NEWS
Trending

Laba Bersih PLN 2017 Turun Akibat Kenaikan Harga Bahan Baku

Laba Bersih PLN 2017 Turun Akibat Kenaikan Harga Bahan Baku
Foto: R Akmal/Listrik Indonesia
Listrik Indonesia |  PT PLN (Persero) berhasil membukukan laba bersih sepanjang tahun 2017, pencapaian laba bersih PLN selama satu tahun di 2017 sebesar Rp 4,42 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan laba PLN pada periode tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 8,15 triliun. Penurunan laba terjadi dikarenakan adanya kenaikan biaya energi primer batu bara. Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir saat konferensi pers di Kantor PLN Pusat, (28/03).

Sofyan menambahkan, harga batu bara sempat mengalami kenaikan yang signifikan sejak akhir 2016, padahal sekitar 58% produksi listrik PLN berasal dari energi primer tersebut.

"Tahun 2017, biaya pokok produksi PLN naik sebesar Rp 16,46 triliun. Hal terebut diakibatkan adanya kenaikkan harga batubara yang menyesuaikan dengan harga batu bara acuan (HBA) pasar," terang Sofyan.

Ia menuturkan, selama tahun 2017, kondisi makro mempengaruhi tarif tenaga listrik, hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 18 tahun 2017 yaitu Kurs Dolar Amerika, Indonesia Crude Price (ICP), atau Inflasi mengalami kenaikan dibanding dengan acuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Untuk itu, PLN berhasil mempertahankan tarif serta mengendalikan biaya pokok penyediaan (BPP) di tengah perubahan asumsi makro, serta kenaikan harga gas dan batu bara tersebut.

"Melalui usaha efisiensi yang terus beerlanjut, salah satunya dengan penurunan fuel mix BBM, tarif listrik tidak mengalami kenaikan sejak 2015 silam, sehingga hal ini tidak menambah beban pelanggan, hal ini dilakukan semata-sama demi menjaga agar industri dan bisnis tetap kompetitif," imbuhnya.

Pihaknya terus berupaya menekan BPP meskipun subsidi listrik menurun dan tidak adanya kenaikan tarif listrik.

Sejumlah langkah efisiensi-efisiensi operasional PLN tersebut membantu keuangan PLN untuk tetap dalam kondisi sehat. Dalam kurun waktu 2015-2017, secara Komulatif penambahan pinjaman PLN sebesar Rp 83,6 triliun, angka tersebut jauh lebih rendah dibanding tambahan penyerapan investasi sebesar Rp 190,7 triliun.

"Selama tiga tahun terakhir (2015-2017), PLN berhasil memberikan kontribusi fiskal kepada negara sebesar Rp 239,5 triliun, yang terdiri dari peningkatan pajak dan dividen sebesar Rp 96 triliun dan penghematan subsidi sebesar Rp 143,5 triliun," katanya.

Lebih jauh ia mengatakan, berbagai upaya peningkatan pelayanan telah dilakukan oleh PLN umtuk memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat dalam mendapatkan listrik.

Hal ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke-38 pada 2018 dalam Getting Electricity sebagaimana hasil survei terkait Ease of Doing Business (EODB) yang dilakukan oleh World Bank.

"Kontribusi PLN dalam Getting Electricity membuat peringkat Indonesia dalam EODB meningkat menjadi ke posisi 72 dari 190 negara," tutupnya. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button