NEWS
Trending

Kementerian ESDM Gelar Sidang DEN ke-21, Ini Kata Anggota DEN

Kementerian ESDM Gelar Sidang DEN ke-21, Ini Kata Anggota DEN
Dr. Ir. Tumiran, M.Eng (Foto: R Akmal)
Listrik Indonesia | Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar Sidang Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ke-21, di Kantor Kementerian ESDM, Jakatra.
 
Menteri ESDM Ignasius Jonan, selaku Ketua Harian DEN mengatakan, sidang ini akan membahas beberapa persoalan. Salah satunya, mengenai Peraturan Presiden (Perpres) No 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
 
“Komitmen kementerian/lembaga terkait dalam pelaksanaan kebijakan RUEN, dan program pembinaan penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi oleh DEN dan Kementerian ESDM,” kata Jonan di sela-sela Sidang DEN ke-21 di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta (30/03).
 
Selaku Anggota DEN, Tumiran mengungkapkan, sidang ini akan membahas dampak dari Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 Tahun 2017 terhadap pengembangan energi terbarukan.
 
“Sempat disinggung soal Permen ESDM 12/2017, terus sempat dilaporkan bagaimana imbas dan tanggapan stakeholder terhadap Permen tersebut,” tambah Tumiran.
 
Sebagai informasi, Permen 12/2016 ini membatasi harga jual listrik dari energi terbarukan ke PLN. Para pengembang energi terbarukan hanya boleh menjual listrik ke PLN dengan harga tak lebih dari 85% Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik setempat.
 
“Misalnya, BPP di suatu daerah Rp1.000/kWh, maka harga listrik dari pembangkit energi terbarukan tak boleh lebih dari Rp 850/kWh. Tentu patokan harga tersebut membuat pengembangan EBT di daerah-daerah yang BPP-nya rendah mengalami perlambatan,” papar Tumiran.
 
Tak hanya itu, daerah yang BPP listriknya rendah seperti di Sumatera Selatan masih banyak menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Tentunya EBT akan sangat sulit berkembang di daerah tersebut, dan patokan harga dinilai kurang ekonomis.
 
“Kemungkinan yang bisa didorong yang BPP-nya tinggi. Kalau yang sudah rendah seperti Sumsel, pembangkit tenaga matahari berkompetisi sama batu bara sangat sulit. Di Jakarta, lahan saja sudah mahal, tentu sangat sulit, kecuali dijalankan dengan skema bisnis lain, seperti PLTS rooftop,” ungkapnya.
 
Namun begitu, lebih jauh Tumiran mengatakan, wilayah Indonesia timur sangat cocok untuk dikembangkan pembangkit EBT, pasalnya harga BBP diwilayah tersebut tergolong tinggi dan pembangkit listrik yang terpasang kebanyakan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button