Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Pemanfaatan EBT, Indonesia Tertinggal Jauh!

Pemanfaatan EBT, Indonesia Tertinggal Jauh!
Cahaya lampu di Monas, Jakarta [Foto: laylasbrn.blogspot.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Indonesia boleh bangga ketika berbicara soal potensi sumber energi baru terbarukan (EBT). Segudang data di atas kertas mendukungnya.

Sayangnya, saat membahas fakta besaran pemanfaatan EBT hingga kini, Indonesia jauh tertinggal. Termasuk saat dibandingkan dengan negara tetangga, yang kasat mata potensi EBT-nya lebih kecil.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebutkan pertumbuhan pembangkit EBT dalam kurun 2015-2019 hanya 400 megawatt (MW) per tahun. Pencapaian ini bahkan menurun ketimbang kurun 2010-2014, yang hampir 600 MW per tahun.

Sementara pemerintah menargetkan bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025. Untuk mencapainya, menurut Fabby, diperlukan tambahan kapastitas pembangkit listrik berbasis EBT sekitar 14-15 gigawatt (GW) alias 3-4 GW per tahun.

Salah satu faktor penghambat perkembangan pemanfaatan EBT adalah peraturannya yang cuma level menteri  dan kerap berubah alias tidak konsisten. 

Target bauran EBT bahkan perlu diatur hingga 2050 jika dikaitkan dengan tren global yang menuntut dekarbonisasi pembangkit listrik.

Fabby menghitung untuk dekarbonisasi sektor listrik di Indonesia dibutuhkan tambahan 400-450 GW kapasitas terpasang hingga 2050. Bukan cuma 140 GW.

Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang EBT memang dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI. Pembahasannya di Komisi VII bersama berbagai pemangku kepentingan berlangsung intensiif. RUU ini diperkirakan menjadi UU pada Oktober 2021.

Beberapa sumber yang LISTRIK INDONESIA himpun melansir sembilan negara di Asia Pasifik sudah memiliki UU EBT. Jika ditilik dari tahun negara-negara dimaksud memiliki UU dimaksud, semakin tampak ketertinggalan Indonesia.

BACA JUGA: EBT Kuasai 70 Persen Pasar Energi Global pada 2050

Negara yang telah melangkah cukup jauh itu, yakni Australia (2000), Jepang (2003), Cina (2006), Sri Lanka (2007), Mongolia (2007), Filipina (2008), Korea Selatan (2009), Pakistan (2010), dan tetangga terdekat Malaysia (2011).


Langkah Cina

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam publikasi ilmiah berjudul Menimbang Urgensi Transisi Menuju Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan di Indonesia memaparkan ketertinggalan negara kaya potensi EBT ini.

Beberapa negara yang patut menjadi menjadi acuan mengenai perkembangan pemanfaatan EBT-nya, antara lain Cina, India, dan Thailand. Cina membukukan pertumbuhan sangat cepat pada dekade 2000-an, namun India ditansir  melampaui pada akhir 2020-an.

Konsumsi energi India tumbuh dari 4,2 persen per tahun. Angka ini tertinggi di dunia. Cina saja yang termasuk di deretan atas tumbuh 1,5 persen per tahun. India dan Cina saat ini terhitung sebagai negara yang memimpin transisi menuju EBT.

Cina mulai gencar mengembangkan pembangkit listrik berbasis EBT pada 1995. Negara Tirai Bambu menetapkan target pemanfaatan EBT pada 2010 lebih 390 juta tce. 

Insentif fiskal diberikan mulai 1999, berupa subsidi bunga sebesar dua persen untuk infrastruktur EBT kapasitas lebih 3 MW. Tahun 2005 Cina mengadopsi Renewable Energy Law yang secara spesifik menyatakan bahwa pemerintah menetapkan EBT sebagai sektor prioritas dan mendorong peran swasta. 

Selanjutnya penyusunan rencana jangka panjang dan menengah pengembangan EBT pada 2007. 

Sejak 2006, Pemerintah Cina memberikan berbagai insentif untuk mendorong EBT, seperti mewajibkan grid/distributor membeli listrik dari perusahaan pembangkit melalui PPA (Purchasing Power Agreement). Juga memberikan feed-in tariff dan subsidi serta tax refund atas PPn (VAT/value added tax).



Cina pun mengembangkan beberapa proyek ambisius EBT, antara lain Lonyangxia Dam Solar Park pada 2013. Kapasitas produksi pembangkit ini sebesar 850 MW di atas lahan 27 kilometer persegi.

PLTS terbesar di dunia saat ini yang menelan investasi 6 miliar Yuan atau sekitar Rp12,6 triliun mampu menyuplai listrik listrik 200 ribu rumah tangga. 

Sebagai perbandingan, PLTS terbesar di Indonesia kini adalah PLTS Oelpuah. Kapasitas terpasangnya sebesar 5 MWp. 

Dan, tidak berhenti di situ. Cina sekarang memiliki setidaknya enam megaproyek yang segera direalisasikan untuk kesuksesan program EBT-nya.


Perbandingan Negara Tetangga

Konsumsi EBT di Indonesia terhadap konsumsi energi secara keseluruhan pada 2017 hanya sebesar 4,1 persen. Sebagai perbandingan, porsi konsumsi EBT Malaysia pada periode 2007-2013 masih di bawah Indonesia, menyalip Indonesia sejak 2014 dan pada 2017 mencapai 6 persen. 

BACA JUGA: Kejar EBT 23% pada 2025, Kemenperin Genjot Industri Hijau

Selain itu, pertumbuhan porsi konsumsi EBT Indonesia dua tahun terakhir relatif stagnan dibandingkan peningkatan porsi konsumsi EBT beberapa negara di Asia, seperti Cina dan India, yang masing-masing meningkat sebesar 0,6 persen dan 0,5 persen dalam dua tahun terakhir. 

Kondisi tersebut menandakan adanya peralihan menuju penggunaan EBT yang lebih besar, serta menunjukkan komitmen terhadap pengembangan EBT. 

Dibandingkan dengan tetangga anggota ASEAN, peringkat daya tarik pengembangan EBT Indonesia di bawah Thailand dan Filipina. Data Renewable Energy Country Attractiveness Index (RECAI) Mei 2018, Indonesia menempati peringkat ke-38 dari 40 negara yang dinilai. Filipina ke-21, Thailand ke-30. 

Nilai indeks daya tarik EBT Indonesia cuma 48,9. Nilai indeks diperoleh dari kombinasi tiga aspek penilaian utama, yaitu ekonomi makro, pasar energi, dan teknologi spesifik masing-masing jenis EBT. Semakin tinggi nilai berarti semakin menarik pasar energi dan mendukung pengembangan EBT di negara bersangkutan. 

Bagaimana mengejar ketertinggalan Indonesia? Sekali lagi, dibutuhkan kemauan politik pemerintah yang super kuat. Jika syarat ini ada, dukungan pemangku kepentingan akan muncul. Syarat lain, konsisten menjalankan peraturan dan rencana yang telah dibuat. Jangan menla-mencle. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button