Gerong. Lima tahun mengabdi di sini, Ibnu selanjutnya berkiprah di Rumah Sakit Umum Palembang. Ia ditugasi sebagai Kepala.

Tak lama mengurusi pasien, Ibnu bergabung dengan korps baju loreng. Boleh jadi latar belakang sebagai dokter menunjang karir Ibnu sebagai serdadu. Dalam waktu singkat di Tentara Republik Indonesia (TRI), ia dipercaya menjadi Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). 

Kemudian pada tahun 1955, ia ditunjuk sebagai Panglima Tentara Teritorium (TT) - II Sriwijaya. Namun tidak sekonyong-konyong sebab beberapa jabatan penting di komando teritorial ini dijalaninya.

BACA JUGA: ZULKIFLI ZAINI; Memberi Lebih

Tak berhenti di sini, Ibnu ditarik ke markas besar. Tugas yang diembannya, antara lain, Asisten IV Kepala Staf Angkatan Darat selama dua tahun dan Deputi II Bidang Operasi Kepala Staf Angkatan Darat, merangkap Deputi Pelaksana Perang Pusat.

Episode seolah berganti warna. Pada 1957, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution menugasi Ibnu sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Tambang Minyak Sumatera Utara (PT Permina). 

Perusahaan tersebut kemudian menjadi PT Pertamina. Dia menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina hingga 1976. 

Namun, sebelum menjadi dirut pertama PT Pertamina, Ibnu mengemban beberapa amanah di pemerintah pusat. Level tertinggi Menteri Urusan Minyak Gas dan Bumi pada Kabinet Dwikora II dan Dwikora III (21 Februari 1966-25 Juli 1966). Sekarang itu adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)


Berbagai Goncangan

Sebagai perusahaan minyak dan gas bumi (migas) seumur jagung di negara besar, tantangannya tentu tidak kecil. PT Pertamina mengalami beberapa krisis. Ibnu sebagai nakhoda menghadapi goncangan yang tidak ringan.

Harian Indonesia Raya yang dibesut jurnalis kawakan Mochtar Lubis melaporkan kerugian negara akibat konspirasi Ibnu dengan pihak Jepang, mencapai $1,5 juta. 

Pemerintah tak tinggal diam, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, pemerintah membentuk tim bernama Komisi Empat. Komisi ini ditugasi menyelidiki dugaan korupsi di jajaran elite PT Pertamina. 

Tim investigasi Komisi Empat menemukan terbukti berbagai penyimpangan. Negara jelas-jelas dirugikan. Namun tidak ada tindakan hukum terhadap terduga pelaku korupsi.

BACA JUGA: ARDAN ADIPERDANA; Untuk Akuntabilitas BUMN

Pada 1975, PT Pertamina memasuki masa benar-benar krisis. Dalam situasi  sempoyongan, Ibnu justru meletakkan jabatan direktur utama. Dia meninggalkan utang negara sebesar $10,5 miliar. Penggantinya Letnan Jenderal Piet Harjono. Ibnu masuk ke PT Golden Mississippi.

Pada 2005, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin saat diperiksa aparat hukum mengaku tertipu oleh PT Indobuildco. Ali mengira perusahaan ini anak usaha PT Pertamina. 

Saat itu, Ibnu Sutowo yang masih memimpin PT Pertamina diminta membangun hotel Pertamina di kawasan Senayan, Jakarta, dengan hak guna bangunan selama 30 tahun. Ternyata hotel dimiliki oleh perusahaan pribadi Ibnu. 

Hotel tersebut adalah Hilton Hotel, yang belakangan menjadi Sultan Hotel, yang hingga kini masih dimiliki oleh keluarga Sutowo.

Semasa hidupnya, Ibnu mempunyai enam atau tujuh perusahaan pribadi.


BIO DATA

Nama lengkap: Ibnu Sutowo
Tempat lahir: Yogyakarta
Tanggal lahir: 23 September 1914
Wafat di Jakarta: 12 Januari 2001 (usia 86)
Istri: Zaleha binti Sjafe'ie
Anak: 7


(RE)

 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button