Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

NUKLIR & PLTT: Bukan Lagi Last Option, Tapi Viable Option

NUKLIR & PLTT: Bukan Lagi Last Option, Tapi Viable Option
Anggota DEN 2020 - 2025 Satya W. Yudha.

LISTRIK INDONESIA | Tren global dalam transisi energi bersih tidak terelakkan lagi. Menjadi sebuah keniscayaan. Namun, keterjangkauan (affordability) tarif energi bersih menjadi sebuah faktor penting, terutama di negara emerging market seperti Indonesia yang masih membutuhkan energi sebagai pendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Indonesia diharapkan bisa menyediakan suplai energi yang andal (reliability), harga yang terjangkau dan efisien (affordability) serta bersih (clean). Indonesia harus mengikuti tren global dalam menuju energi bersih sekaligus menjadi pemicu bagi pertumbuhan ekonomi. Bukan sebaliknya, persepsi selama ini yang berkembang di publik bahwa energi bersih itu mahal. Buat apa bersih jika harus membebani negara dan masyarakat dalam jangka panjang.

Hal ini perlu menjadi pertimbangan matang pemerintah dalam mencapai target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) 23% pada 2025.

Salah satu energi baru yang efisien dan bersih adalah nuklir atau thorium (pembangkit listrik tenaga thorium/PLTT). Selama seluruh persyaratan utama, yaitu keamanan dan keselamatan serta teknologi yang sudah terbukti (proven), nuklir bukan lagi sebagai pilihan terakhir (last option), tetapi menjadi opsi yang layak dikembangkan (viable option).

Anggota Dewan Energi Nasional 2020 – 2025 Satya W. Yudha menjelaskan bawah Kebijakan Energi Nasional (KEN) memperbolehkan pengembangan nuklir di Indonesia, tetapi ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dulu. Salah satu persyaratan itu, katanya, penggunaan teknologi yang sudah terbukti (proven technology) dan teknologi tersebut mendapatkan sokongan (endorsement) dari lembaga kredibel yang memahami teknologi nuklir.

“Persyaratan itu [proven technology & endorsement dari lembaga kredibel] harus ditempuh. Itu semua harus bisa ditunjukkan. Seperti disampaikan Pak Presiden bahwa keberadaan nuklir dapat menjadi opsi, setelah mereka [pengembang nuklir] membuktikan bahwa teknologinya sudah proven dan dapat endorsement,” ujarnya kepada Listrik Indonesia di Hotel JS Luwansa, Jumat (26/2/2021).

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI periode 2014 – 2018 ini menegaskan bahwa semua pihak tidak ingin Indonesia hanya menjadi ajang uji coba dalam pengembangan nuklir dan thorium karena memiliki risiko besar. Oleh karena itu, berbagai persyaratan tersebut menjadi mutlak untuk dipenuhi terlebih dulu.

“Jika itu [persyaratan] bisa dilalui kemudian mendapatkan sertifikat dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), maka sudah merupakan jalan [menuju pengembangan thorium di Indonesia],” kata pria yang expert dalam bidang geopolitik dan ekonomi energi ini.

Satya menambahkan, Indonesia memiliki tiga fase dalam pengembangan nuklir. Fase pertama, lanjutnya, memiliki 19 item persyaratan. Saat ini, Indonesia sudah mampu memenuhi 16 item persyaratan tersebut sehingga tinggal menuntaskan 3 item lagi.

Menurutnya, setelah 19 item itu terpenuhi seluruhnya, masuk ke fase dua, yaitu mulai uji coba pengembangan nuklir. Kemudian masuk ke fase tiga, yaitu pengembangan nuklir/thorium secara komersial.

Menurutnya, berdasarkan ketentuan IAEA, untuk menyelesaikan 3 item di fase pertama bisa memakan waktu hingga 15 tahun. Namun, hal itu bisa dipersingkat jika terus melakukan uji coba, seperti yang dilakukan ThorCon International Pte. Ltd. sampai mendapatkan pengakuan dari lembaga riset nuklir internasional dan IAEA yang menegaskan bahwa teknologinya sudah proven.

“Secara regulasi [pengembangan nuklir di Indonesia] diperbolehkan, tetapi ada persyaratan itu. Kemudian terminologi last option ini bisa misleading [menyesatkan], seharusnya viable option, yaitu opsi yang bisa diambil. Nah, untuk menjadi viable option, ada persyaratan,” tutur pria yang juga sebagai Dewan Juri Indonesia Best Electricity Award (IBEA) ini.

Satya menegaskan bahwa Indonesia masih memberikan subsidi listrik sehingga harga listrik yang efisien akan mengurangi beban subsidi. “Thorium ini energi bersih, tarifnya bisa efisien, dengan reaktor kecil bisa menghaislkan power besar, yang penting persyaratan keselamatan dan teknologi proven harus dipatuhi,” kata pria jebolan Strata 1 Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Magister Cranfield University School of Industrial and Manufacturing Science di Bedford, Inggris ini.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button