NEWS
Trending

Ini Faktor Penyebab Tingginya Harga Listrik EBT

Ini Faktor Penyebab Tingginya Harga Listrik EBT
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM Rida Mulyana. (Foto: R Akmal)
Listrik Indonesia | Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengungkapkan, mahalnya harga listrik berbasis EBT, disebabkan oleh beberapa faktor.

Menurutnya, untuk saat ini, biaya investasi energi listrik berbasis EBT masih terhitung mahal, karena teknologi yang digunakan masih bergantung dari luar negeri. Lantaran industri dalam negeri belum memiliki kemampuan yang memadai.

Meski begitu, bukan berarti pengembangannya dikesampingkan hanya karena masalah tarif yang kurang ekonomis. Menurut Rida, Banyak aspek lain yang harus menjadi pertimbangan, mengingat EBT merupakan energi yang ramah lingkungan, sustainability-nya dalam jangka panjang dibandingkan dengan energi fosil.

Untuk itu, saat ini pemerintah membentuk Tim Gabungan yang beranggotakan wakil dari PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), Direktorat Jenderal EBTKE, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, dan Tenaga Ahli Kementerian ESDM untuk menyusun rekomendasi kebijakan harga yang mendorong pemanfaatan EBT listrik on grid.

Regulasi yang mengatur Tngkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), saat ini mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) Perindustrian No 54/M- IND/PER/3/2012 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

"TKDN yang diatur dalam Permen dimaksud untuk sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE), di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan peralatan rumah tangga. Sebagai contoh, PLTS disebut memenuhi syarat apabila TKDN barang sebesar 38,92 persen, persyaratan minimun sebesar 25,62 persen. Sementara TKDN jasa disebut telah memenuhi syarat apabila penggunaannya 100 persen dan TKDN gabungan sebesar 54,95 persen, namun persyaratan minimumnya sebesar 43,85 persen," kata Rida Mulyana saat ditemui di Kantor EBTKE Jakarta, (24/01).

Ia menambahkan, kondisi TKDN sektor EBTKE saat ini, untuk pengembangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) nilai TKDN-nya sebesar 64,53 persen, lalu Pembangkit Liatrik Tenaga Biogas (POME) TKDN-nya sebesar 30,88 persen sampai 73,7 persen.

Sementara lanjutnya, TKDN pada Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk turbin-nya dengan kapasitas 1-5 Megawatt (MW) kurang lebih sebesar 70 persen, lalu untuk turbin dengan kapasitas dibawah 1 MW kurang lebih 100 persen, dan generator sampai dengan 15?MW kurang lebih 70 persen TKDN-nya.

"Untuk modul surya, TKDN-nya kurang lebih sebesar 40 persen, untuk inverter-nya 5-15 Kw kurang lebih sebesar 40 persen, dan baterai model VRLA 60-2.000 Ah kurang lebih 60 persen. Selanjutnya, turbin energi angin dengan kapasitas 100 Kw, TKDN-nya kurang lebih sebesar 40 persen, serta untuk menara/Tower kurang lebih sebesar 40 persen," imbuhnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan, sementara untuk peralatan elektronik yang telah memenuhi standar konservasi energi seperti AC dan Kulkas mengandung TKDN masing-masing kurang lebih sekitar 20 persen dan 80 persen. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button