Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

Panel Surya Solusi Kebutuhan Energi Masa Depan Indonesia?

Panel Surya Solusi Kebutuhan Energi Masa Depan Indonesia?

 

Listrik Indonesia | Panel surya akhir-akhir ini digadang-gadang dapat menjadi solusi bagi bumi pertiwi sebagai pembangkit listrik masa depan yang ramah lingkungan, atas keunggulan teknologi tersebut yang nihil membuang gas rumah kaca, serta menyandang predikat Energi Baru Terbarukan.

 

Namun predikat tersebut tidaklah cukup untuk menjadi solusi bagi kebutuhan listrik yang akan terus meningkat dimasa depan.

 

Kebutuhan energi merupakan salah satu tantangan besar bagi Indonesia untuk saat ini dan masa depan, pemanasan global yang semakin memburuk dari masa ke masa adalah faktor yang membuat para ilmuwan dan insinyur menjadikannya dasar dalam mengembangkan teknologi pembangkit daya yang ramah lingkungan.

 

Poin penting berupa tantangan pemanasan global ini seakan memberikan sebuah paradoks, pasalnya Sebagian besar teknologi ramah lingkungan yang diandalkan pada saat ini, seperti PLTS atau PLTB, belum mampu menggantikan PLTU sebagai penyuplai energi dengan skala besar, dengan kata lain, teknologi dengan predikat ramah lingkungan berbanding terbalik dengan factor kapasitas daya yang dibangkitkannya.

 

Lalu, apa yang Indonesia butuhkan dimasa depan?, sebelum pertanyaan itu terjawab, kita tinjau apa tujuan serta arah energi Indonesia yang tercantum pada Rencana Umum Energi Nasional 2050, disitu tercantum bahwa Indoensia akan menjadikan persentase yang dibangkitkan dari pembangkit EBT sebesar minimal 31%, lebih besar dari persentase pembangkit berbahan bakar batubara dan minyak bumi. Namun apakah energi surya akan menjadi andalan untuk menggantikan sebagian posisi energi batubara yang selama ini membangkitkan energi yang sangat besar?

 

Sementara itu, kapasitas faktor panel surya sangatlah kecil, bahkan kurang dari 30%, membuat panel surya menjadi teknologi yang tidak dapat diandalkan, karena panel surya sangat bergantung pada keadaan langit dan cuaca, hal ini menjadikan panel surya memiliki fluktuasi stabilitas frekuensi yang besar, yang berimbas pada operasi jaringan listrik yang mahal, ditambah meningkatnya kerentanan blackout pada jaringan, selain itu panel surya membutuhkan area yang sangat luas sedangkan ketersediaan lahan akan semakin menyempit dimasa depan, belum lagi panel surya memiliki siklus hidup yang pendek bagi sebuah teknologi pembangkit listrik (15 – 20 tahun).

 

Dalam beberapa kondisi, panel surya memiliki potensial besar dalam pembangkitan energi skala kecil, atau yang biasa diiklankan pada masyarakat, yaitu pemberdayaan teknologi panel surya untuk konsumsi energi mandiri. Namun yang tidak kita semua sadari adalah, keberadaan panel surya dalam konsumsi energi mandiri ini, justru memperburuk keadaan jika tidak disandingkan dengan regulasi yang jelas tentang penggunaan panel surya untuk kebutuhan konsumsi energi mandiri.

 

Pasalnya hal ini dapat berimbas pada kenaikan tarif energi yang harus dibayar masyarakat. Energi yang dihasilkan dari panel surya akan menggantikan sebagian kapasitas energi yang disuplai oleh distribusi listrik PLN, menjadikan suplai yang diberikan pada unit yang juga memakai panel surya mengalami oversupply. Sedangkan kelebihan yang diterima pada unit tersebut tidak dapat dikurangi, atau dengan kata lain digantikan oleh pasokan listrik panel surya, sehingga suplai listrik unit tersebut menjadi normal. Ditambah lagi regulasi yang mengatakan bahwa jika jumlah energi listrik yang diekspor lebih besar dari yang diimpor pada bulan berjalan, selisih akan iakumulasikan

dan diperhitungkan sebagai pengurang tagihan listrik pada bulan berikutnya (PERMEN ESDM No. 49/2018), hal ini membuat oversupply yang dialami PLN dari pemasangan PLTS atap memberikan kerugian yang harus ditanggung oleh PLN.

 

Kembali kepada, apa yang Indonesia butuhkan dimasa depan? Dalam tantangan pemanasan global, peningkatan industri dan kebutuhan listrik, serta penipisan lahan, kita butuh teknologi pembangkit baru yang memiliki beberapa faktor diantaranya:


Kerapatan energi yang besar, kerapatan energi adalah sebuah potensi energi yang dapat dihasilkan dan disimipan dengan lahan dan ketersediaan material bahan bakar yang terbatas, semakin besar kerapatan energi, maka artinya semakin besar sebuah penyimpanan cadangan energi yang tersedia dengan satuan luas daerah atau ketersediaan bahan bakar yang kecil. Hal ini tidak dapat dimiliki PLTS sebagai pembangkit berskala besar, karena pasalnya PLTS membutuhkan lahan berkisar 1.37 hektar untuk membangkitkan 1 GWh listrik.

