Fossil Fuel ENERGY PRIMER
Trending

KEMANDIRIAN ENERGI: Ketika Asik Terbuai dalam Mimpi & Angan-Angan

KEMANDIRIAN ENERGI: Ketika Asik Terbuai dalam Mimpi & Angan-Angan
Ilustrasi.

Listrik Indonesia | Indonesia memiliki Grand Strategi Energi nasional melalui visinya untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Ketahanan berarti mengacu pada periode/waktu, yaitu berapa lama daya tahan atau stok energi untuk mencukup 270,6 juta penduduk Indonesia (data BPS per 2019). Misalnya, ketahanan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium cukup memenuhi kebutuhan negeri ini selama 22 hari. Ketika negara ini dalam kondisi darurat misalnya, hanya mampu bertahan selama 22 hari. Keadaan darurat misalnya perang, bencana, dan lainnya.

Kemudian terkait stok energi primer, misalnya cadangan minyak bumi akan habis dalam waktu 11 tahun dengan catatan tidak ada lagi kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru.

Kemandirian energi terkait dengan kemampuan bangsa ini menyediakan energi dari negerinya sendiri, bukan impor dari negara lain. Bagaimana kondisi kemandirian energi kita saat ini? Energi fosil utama, yaitu minyak bumi, gas bumi, dan batu bara.

Cadangan minyak. Ternyata kita bukan negara kaya minyak seperti Jazirah Arab. Produksi siap jual (lifting) minyak nasional terus turun dalam 10 tahun terakhir. Saat ini, lifting hanya di kisaran 700.000 barel per hari (bph). Padahal, kebutuhan/konsumsi BBM Indonesia 1,6 juta bph. Kita masih defisit BBM 50% yang harus diimpor baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM.

Total kapasitas kilang Pertamina juga hanya sekitar 900.000 barel per hari. Padahal, kebutuhan BBM 1,6 juta bph. Artinya, kita tetap harus impor BBM, selama tidak ada penambahan kilang baru atau peningkatan kapasitas kilang existing.

Gas bumi. Indonesia surplus gas bumi. Meskipun bukan negara yang kaya akan gas bumi. Kita masih ekspor sekitar 40% gas bumi. Bukan karena produksi gas kita yang besar, tetapi belum optimalnya negara ini memanfaatkan gas yang ada. Misalnya, gas bisa menyubstitusi BBM, industry menggunakan gas, bukan solar. Gas dioptimalkan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Jika 100% gas dioptimalkan untuk konsumsi domestik, impor BBM dan minyak mentah bisa turun.

Batu bara. Indonesia juga bukan negara kaya batu bara. Cadangan batu bara Indonesia berdasarkan data Kementerian ESDM per 2018 hanya 37 miliar ton tahun ini. Jumlah ini akan habis dalam waktu sekitar 50 tahun jika dieksploitasi 600 juta ton per tahun.

Lalu, jika minyak mentah habis, batu bara ludes, gas bumi menguap. Apa lagi yang bisa kita andalkan? Saat ini saja kita masih ketergantungan impor energi, terutama minyak mentah, BBM, dan LPG. Bagaimana nasib energi bangs aini 10 atau 20 tahun ke depan, ketika jumlah penduduk naik, konsumsi energi per kapita meningkat dengan naiknya kelas perekonomian masyarakat menengah. Nasib energi kita semakin baik atau kian keteteran?

Peta Jalan

Melihat kondisi yang agak kurang mengenakkan itu, apa peta jalan pemerintah dalam menuju visi ketahanan dan kemandirian energi?

Pertama, pemerintah ingin mendongkrak lifting minyak nasional ke 1 juta bph. Apa langkah dan strategi untuk mencapai 1 juta bph? Faktanya, dalam 10 tahun terakhir lifting minyak kita terus turun sampai pada titik di kisaran 700.000 bph? Bahkan, lifting diproyeksi kian menyusut. Seharusnya jika ingin menuju 1 juta bph, pemerintah perlu melakukan langkah extra ordinary, business unusual. Sepertinya langkah-langkah luar biasa itu belum terlihat.

Kedua, meningkatkan kapasitas kilang BBM. Pemerintah menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk membangun 2 kilang baru dan merevitalisasi (refinery development master plan/RDMP) 5 kilang existing. Program ini sudah dimulai sejak akhir 2014. Namun, sudah lebih dari 6 tahun belum terlihat hasilnya. Tidak salah jika publik meragukan cita-cita pemerintah ini. Kian suram cita-cita menuju ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi. Ini menjadi isu klasik. Selama ini, gas bumi diekspor. Kenapa gas bumi tidak bisa dioptimalkan di dalam negeri? Jawabanya singkat, tidak siapnya infrastruktur. Pipa gas, fasilitas regasifikasi (floating storage regasification unit/FSRU), dan harga gas yang masih mahal dibandingkan jenis energi lainnya. Hukum ekonomi, orang akan memilih jenis energi yang lebih murah. Mimpi pemerintah sejak lama untuk menurunkan harga gas juga masih sebatas angan-angan.

Keempat, kendaraan listrik. Masifnya kendaraan listrik diharapkan mengurangi konsumsi BBM nasional. Impor BBM pun bisa ditekan, sehingga bisa menciptakan kemandirian energi. Namun, sampai saat ini negeri ini relative lebih tertinggal dibandingkan negara lain dalam mengembangkan electric vehicle (EV). Anugerah Tuhan terhadap negeri ini adalah energi terbarukan yang cukup melimpah, angin, matahari, air, panas bumi, biomassa, dan lainnya. Semua energi terbarukan itu dikonversi menjadi listrik yang akan digunakan sebagai sumber energi bangsa ini, sehingga tidak perlu lagi impor minyak mentah dan BBM. Namun, ini juga masih sebatas angan-angan.

Energi terbarukan semestinya menjadi sebuah solusi cemerlang. Bersih, efisien, dan menumbuhkan ekonomi domestik. Namun, paradigma seluruh stakeholder tentang energi terbarukan juga belum sama. Masih banyak yang melihat bahwa energi terbarukan ini sebagai energi alternatif. Daripada pusing bagaimana caranya meningkatkan lifting, lebih baik menghoptimalkan sumber energi yang ada.

Mimpi menjadi negara yang mandiri energi masih harus melewati jalan panjang. Jangan terbuai mimpi indah, segera bangun dari mimpi dan mulai beranjak melalui aksi nyata meskipun dimulai dari langkah-langkah kecil. Langkah-langkah kecil ini lebih bermakna daripada harus terbuai dalam angan-angan dan mimpi.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button