Indexs Berita Electricity System MEGA PROJECT NEWS
Trending

Menakar Untung & Rugi PLN di Tengah Pandemi

Menakar Untung & Rugi PLN di Tengah Pandemi
Listrik Indonesia | Listrik menjadi kebutuhan sehari-hari, menjadi barang modal, menjadi kebutuhan vital. Listrik sudah menjadi kebutuhan pokok. Di zaman yang serba digital ini, listrik menjadi faktor utama sehingga konsumsi listrik sudah pasti meningkat.

Pandemi Covid-19 sejak awal Maret 2020 cukup memberikan dampak terhadap konsumsi listrik, terutama pelanggan industri dan bisnis.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan aktivitas industri dan bisnis sempat tersendat dalam beberapa bulan. Hal ini membuat penurunan konsumsi listrik di kedua sektor tersebut.

Sebaliknya, konsumsi rumah tangga justru bertumbuh di tengah pandemi. Setidaknya penurunan konsumsi listrik pelanggan industri dan bisnis sedikit bisa ditutup dari pertumbuhan konsumsi sektor rumah tangga.

Hal ini bisa terligat dari penjualan tenaga listrik PLN sampai kuartal III/2020 (Januari-September 2020) sebesar 181,64 TWh tumbuh 0,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 180,57 TWh.

Sementara itu, nilai penjualan tenaga listrik PLN sampai dengan September 2020 mencapai Rp205,1 triliun tumbuh 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp202,7 triliun.

Baik volume maupun nilai penjualan listrik PLN ternyata masih bisa bertumbuh.

Bahkan, secara keseluruhan, selama TW III tahun 2020, PLN mampu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp212,2 triliun tumbuh 1,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang membukukan pendapatan usaha sebesar Rp209,3 triliun.

Kenaikan pendapatan ini tentu menjadi sinyal positif. Artinya, bisnis PLN masih cukup kinclong di tengah penurunan kinerja sebagian perusahaan saat ini.

Demikian juga dengan jumlah pelanggan PLN, ternyata masih bertumbuh. Padahal, sebagian perusahaan mengalami penurunan jumlah pelanggan di tengah pandemi.

Penambahan pelanggan itu turut berkontribusi atas peningkatan pendapatan perseroan. Selain ditutup dari kenaikan konsumsi listrik rumah tangga, penurunan konsumsi listrik industri dan bisnis juga ditutup oleh penambahan pelanggan.

Peningkatan penjualan tenaga listrik didorong adanya pertumbuhan jumlah pelanggan perseroan menjadi sebanyak 77,9 juta hingga 30 September 2020 atau meningkat sebesar 3,4 juta pelanggan dibandingkan dengan posisi 30 September 2019 sebesar 74,5 juta pelanggan.

Peningkatan penjualan listrik pada sektor rumah tangga dan industri pertanian serta industri UMKM ikut mendorong pertumbuhan penjualan yang positif.

Pendapatan meningkat, pelanggan bertambah, sebuah kinerja yang sangat kinclong di tengah kinerja hampir seluruh perusahaan lainnya terpuruk.
 
Lalu bagaimana dengan profit?

Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (EBITDA) perusahaan sampai dengan triwulan 3 tahun 2020 sebesar Rp55,9 triliun dengan EBITDA Margin sebesar 22,5 persen.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti di masa pandemi, perseroan tetap terus melakukan upaya efisiensi biaya usaha. Selama TW III tahun 2020, Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik (BPP) perseroan sebesar Rp1.340 per kWh. Angka ini lebih rendah Rp48 per kWh atau 3,4 persen dibandingkan BPP di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.388 per kWh.

Wajar saja jika BPP turun. Bahkan, seharusnya BPP listrik bisa turun lebih signifikan karena harga energi primer turun drastis, inflasi stabil, dan kurs rupiah hanya terjadi gejolak pada Maret-April 2020.
 
Lalu kenapa PLN rugi? Padahal, cost turun, pendapatan naik, pelanggan naik. PLN beralasan terjadi rugi kurs. Dalam APBN 2020, kurs rupiah ditetapkan Rp14.400 per US$, sedangkan rerata selama Januari-September 2020 di kisaran Rp14.000 per US$. Seharusnya tidak rugi kurs.

Persoalannya adalah piutang pemerintah kepada PLN tidak dibayar segera sehingga perseroan mengalami masalah arus kas.

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button