CORPORATION
Trending

Jalan Panjang Produsen kWh Meter Capai TKDN

Jalan Panjang Produsen kWh Meter Capai TKDN

Listrik Indonesia | Sekurangnya pemerintah telah mematok Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) peralatan kelistrikan 43,3 persen pada 2020 dan naik 50 persen pada 2024. Bukan angka yang mudah untuk direalisasikan bagi produsen peralatan kelistrikan dalam negeri. Produsen kWh Meter seperti EDMI pun terus berupaya meningkatkan TKDN semenjak membangun pabriknya di Indonesia.

 

Pemerintah terus mendorong optimalisasi TKDN di sektor ketenagalistrikan sebagai upaya mensubstitusi produk impor. Ini terlihat dari kian berkembangnya industri mesin dan peralatan pendukung ketenagalistrikan di Indonesia, sejalan dengan meningkatnya permintaan listrik di dalam negeri. Hal ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

 

Sementara itu, diungkapkan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini pada 24 Februari 2021. Ia menyebut realisasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan masih di bawah target. Berdasarkan kondisi ini, PLN membutuhkan sinergi, dukungan, dan keterbukaan pemangku kepentingan dalam implementasi Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Diharapkan, keterlibatan industry dalam negeri sebagai mitra kerja bisa

berjalan optimal.

 

Presiden Direktur PT EDMI Indonesia (EDMI), Ratu Febriana Erawati yang biasa dipanggil Aie mengutarakan bagaimana EDMI berupaya dalam memenuhi pencapaian TKDN. Berawal pada 2002 masuk melalui jaringan ditributor atau keagenan lokal kWh meter ke PT PLN (Persero), yang saat itu PLN sudah mulai menggantikan kWh mekanik ke kWh meter digital ke pelanggan industri. Pada saat itu, EDMI hanya memiliki produk kWh meter 3 Fasa yang difokuskan untuk sektor komersial dan industri.

 

“Waktu itu diawali pada tahun 2002, EDMI masih melalui distributor kWh meter 3 Fasa, kemudian PLN menggaungkan pabrikasi lokal untuk kWh meter 3 fasa,” ujar Aie.

 

Pada 2010, EDMI membuka cabang sebagai entitas perusahaan alias di Indonesia secara resmi. Pada 2010 itu pula mulai keluar kebijakan yang mulai mengharuskan produksi kWh meter 3 fasa. Aie bilang, pihaknya merasa tertantang dengan kebijakan tersebut yang kemudian dalam kurun waktu kurang 2 tahun yakni tahun 2013. EDMI akhirnya mendirikan pabriknya di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi.

 

“Jadi dengan adanya TKDN ini membantu produsen lokal dalam persaingan bisnis karena pastinya produsen lokal mempunyai keistimewaan dalam proses pengadaan,” terang Aie.

 

Dalam menaikan TKDN di industri kWh meter, Aie menyatakan, bahwa memang sulit untuk mencapai di angka lebih dari 50 persen, hal ini lantaran beberapa komponen utama masih harus didatangkan dari luar negeri. Salah satu usaha EDMI dalam meningkatkan TKDN dengan cara memindahkan Research & Development (R&D) yang berada dari Singapura, China dan Australia beralih ke Indonesia.

 

“Komponen yang sulit atau belum ada di Indonesia itu antara lain microchip atau MCU,” bebernya.

 

Lebih lanjutnya, Aie menjelaskan produk kWh meter yang diproduksi oleh pabrikannya. Hingga kini, kWh meter dengan brand EDMI ini masih konsisten memproduksi kWh Meter 3 Fasa AMR (Autometed Meter Reading) yang saat ini mulai beralih menjadi kWh meter AMI (Advanced Meter Infrastructure) dengan jumlah produksi 21.000 perbulan dengan TKDN 43 persen. Sedangkan kWh meter 1 Fasa untuk residential dengan kemampuan produksi 12.000 perbulan dengan TKDN mencapai 45 persen.

 

Aie membeberkan, bahwa saat ini pihaknya tengah mengerjakan beberapa proyek permintaan dari PLN , ditambah EDMI mensupport kWh meter untuk pelanggan pengguna surya atap. “Seiring perkembangan teknologi, EDMI siap menyokong produk multikomunikasi ke depannya,” imbuhnya.

 

“Ekspansi EDMI yang akan datang mengarah submetering antara lain ke bangun-bangunan vertikal,program listrik desa dan kawasan-kawasan industri yang mempunyai sistem kelistrikan sendiri. Kami berharap industri kWh meter semakin tumbuh, dapat meningkatkan kualitasnya. Sehingga dapat bersaing dan end user (PLN ) lebih percaya terhadap produk lokal,” pungkasnya

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button