Pelepasliaran Macan Tutul Jawa di Star Energy Geothermal Salak

Pelepasliaran Macan Tutul Jawa di Star Energy Geothermal Salak
Dok. Istimewa

Listrikindonesia.com - Area operasional Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGS) yang berada berdampingan dengan ekosistem Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menjadi lokasi pelepasliaran Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) berusia 6 tahun bernama Wahyu.

Penetapan Area SEGS menjadi lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan hasil kajian kesesuaian habitat oleh tim TNGHS dimana area ini merupakan area dengan kesesuaian habibat yang tinggi bagi spesies Macan Tutul Jawa.

Act. Group Chief Power Plant Operations Officer Star Energy Geothermal (SEG) Suharsono Darmono mengatakan,”Kami sangat berbangga bahwa area SEGS dapat terpilih menjadi lokasi pelepasliaran Macan Tutul Jawa ‘Wahyu’.

Wahyu dilepaskan di area unit operasional kami di Salak ini, karena terletak berdampingan dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan telah menjadi world class best practice tentang bagaimana operasional dari unit pembangkit geothermal dilakukan dengan standar lingkungan yang tinggi dan dengan dampak minimal terhadap biodiversitas lingkungan sekitar.”

Suharsono menambahkan, “Salah satu contoh nyata dari yang pelestarian lingkungan oleh Star Energy Geothermal Salak adalah Prakarsa Lintasan Hijau atau Green Corridor Initiative.

Inisiatif ini telah berkontribusi pada pelestarian indeks keanekaragaman hayati Shannon-Wiener di daerah sekitar operasional unit Salak dalam dekade terakhir yang secara konsisten mencetak skor di atas 3,8 antara 2018 hingga 2020.

Bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya, Green Corridor Initiative ini berkontribusi terhadap keberhasilan pelestarian populasi spesies langka dalam decade terakhir seperti Owa Jawa dari 54 ekor pada tahun 2004 menjadi 61 ekor pada tahun 2013; Macan Tutul Jawa dari 6 ekor pada 2008 menjadi 18 ekor pada 2014, dan Elang Jawa dari 10 ekor pada 2008 menjadi 16 ekor pada 2011.”

Sepanjang tahun 2021, Star Energy Geothermal meneruskan inisiatif-inisiatif dalam program Green Corridor Initiative ini, diantaranya adalah dengan melakukan penanaman pohon dan bibit pohon, konservasi Ikan Tor, melakukan konservasi 30 spesies Anggrek Dendrobium Aphyllum, konservasi 159 individu katak pohon (Treefrog) serta konservasi 75 ekor Kumbang Hutan.

“Kami berharap inisiatif-inisiatif yang telah kami lakukan dapat membantu mewujudkan kawasan TNGHS tetap Lestari,” tutup Suharsono.

Kegiatan pelepasliaran ‘Wahyu’ dilaksanakan pada Selasa (23/5/2023) dengan melibatkan berbagai pihak antara lain Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dengan dukungan dari Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, Yayasan Sintas Indonesia, Forum Konservasi Macan Tutul Jawa, Fansfornature, Orang Utan Help, Wanicare, Gembira Loka Zoo, Yayasan Bakti Barito, dan Star Energy Geothermal Salak, Ltd.

Kegiatan pelepasliaran ini dibuka secara daring oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) Prof. DR. Satyawan Pudyatmoko dan dihadiri oleh sejumlah tamu undangan antara lain Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK drh. Indra Eksploitasia Semiawan, Act. Group Chief Power Plant Operations Officer SEG Suharsono Darmono, Perwakilan Pemkab Sukabumi serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor dan Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Sebagai informasi, ‘Wahyu’ merupakan anak macan tutul jawa berjenis kelamin jantan yang diselamatkan oleh Tim Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) di Kabupaten Cianjur pada 21 Mei 2017 silam. Anak Macan ini ditangkap oleh warga dengan menggunakan tambang.

Berdasarkan informasi anak macan tutul tersebut bersembunyi di bawah rumah warga setelah sebelumnya menyerang salah seorang warga. Lalu pada akhirnya warga masyarakat secara bersama-sama melakukan penangkapan dengan memasang jaring dan tambang lalu menjeratnya.

Anak macan tutul jawa tersebut lalu di bawa ke PPSC dan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Anak macan tutul diberi nama "Wahyu". Dari hasil pemeriksaan dan pengamatan, "Wahyu" memiliki kondisi kesehatan yang baik, dan menunjukkan pola aktivitas alami, takut terhadap manusia, serta mampu berburu dan membunuh mangsa sehingga layak untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya pada Selasa (23/5/2023). Setelah dilepasliarkan, ‘Wahyu’ akan terus dipantau oleh Tim TNGHS dan Sintas untuk mengetahui pergerakan dan perkembangan kondisinya di rumah barunya. (*)

 

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

Berita Lainnya

Index