NEWS
Trending

Ketika Jonan Ingin Mengusir Kontraktor Karena Mahalnya Listrik EBT

Ketika Jonan Ingin Mengusir Kontraktor Karena Mahalnya Listrik EBT
Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dalam sambutannya mengatakan, dirinya sempat hampir mengusir kontraktor pengembang saat menawarkan dan menggunakan tenaga listrik arus laut.
 
“Pokoknya langsung saja berapa biaya per Kilo watt hours (Kwh), ketika calon pengembang menjawab 20 sen per Kwh, saya ingin langsung usir keluar, karena itu mahal dan tidak efisien,” ujar Jonan di sela-sela sambutan Diskusi Akhir Tahun EBTKE di Hotel Royal  Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/12)
 
Ia menambahkan, ini seperti prakarya anaknya, sewaktu disuruh gurunya untuk membuat prakarya miniatur kapal, tidak peduli berapa harga pembuatannya, yang penting prakaryanya jadi.
 
“Saya bilang, lho, ini kok kaya prakarya anak saya waktu masih kecil. Anak-anak kan kalo bikin prakarya nggak peduli ongkosnya, yang penting pokoknya jadi. Saya tanya anak saya, pernah bikin prakarya miniatur kapal, total biayanya berapa De? Dia bilang Rp2 juta lebih, belum termasuk nyuruh bapaknya fotokopi malam-malam loh ini,” guyon Jonan diiringi tawa para undangan.
 
“Saya sampai jadi Menteri masih disuruh fotokopi sama anak saya malam-malam. Saya Tanya kalau ini dijual harganya berapa? Anak saya bilang, ini ditawar temen saya Rp200 ribu. Saya bilang, oh gitu ya. Kembali ia melanjutkan sambutannya, ini namanya prakarya anak-anak. Wong semua renewable energy yang masuk Indonesia itu harus bisa berkompetisi dengan energi tradisional (fosil). At selling price itu harus kompetitif,” terangnya.
 
Alasan Jonan menolak kontraktor atau pengembang itu cukup rasional, pasalnya kondisi saat ini, ia menginginkan pembangkit listrik yang bisa menghasilkan tenaga listrik konsisten, namun biayanya di bawah 10 sen. Biaya 10 sen per Kwh saat ini, menurutnya pun masih terlalu mahal dan kurang efisien. Untuk itu dirinya tidak akan menyetujui apabila biaya operasionalnya tidak lebih baik dari saat ini.
 
“Kemudian saat ini saya sedang mempelajari murahnya biaya operasional pembangkit listrik tenaga surya yang dimiliki oleh Uni Emirat Arab (UEA). Dua pembangkit listrik tenaga surya di UEA masing-masing diketahui menghasilkan 150 MW dan 200 MW,” ungkap Jonan.
 
Hal yang membuatnya takjub yaitu biaya per Kwh dari pembangkit 150 MW memiliki biaya operasional kisaran 2 sen lebih, dan untuk hasil 200 MW mempunyai biaya sekitar 2,24 sen. Sedangkan jika dibandingkan dengan di Indonesia, biaya per Kwh bisa lebih dari 10 sen.
 
Meski begitu, mantan Menteri Perhubungan ini masih penasaran dengan besarnya margin antara biaya operasional di UEA dan Indonesia bisa terlalu jauh, padahal berpatokan pada matahari yang sama. “Saya sudah mengagendakan pertemuan langsung dengan menteri bidang energi UEA untuk mempelajari lebih lanjut secara detail mengenai proses pengembangan tenaga surya di UEA,” paparnya.
 
“Biar bagaimana, jika menghasilkan energi besar namun biaya operasional juga besar, berarti hal tersebut tidak efisien serta menjadikan industri tidak kompetitif,” terang Dirut KAI itu.
 
Lebih jauh ia mengungkapkan, daya beli masyarakat untuk listrik masih membutuhkan biaya yang relatif terjangkau, sehingga biaya produksi harus semurah mungkin agar harga jual di masyarakat bisa ditekan seminimal mungkin.
 
“Saya ingin menghimbau temen-temen yang bergerak dibidang renewable energy, fokusnya itu tidak menumpang kepada semangat pemerintah untuk pembauran energi ini sampai 23% pada 2025. Bukan itu. Tetapi kita harus berusaha memanfaatkan ini at the list cost,” tandasnya. (GF)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button