 

Dalam beberapa kasus pada tahun 2016 yang diberitakan media di Amerika serikat, di bagian utara Amerika setidaknya terdapat 140.000 - 328.000 burung di kabarkan mati akibat terkena baling kincir angin yang sedang beroperasi dan juga terkecoh oleh warna panel surya di ladang yang disangka lautan lepas (Daniel Oberhaus, 2020).

 

Dan yang paling utama, adalah ketahanan, kestabilan dan keberlanjutan teknologi tersebut dalam beroperasi membangkitkan listrik. Tentu saja faktor ini tidak dapat dipenuhi oleh PLTS atap, pasalnya, teknologi PLTS atap sangat bergantung pada cuaca, serta keberadaan cahaya matahari yang tidak pernah menentu setiap waktu, ketahanan dan keberlanjutan merupakan faktor yang sangat krusial dalam sebuah teknologi pembangkit listrik, sebab pembangkit listrik sangat berpengaruh bagi kegiatan ekonomi yang harus terus berjalan untuk kesejahteraan masyarakat.

 

Dari faktor-faktor tersebut, untuk memenuhi kebutuhan listrik yang dibutuhkan pada masa depan, Indonesia memiliki beberapa opsi yang lebih realistis dalam memenuhi kebutuhan listrik dalam pembangunan nasional untuk masa depan. Sebagai contoh, PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), Energi panas bumi lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber bahan bakar konvensional seperti batu bara dan bahan bakar fosil lainnya. Selain itu, jejak karbon pembangkit listrik tenaga panas bumi rendah.

Meskipun ada beberapa polusi yang terkait dengan energi panas bumi, ini relative minimal jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Energi panas bumi merupakan sumber energi terbarukan yang akan bertahan hingga Bumi dihancurkan oleh matahari dalam waktu sekitar 5 miliar tahun. Panas bumi menyediakan sumber energi yang andal dibandingkan dengan sumber daya terbarukan lainnya seperti angin dan tenaga surya. Ini karena sumber daya selalu tersedia untuk dimanfaatkan, tidak seperti energi angin atau matahari.

 

Selanjutnya, PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), Energi hidroelektrik dapat diperbarui. Yang berarti tidak bisa habis selama aliran air/arus pada pembangkit ada. Namun, hanya ada sejumlah waduk yang sesuai di mana pembangkit listrik tenaga air dapat dibangun. Menghasilkan listrik dengan energi hidro tidak mencemari lingkungan. Pencemaran hanya terjadi selama pembangunan pembangkit listrik. Tenaga air adalah energi yang sangat andal.

 

Ada sangat sedikit fluktuasi dalam pembangkita daya listrik yang dihasilkan oleh pembangkit. Kemudian, yang menurut kami paling andal, dalam menggantikan posisi pembangkit listrik batu bara, untuk produksi listrik skala besar berkelanjutan adalah, PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), kebutuhan listrik yang besar dan terus-menerus meningkat di Indonesia seperti halnya rutinitas harian anda yang banyak bergantung pada energi.

 

Kami percaya tenaga nuklir memiliki cukup banyak hal positif untuk menjadi bagian dari solusi, mampu membuat kita tetap berkuasa dan berbaik hati kepada planet ini. Meskipun pembangkit listrik tenaga nuklir membutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangunnya, mereka memiliki biaya operasional yang rendah dan umur panjang - yang berarti mereka sangat hemat biaya. Sebagian besar emisi karbon dioksida (CO2) yang terkait dengan pembangkit listrik tenaga nuklir terjadi selama konstruksi dan pemrosesan bahan bakar, bukan saat listrik dihasilkan.

 

Pembangkit listrik tenaga nuklir beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Mereka dirancang untuk beroperasi lebih lama dan mengisi bahan bakar setiap 1,5 - 2 tahun. Pada tahun 2018, pembangkit listrik tenaga nuklir beroperasi dengan daya penuh lebih dari 93% sepanjang waktu, menjadikannya sumber energi paling andal di jaringan listrik di dunia saat ini.

 

Penempatan nuklir sebagai solusi terakhir di dalam Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) bukan berarti menempatkan nuklir pada pilihan terakhir ketika sumber energi listrik murah seperti batu bara dan minyak telah habis.

 

Penggunakan lahan untuk pembangunan PLTN jika dibandingkan dengan pembangkit listrik lain jauh lebih kecil, sebagai contoh pada PLTA Saguling dengan kapasitas daya pembangkit 700MW membutuhkan kurang lebih 5000 hektar lahan sementara sebuah PLTN di California bernama Diablo Canyon Power Plant dengan daya pembangkit 2256MW hanya membutuhkan lahan sekitar 80 hektar saja. Apalagi dengan adanya rencana pembangunan sebuah pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT) jenis TMSR-500 yang akan digarap oleh Thorcon yang berdaya 2060MW hanya memerlukan lahan sekitar 5 hektar, dan belum lagi konsep pembangunan yang ditempatkan pada kontainer kapal yang membuat teknologi PLTN semakin andal dan realistis untuk dibangun di Indonesia.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button