Memahami Eropa dan Amerika Serikat Mencapai Ketahanan Energi

Memahami Eropa dan Amerika Serikat Mencapai Ketahanan Energi

Listrik Indonesia | Banyak negara maju mengubah strategi mereka untuk memenuhi kebutuhan energi pasca konflik Rusia-Ukraina yang mulai terjadi pada akhir tahun 2021.  Uni Eropa mulai menyadari bahwa masa transisi energi menuju net zero emission memerlukan waktu dan energi fosil belum bisa tergantikan paling tidak untuk 30 tahun ke depan. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sudah dipensiunkan,  kembali dioperasikan akibat energi yang berasal dari angin dan matahari belum mampu memenuhi kebutuhan setelah pandemi. Tahun 2022 Jerman menghidupkan kembali PLTU sekitar 9 GW.

Dalam tulisannya Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Krisis energi yang terjadi di Eropa berdampak pada mahalnya harga batu bara dan gas yang sangat dibutuhkan pada saat musim dingin. Naiknya harga energi lantas mendorong inflasi tinggi dan menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok meroket. Subsidi yang selama ini digunakan untuk membantu renewable energy bisa berkembang dengan baik dialihkan ke subsidi energi fosil. Inilah realita yang harus diterima oleh Uni Eropa.

Bagaimana dengan Amerika Serikat (AS)? Sampai hari ini AS mampu mencukupi kebutuhan energi mereka terutama untuk gas. Untuk minyak mentah sebagian masih impor. Perlahan tapi pasti, inovasi dalam pengelolaan shale oil dan shale gas, telah mampu menjadikan AS sebagai negara produser minyak dunia mengalahkan Arab Saudi. Sewaktu Presiden Biden dilantik menjadi presiden, produksi minyak AS sekitar 11 juta barrel per day (BOPD). Tahun 2022 meningkat menjadi 12 juta BOPD dan tahun 2023 akan naik lagi menjadi 13 juta BOPD.

Angka tersebut merupakan rekor terbaru dalam sejarah perminyakan AS dan merupakan salah satu langkah strategis yang dijalankan AS untuk mencapai ketahanan energi mereka. Belum ada tanda-tanda AS akan mengurangi kegiatan eksplorasi dan produksi migas paling tidak untuk 10 tahun kedepan. Selain fokus untuk mengembangkan shale oil dan shale gas, strategi apa lagi yang sedang dan telah dilakukan oleh AS agar krisis energi di Eropa tidak terjadi di AS?

Pertama, Presiden Biden merevisi janji saat kampanye presiden yang akan yang membatasi kegiatan eksplorasi dan produksi migas kalau terpilih. Sebagai presiden yang berasal dari partai Demokrat dan mempunyai platform pro terhadap renewable energy, keputusan Biden untuk mendorong lebih banyak produksi minyak mentah mencengangkan banyak pihak. Langkah berani presiden Biden ini dibuktikan dengan mengijinkan ConocoPhillips untuk memulai Willow project di Alaska yang merupakan wilayah cadangan minyak nasional yang sudah lama terlarang untuk kegiatan oil and gas.

Serangan dari kolega Presiden Biden dari partai Demokrat akibat dari keputusan ini, tidak menggoyahkan semangat pemerintah AS untuk mencapai ketahanan energinya. Kebijakan Biden juga mendapat serangan dari para aktivis lingkungan yang mempertanyakan komitmen Presiden Biden terhadap climate change yang sedang terjadi. Inilah dilema yang dihadapi tidak saja di negara berkembang tapi juga di negara maju.

Disatu sisi rakyat membutuhkan energi murah, tapi disisi lain tekanan dari aktivis lingkungan untuk menjaga temperatur bumi agar tidak naik juga perlu dipertimbangkan. Apakah bisa dikatakan bahwa kepentingan untuk mencapai ketahanan energi telah mengalahkan isu lingkungan?

Kedua, mengatur strategi kapan melepas dan mengisi Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan minyak AS. Pada saat harga minyak mentah dunia tinggi, biasanya pemerintah AS akan melepas cadangan ini ke pasar agar harga bisa terkendali. Strategi ini beberapa kali mampu membuat harga minyak di US tidak melonjak tajam.

