NEWS
Trending

Ingin Diblokir Sri Lanka, Harga CPO Malah Terbang

Ingin Diblokir Sri Lanka, Harga CPO Malah Terbang

Listrik Indonesia | Sri Lanka berencana untuk memboikot impor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Namun ternyata hal itu tak berpengaruh terhadap harganya, justru semakin terbang.

Impor minyak sawit dan jumlah perkebunan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di Sri Lanka. Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tujuan dari kebijakan itu adalah untuk membuat negara bebas dari perkebunan kelapa sawit dan konsumsi minyak sawit.

Sri Lanka berupaya untuk menjadi negara bebas dari perkebunan kelapa sawit dan konsumsi minyak sawit karena selama ini ketergantungan pada sawit telah memicu terjadinya deforestasi yang masif di negara tersebut.

Kendati demikian, berdasarkan data dari Bursa Malaysia pada Rabu (7/4/2021), harga CPO untuk kontrak Juni 2021 sempat mencapai harga tertinggi pada 3.870 ringgit per ton sebelum tiba di harga setelmen 3.802 ringgit per ton. Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman bulan Juli 2021 terpantau naik 39 poin ke 3.630 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 3.694 ringgit per ton.

Indonesia lebih banyak mengekspor komoditas ini ke India dan China. Pada periode 2017-2019 RI mengekspor produk minyak sawit ke India rata-rata sebesar US$ 2,25 miliar sampai US$ 4,9 miliar. Di saat yang sama RI mengekspor minyak sawit ke China sebesar US$ 2 miliar -US$ 2,5 miliar.

Dari data ini saja jelas terlihat bahwa pangsa ekspor ke Sri Lanka tidak ada apa-apanya dibandingken ke India dan China. Harga minyak nabati unggulan RI dan Malaysia ini juga mendapat katalis positif terkait prospek stok yang lebih rendah.

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button