NEWS
Trending

Kisah Patriot Energi Melistriki Desa di Papua

Kisah Patriot Energi Melistriki Desa di Papua
Listrik Indonesia | Sudah menjadi tugas anggota Patriot Energi Tanah Air (PETA) untuk ditempatkan ke pelosok daerah atau desa-desa terpencil yang belum teraliri listrik, dan membantunya membangun pembangkit listrik.

Tugas utama tim PETA, yang dibentuk di era Menteri Sudirman Said ini, yaitu membantu suatu daerah yang belum memiliki aliran listrik, dengan membuatkan pembangkit listrik. Hal ini bisa dengan menggunakan energi panas matahari yang ditampung melalui solar cell (panel surya), dan disalurkan untuk masyarakat desa.

Di antara mereka, adalah Putty Annisa Anugrah dan Donny Isa, anggota PETA yang ditugaskan di Kampung Pund, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, lokasinya berbatasan langsung dengan Papua New Guinea.

"Pertama kali saya menginjakkan kaki di Papua pada 16 Juli 2016, tepat di hari ulang tahun saya," kata Putty. Sedih memang di saat hari kelahirannya tidak bisa bersama keluarga, melainkan harus berada di tempat yang jauh dari rumah. Tetapi hal ini dilakukan demi tugasnya sebagai seorang Patriot Energi.

Putty dengan para anggota Patriot Energi lainnya langsung mengunjungi rumah Bupati Papua untuk mengurus perizinan. Namun sayang, saat itu Bupati sedang sedang dinas keluar. "Saya mengurus perizinan di Jayapura (Ibukota provinsi Papua) dan di Kab. Keerom, tempat saya akan bertugas. Saya tidak sempat bertemu Bupati karena beliau sedang dinas di luar," ungkapnya.

Kepala Bidang Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi setempat mengantarkan timnya untuk bertugas di tempat yang telah ditentukan.

"Tepat pada 28 Agustus 2016, saya diantar oleh Kabid Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Keerom ke lokasi tugas saya. Lebih dari enam bulan saya akan bertugas di sana," paparnya.

Ia ditugaskan di Kampung Pund, Distrik Waris, Kab. Keerom, Prov. Papua. Lokasinya berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. "Pertama kali saya lihat desa penugasan saya, saya merasa senang, desa bersih, rumahnya sedikit hanya 36 bangunan, semi permanen dan tertata rapi, penduduknya ramah dan terlihat sedikit maju seperti penduduk di perdesaan di Jawa. Walau desanya terletak di tengah hutan dan dibatasi kali/sungai yang besar," terang Putty.

Saat itu, lanjutnya, listrik dari PT PLN (Persero) belum sampai ke desa tersebut, akses tang sulit menjadi kendala utama tidak adanya listrik yang masuk. "Listrik dari PLN belum masuk ke desa. Masyarakat di sini untuk beraktivitas di malam hari menggunakan jenset, tetapi tidak setiap hari, tergantung persedian bensin yang dibeli masyarakat di kota. Harga bensin sekitar Rp15.000 - Rp20.000 per liter," imbuhnya.

Lalu kapan bertemu Bupatinya?
"Saya bertemu Bupati baru tanggal 9 September 2016, waktu saya turun ke kota untuk laporan bulanan."

Kapan mulai pembangunan PLTS-nya?
"Mulai pembangunan PLTS dari bulan Juni 2016. Kontraktor yang memenangkan tender PLTS sudah datang lebih awal. Kondisinya masih dalam pembangunan sipil, seperti pembangunan rumah shelter/rumah pembangkit."

Membutuhkan waktu berapa lama untuk membangunnya?
"Waktu pembangunan sekitar 5 bulanan, sampai listrik benar-benar menyala awal November 2016 lalu."

Apa yang menjadi tantangan dalam membangun PLTS di sana?
"Sebenarnya waktu penyelesaian pembangunan PLTS bisa lebih cepat, namun kendala ekspedi pengirimin barang-barang komponen PLTS mengalami keterlambatan. Jadi banyak waktu kosong menunggu barang PLTS (dalam hal ini baterai)."

"Kendala sosial, hampir minim sekali di penempatan Saya. Masyarakatnya turut aktif dan kooperatif selama ini, paling hanya perlu kegigihan, pengawasan untuk membangun komitmen para organisasi pengurus dan pengawas PLTS kampung yang kita bentuk bersama-sama masyarakat. Dan rajin-rajin mengulang pelatihan teknis dan managerial operator dan pengurus PLTS yang berasal dari orang lokal."

So far, alhamdulillah, saya mendapatkan tugas di kampung yg tidak begitu luas, penyebaran rumahnya rapi, penduduknya yang solid, karena hampir sebagian dari penduduk yang menempati dusun adalah penjabat pemerintahan kampung (desa) dan distrik (kecamatan), jadi mengurus apapun apalagi yang berhubungan dengan pemerintahan kampung lebih mudah.

Setelah terpasang, listrik menyala berapa jam?
"24 Jam, pokoknya setiap rumah per hari mendapat jatah pasokan listrik sekitar 300 Watt hours (wh), seperti sistem pulsa. Tapi alhamdulillah, masyarakat kampungku memang memanfaatkan listrik dengan baik dan bijak sekali. Pada malam hari saja rata-rata, itu aja masih dihemat-hemat. Rata-rata pemakaian liatrik di desaku cuma 10-20% perhari dari kapasitas baterai 100%. Jadi masih tersisa banyak, sampai tumpah-tumpah," guyonnya.

Lalu, reaksi warga setelah ada liatrik seperti apa?

Selain bisa beraktivitas di malam hari buat anak-anak belajar, kegiatan di balai desa menjadi aktif. Apalagi desa yang aku tempati desa paling produktif dan dirasa cukup maju. Soalnya pemerintahan kabupaten atau provinsi suka mengadakan seminar, penyuluhan, pengembangan, acara-acara produktif di bidang kesehatan, pertanian dan perkebunan, dsb. "Jadi udah bisa pakai mic dan speaker. Enggak usah ngomong pakai toa lagi," ujarnya.

Selain itu, masyarakat bisa dapat hiburan nonton televisi dan setel musik Papua. Ia berharap, semoga hibah PLTS untuk daerah terpencil, terdalam, terluar dan terdepan yang diberikan pemerintah dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, baik sekarang maupun kedepannya.

"Masyarakat mampu memanfaatkan dengan baik dan bijak dan mampu menjaga dan merawatnya dengan baik sehingga dapat dimanfaatkan dalam waktu yg panjang dan berkelanjutan. Yang penting anak-anak bisa lebih giat belajar di malam hari," tandasnya. (GF)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button