SPR di AS besarnya sekitar 400 juta barrel dan yang terbesar di dunia. Dengan rata-rata impor minyak mentah sekitar 6 juta BOPD, maka SPR ini akan bertahan sekitar 67 hari kalau digunakan semuanya untuk menutup impor. Yang menarik adalah bagaimana mengisi kembali SPR yang sudah dilepas ke pasar. Tidak dapat dipungkiri, hal ini memerlukan strategi khusus dan keberanian dari pemerintah AS untuk mengambil resiko kedepan.

Inti dari strategi ini adalah bagaimana membeli harga minyak mentah sewaktu diperlukan untuk mengisi SPR dengan harga lebih murah dibandingkan saat minyak dilepas. Caranya? Pemerintah AS lewat Department of Energy (DOE) membuat aturan akan membeli minyak mentah apabila harga West Texas Intermediate berkisar antara $67 dan $72 per barrel atau dibawah itu. Supplier diundang untuk mengikuti competitive bid dengan harga kontrak yang fix (fixed price) dengan delivery windows ke depan.

Ini sebuah terobosan yang belum pernah ada sebelumnya. Tentu berisiko berkontrak dengan fixed price yang penyerahan barangnya di kemudian hari. DOE akan mengalami kerugian apabila harga kontrak lebih tinggi daripada harga pasar pada saat delivery. Sebaliknya akan mendapat untung apabila harga kontrak lebih rendah daripada saat harga pasar delivery. Sepintas resiko yang dinarasikan diatas benar adanya. Tapi kami melihat logika berpikir yang berbeda dengan strategi DOE ini.

Apa itu? Sewaktu SPR dilepas ke pasar, DOE akan memastikan harga jualnya lebih tinggi dari $72 per barrel. Dengan harga jual ini DOE masih mendapatkan keuntungan karena harga beli dibawah $72 per barrel. Jadi resiko dihitung bukan dengan cara membandingkan dengan harga pasar saat delivery tapi dengan harga jual sewaktu SPR dilepas ke pasar.

Pertanyaan selanjutnya, dari mana DOE bisa menetapkan harga pembelian minyak mentah sekitar $67 dan $72 per barrel? Secara pasti tentu DOE sendiri yang mengetahuinya, tapi beberapa alasan yang mungkin bisa memperkuatnya adalah:

Pertama, biaya produksi minyak mentah dari shale oil berkisar antara $40 dan $50 tergantung lokasi, infrastruktur dan lain-lain. Selain shale oil, penyumbang produksi terbesar di AS berasal dari lapangan di teluk Meksiko (Gulf of Mexico) yang biaya produksinya tidak jauh berbeda dengan shale oil. Dengan harga beli untuk mengisi SPR dalam kisaran $67 dan $72 per barrel maka producer masih punya margin keuntungan yang sehat.

Kedua, OPEC+ berusaha untuk tahun 2023 ini menahan harga minyak mentah di kisaran antara $75 sampai $90 per barrel. Artinya harga minyak kedepan diperkirakan akan lebih tinggi dari $72 per barrel. Dengan demikian resiko kerugian yang akan diderita oleh DOE kecil. Mungkin ada yang bertanya apakah ada supplier atau producer yang mau menjual minyak mentah mereka dengan fixed price kedepan? Sepertinya DOE sangat percaya akan ada supplier yang ikut competitive bid ini.

Kenapa mereka mau? Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Salah satunya adalah adanya kepastian order dengan volume dan harga yang menguntungkan. Jadi supplier bisa menghemat waktu dan tenaga tanpa harus menjual lewat pasar komoditi yang harganya fluktuatif.

Inilah sedikit sharing dari kami tentang bagaimana Amerika Serikat memperkuat ketahanan energi mereka. Langkah cerdas dengan resiko terukur dan didukung keberanian mengambil strategi yang tidak popular baik dari partai sendiri maupun dari aktivis lingkungan untuk menghindarkan AS dari krisis energi. Paling tidak sampai saat ini. Semoga bermanfaat dan jadi bahan diskusi yang hangat.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

Berita Lainnya

Index