POWER TECH Innovation NEWS
Trending

Pemanfaatan Teknologi UV-C Bagi Perlindungan Masyarakat dari Mikro-organisme

Pemanfaatan Teknologi UV-C Bagi Perlindungan Masyarakat dari Mikro-organisme
Listrik Indonesia | Penyakit yang disebabkan oleh mikro-organisme selalu ada di sekitar kita, mulai dari influenza, tuberculosis, hingga COVID-19 yang saat ini memicu adanya adaptasi kebiasaan baru dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Diantaranya prilaku menjaga kesehatan dengan langkah menjaga kebersihan lingkungan melalui desinfeksi.

Desinfeksi memainkan peran penting dalam membantu mencegah penyebaran penyakit-penyakit tersebut. Salah satu upaya melakukan desinfeksi dengan menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan Sinar Ultraviolet-C (UV-C).

Untuk mengedukasi masyarakat tentang aspek keselamatan dalam pemanfaatan teknologi UV-C, Signify, pemimpin dunia di bidang pencahayaan, menyelenggarakan diskusi virtual bertajuk “Sinar UV-C: Kawan atau Lawan? PemanfaatanTeknologi UV-C yang Aman untuk Perlindungan Masyarakat dari Mikro-organisme yang menghadirkan pembicara ahli di bidang kesehatan masyarakat, biomedical optics, hingga perlindungan konsumen.

Rami Hajjar, Country Leader Signify Indonesia mengatakan, Signify peduli terhadap tingkat pemahaman masyarakat terkait kewaspadaan dan kehati-hatian saat memilih dan menggunakan produk UV-C. “Sesi diskusi virtual hari ini sangat penting untuk membantu konsumen dan masyarakat luas agar lebih memahami bagaimana pemanfaatan sinar UV-C bisa sangat efektif dalam melawan mikro-organisme, sekaligus membangun kesadaran terhadap pentingnya memperhatikan aspek keselamatan dalam penggunaannya,” kata Rami.

Dalam diskusi ini, Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS., Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menjelaskan bahwa,kasus terkonfirmasi COVID-19 saat ini hanya merupakan puncak dari gunung es dan hanya mewakili sekitar 66% sampai 73% dari jumlah kasus sesungguhnya. “Ada empat faktor utama dalam permasalahan kesehatan masyarakat: kapasitas layanan kesehatan, tingkat kesadaran perilaku publik, kebersihan lingkungan,dan permasalahan bawaan atau turunan. Dari keempat faktorini, lingkungan menyumbang variabel yang cukup besar dalam menentukan kesehatan seseorang, karena terkait langsungdengan kebersihan lingkungan sekitardan kesadaran kita dalam berperilaku hidup sehat,” jelas Hermawan.

Salah satu upaya untuk mendukung pola hidup bersih dan sehat ini adalah dengan memanfaatkan rekayasa teknologi pencahayaan, yaitu teknologi UV-C. Sinar UV-C yang berasal dari matahari disaring oleh lapisan ozon sehingga tidak sampai ke permukaan Bumi. “Teknologi UV-C ini sangat diperlukan di area-area publik seperti pusat perbelanjaan, hotel, kantor, sekolah, tempat ibadah, bandara, dan lainnya,” kata dia.

Terkait dengan sinar UV-C, Dr. rer. nat. Ir. Aulia Nasution, M.Sc., Kepala Laboratorium Rekayasa Fotonika, Departemen Teknik Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyebutkan, sinar UV-C, yang berada dalam spektrum cahaya tak kasat mata, memiliki potensi untuk mengatasi penyebaran COVID-19.

Namun,ia memperingatkan bahayanya apabila sinar UV-C mengenai tubuh manusia secara langsung. Ada yang disebut dengan interaksi antara cahaya dengan materi biologis. Pada saat cahaya masuk danterhalang materi, cahaya tersebut akan menembus ke dalam materi tersebut, dan semakin ke dalam akan terjadi hamburan (scattering).

