ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Listrik Melimpah Jadi Magnet Positif Untuk Investor

Listrik Melimpah Jadi Magnet Positif Untuk Investor
Listrik yang melimpah yang disediakan PLN menjadi magnet positif bagi investor.

Listrik Indonesia | Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyambut baik keinganan Menteri BUMN, Erick Tohir untuk mendorong pelaku usaha dalam menggunakan pasokan listrik dari PT PLN (Persero) dengan dengan membatasi pemberian izin usaha penyediaan listrik dan captive power. Pasalnya, listrik yang melimpah yang disediakan PLN menjadi magnet positif bagi investor.

“Kurang tepat bila ada yang bilang surat itu akan berekses kepada penurunan persepsi risiko investasi secara umum. Justru pantauan kami persepsinya positif. Sebab, dulu itu, ketika investor mau masuk dia tanya ada listriknya enggak. Sekarang, listriknya melimpah di PLN. Tinggal cantolin masuk ke sistem, terus kirim ke pabriknya. Artinya, ada kemajuan akses listrikan di ease of doing businessnya,” ujar Komite Investasi BKPM Rizal Calvary Marimbo, dalam keterangannya, Selasa (13/10).

Dalam kemudahan berusaha, katanya, sudah seharusnya pemerintah mendukung utilisasi daya yang oversupply di PLN. Dalam beberapa tahun ke belakang, katanya, tingkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EODB) Indonesia terus membaik. Salah satu kontributornya adalah peringkat kemudahan akses listrik yang terus membaik. 

“Bank Dunia menyoroti sejumlah faktor yang mendukung kemudahan bisnis di Indonesia antara lain proses untuk memulai bisnis, urusan perpajakan,  kegiatan perdagangan lintas batas dan kemudahan akses listrik. Saya baru ngobrol-ngobrol sama investor Malaysia. Dia bilang, baru extension pabriknya di Subang, sebab listrik sudah ada di PLN. Kalau dia bangun sendiri 2-5 MW misalnya, biaya investasinya besar lagi. Justru dia pakai listrik yang eksisting malah efisien,” kata Rizal.

Melimpahnya pasokan listrik dari PLN ini, tegasnya, akan mempercepat investasi secara keseluruhan. Sebab daya listrik sudah ada, sehingga investor tidak perlu lagi menginvestasikan dananya untuk membangun pembangkit baru.

“Buat apa bangun pembangkit baru. Apalagi biaya investasi bangun pembangkit biasanya sampai 70% dari total investasi. Pabriknya sudah ada tapi listrik belum ada. Sebab tunggu pembangkit yang masih sedang dibangun. Tinggal tugas PLN adalah bagaimana menjaga kehandalan layanan listriknya,” ucapnya.

Diakuinya, dampak pandemi covid-19, konsumsi listrik mengalami kontraksi sebesar -7,06%. Diprediksi sampai akhir tahun -6,25%. Rizal menyebut, konsumsi listrik, pertumbuhan ekonomi dan investasi saling terkait. Penurunan investasi, katanya, lebih disebabkan krisis Covid yang terjadi hampir merata diseluruh dunia, baik di negara asal investasi (home country) juga negara tujuan investasi (host country).

“Semua saling terkait. Ekonomi dunia, kawasan, nasional turun, maka industri juga turun dengan sendirinya. Ini efek domino atau force majeure. Daya beli masyarakat dan konsumsi listrik juga menurun,” pungkas Rizal. (pin)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button