Business CORPORATION NEWS
Trending

Paradoks Pengelolaan Energi, Konsumsi Listrik Di Indonesia Tertinggal Jauh

Paradoks Pengelolaan Energi, Konsumsi Listrik Di Indonesia Tertinggal Jauh
Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said. (foto: net)

Listrik Indonesia | Konsumsi listrik di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain. Bukan hanya di dunia, bahkan di Asia Tenggara sekalipun. Hal ini disampaikan Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, di Jakarta, Selasa (13/10).

“Data Badan Pusat Statistik 2019 menunjukkan angka 1.084 kWh per kapita, bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 4.232 kWh per kapita. Dibandingkan de ngan negara maju, konsumsi energi per kapita Indonesia kira-kira 3/36 dari Amerika Serikat, 4/36 dari Korea Selatan, dan 4/36 dari Jerman. Keadaan ini dapat dikatakan sebagai sebuah paradox pengelolaan energi,” ujar Sudirman yang juga Mantan Menteri ESDM ini.

Paradoks pengelolaan energi, ungkapnya, bukan tanpa sebab. Dahulu Indonesia adalah eksportir energi, kini telah menjadi importir. Keadaan telah berubah, namun suasana bahwa Indonesia sebagai negeri yang berlimpah minyak dan gas bumi, seperti tetap bertahan.

“Kita mengetahui bahwa puncak produksi minyak bumi dan gas Indonesia itu terjadi pada tahun 2008, setelah itu, produksi terus menurun hingga kini. Sementara sejak 2004, laju konsumsi minyak telah melampaui produksi. Hal ini berarti bahwa peningkatan konsumsi energi akan berpotensi mengganggu neraca dagang nasional,” katanya.

Sekretaris Jenderal PMI ini menegaskan, besarnya kebutuhan valuta asing digunakan untuk membiayai impor minyak. Keadaan ini, ucapnya, sering kali menekan nilai tukar rupiah, terutama di saat harga minyak dunia mengalami kenaikan. Saat ini bauran energi, masih didominasi bahan bakar fosil, di mana cadangan terus menipis, dan pada waktunya akan habis. Jika sumber energi fosil masih terus di pertahankan, mustahil dapat dicapai langkah pemerataan akses yang dibarengi dengan peningkatan konsumsi energi per kapita.

“Patut dicatat di sini bahwa tingginya konsumsi energi per kapita, bukan berarti masyarakat menggunakan energi secara jorjoran. Tingginya tingkat konsumsi adalah penanda bahwa kegiatan ekonomi produktif yang ditopang ketersediaan energy demikian besar; yang berarti daya topang ekonomi pada kemakmuran masyarakat juga cukup kuat,” imbuhnya.

Bicara energi, lanjutnya, Indonesia adalah negeri dengan kekayaan alam yang luar biasa, apalagi sumber daya renewable energy atau energi terbarukan. Data menggambarkan potensi listrik dari sumber energi terbarukan diperkirakan lebih dari 400 GW, angka yang ekuivalen dengan 7-8 kali total kapasitas pembangkit terpasang.

“Mengapa kita tidak secara sungguh- sungguh mempersiapkan diri untuk lebih mengandalkan renewable energy. Padahal dalam dokumen Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada tahun 2050, telah dinyatakan target sekurangnya 31% energi nasional dari energi terbarukan. Apabila kita ingin mengejar kecepatan dalam industri, dan ingin agar warga tidak hanya menjadi objek, melainkan juga menjadi subjek, maka tidak ada pilihan lain kecuali dengan segera melakukan perubahan drastis. Pada titik inilah kita berpandangan bahwa masalahnya terletak pada political will,” tuturnya. (pin)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button