Dalam perjalanannya menembus jaringan,bisa juga terjadi penyerapan cahaya. Di sini terjadi transfer energi dari cahaya ke dalam materi yang dilaluinya. “Jika terpapar langsung, sinar UV-C dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan, menyebabkan iritasikulitsepertiruam, sensasiterbakar, tumor, hingga memicu kanker, sementara pada mata bisa menyebabkan katarak, jelas Aulia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa selama pengguna berhati-hati agar tidak terkena paparan langsung, penggunaan UV-C sebagai alat desinfeksi tidak menimbulkan masalah kesehatan. Ruangan, permukaan maupun benda yang didesinfeksi dengansinar UV-C juga dapat langsung digunakan setelah lampu UV-C dimatikan atau tidak beroperasi.

Ia menyebut bahwa teknologi UV-C yang banyak dipasarkan sebagai produk germicidal atau pembunuh kuman berada pada gelombang 254nm, rentang gelombang yang efektif untuk membunuh mikro-organisme. Mekanisme de-aktivasi mikro-organisme adalah sebagai berikut: ketika sinar UV-C itu diserap secara maksimum oleh jaringan sel, ia akan memutus rantai DNA dari sel tersebut sehingga sel gagal melakukan replikasi. Akibatnya sel tersebut tidak bisa membelah dan menduplikasikan dirinya, sehingga 

jumlahnya akan terus berkurang. Namun agar efektif, penggunaan sinar UV-C ini harus dalam dosis yang tepat,” kata Aulia.

Menanggapi makin banyaknya produk UV-C yang beredar di pasaran, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menyatakan apresiasinya terhadap segala bentuk upaya untuk mengendalikan wabah COVID-19. Namun, ia juga menyoroti pentingnya aspek keamanan, keselamatan dan kenyamanan konsumen.

“Kami mendorong pemerintah untuk melakukan kebijakan pengawasan produk sebelum diedarkan (pre-market control policy), seperti menetapkan standar atau sertifikasi bagi produk-produk UV-C, untuk memastikan bahwa produk yang beredar sudah memenuhi standar,” ujar Tulus.

Setelahnya, lanjut dia, diikuti dengan post-market control policy, yaitu melakukan pengawasan sehingga apabila ditemukan produk yang tidak sesuai, dapat melakukan penarikan (recall) produk dari pasar dan melakukan penegakan hukum.

“Produsen dan pelaku usahaharus mengedepankan itikad baik dalam berbisnis, mulai dari pembuatan produkhingga cara memasarkannya. Mereka juga harus mematuhi regulasi yang ada, baik di tingkat Undang-Undang dan atau regulasi teknis, yaitu untuk membuat produk yang standar, serta menyediakan berbagai akses kanal-kanal pengaduan sehingga mudah dijangkau oleh konsumen,” tegasnya.

Sementara bagi konsumen, dia berharap untuk berhati-hati dan cerdas dalam membeli produk yang memiliki aspek keselamatan yang perlu diperhatikan, seperti teknologi UV-C ini. “Sebelum membeli, hendaknya konsumen mencari informasi sebanyak mungkin dari sumber-sumber kredibel. Setelah membeli, cermati label, petunjuk penggunaan, serta instruksi keselamatan pada masing-masing produk,” imbuhnya.

Signify adalah pemimpin dalam penyediaan lampu UV-C dan telah menjadi yang terdepan untuk teknologi UV selama lebih dari 35 tahun. Perusahaan memiliki rekam jejak yang terbukti dalam inovasi pencahayaan UV-C, yang dirancang, diproduksi, dan dipasang sesuai dengan standar keamanan yang tinggi.  Belum lama ini, Laboratorium Nasional untuk Penyakit Infeksi Emerging (NEIDL)  di Universitas Boston, Amerika Serikat, telah melakukan penelitian yang memvalidasi efektivitas lampu UV-C milik Signify dalam menonaktifkan SARS-COV-2, virus penyebab COVID-19

“Saat ini, tidak ada produk UV-C kami yang tersertifikasi sebagai alat medis, dan produk UV-C Signify maupun perusahaan afiliasinya tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan sebagai alat medis di negara mana pun,” tandas Rami. (TS)
 

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button