Renewable Energy ENERGY PRIMER PROFILE
Trending

Indonesia Harus Bisa Jadi Raja EBT

Indonesia Harus Bisa Jadi Raja EBT

Listrik Indonesia | Pengamat Energi Yani Witjaksono menceritakan, sejak dirinya berkecimpung di sektor energi terbarukan pada 20 tahun yang lalu. Pemerintah telah melakukan perencanaan pengembangan energi terbarukan dengan sangat baik. Banyak sekali seminar, Loka karya dan FGD (Focus Group Discussion) yang dilaksanakan untuk mendiskusikan energi terbarukan ini.

 

“Tetapi ditingkat pelaksanaannya pengembangan pemanfaatan energi terbarukan masih sangat minim,” ujarnya dengan penuh semangat.

 

Lanjut, Yani berkata, kita menyadari dan tidak ada yang dapat membantah bahwa energi fosil ini semakin lama akan semakin habis, bila digunakan. Pemerintah sudah berkomitmen pada Dunia untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1,49% dari emisi GRK global, setara dengan 0,554 GT CO2. Bahkan Pemerintah sudah menetapkan untuk memanfaatkan ET 23% dalam bauran energi nasional pada tahun 2025.

 

“Sekarang tunggu apalagi, kita harus jadi leader energi terbarukan dunia,” serunya.

 

Menurut para peneliti, Ia berujar, bahwa untuk mencapai target tersebut, energi terbarukan harus masuk ke dalam Bauran Energi Nasional sebanyak 2 GW per tahun. Yani menegaskan, sebetulnya target tersebut dapat dicapai, asal ada dukungan politis (political will) pemerintah. Serta betul-betul diimplementasikan dilapangan.

 

“Yang terjadi, sejak 20 tahun yang lalu, pelaksanaan pemanfaatan energi terbarukan  jauh panggang dari api. Yang dibangun justru kebanyakan PLTU dan Diesel Genset,” bebernya.

 

Menurutnya, mungkin salah satu kendala adalah bahwa harga energi energi terbarukan lebih mahal dari energi fosil (batubara misalnya). Dalam pemanfaatan energi fosil, kita belum memperhitungkan externality costs (depletion premium, biaya yang ditimbulkan karena emisi dampaknya pada kesehatan, emisi Gas Rumah kaca, dan lingkungan).

 

“Perlu disadari bahwa kita masih berada dalam fase awal dalam pemanfaatan energi terbarukan secara bersungguh-sungguh. Semakin banyak proyek energi terbarukan dibangun, dengan sendirinya harga akan turun. Demikian yang terjadi di banyak negara lain (surya dan angin misalnya). Serta kita berpotensi untuk memiliki teknologi nasional energi terbarukan ini. Disamping itu, hampir semua energi terbarukan itu “site dan size specific” yang bisa dibawa kemana-mana,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Ia menyebut seperti energi surya yang  tersedia dimana saja, juga memiliki kendala teknis Intermittent sehingga diperlukan pembangkit lain untuk backup ketika energi surya tidak tersedia, atau berkurang.

 

“Untuk Panas bumi, beberapa kendala dalam pembangunan telah diselesaikan pemerintah urusan hutan lindung dan biaya eksplorasi. Namun pemerintah masih perlu mensosialisasikan dan memberi edukasi kepada masyarakat luas bahwa pembangunan PLTP lebih banyak manfaatnya,” terangnya.

 

Sementara untuk Hydro, bila dibangun akan sangat banyak manfaatnya hutan terawat, banjir dan longsor bisa berkurang. Teknologi lokal sudah dimiliki, listrik yang dihasilkan stabil.

 

“Untuk Surya, Bayu dan Samudra , saya kira dengan sistem kelistrikan kita yang ada saat ini, masih ada kendala teknis yang harus dicarikan solusinya. Diperlukan support pembangkit lain, ketika pembangkit ini kurang menghasilkan listrik (Intermittent),” tuturnya.

 

Yani pun berharap ke depan pengembangan pemanfaatan energi terbarukan semoga dilakukan dengan cepat dan bergairah. Dengan kepedulianya terhadap pengembanga energy terbarukan, Yani Witjaksono yang juga anggota Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) diberi penghargaan Konsistensi dan Kegigihan dalam Pengembangan Energi Bersih dari Majalah Listrik Indonesia.

 

 

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button