Fossil Fuel ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Pembangkit Chevron Disoal, Produksi Rokan Jalan Terus

Pembangkit Chevron Disoal, Produksi Rokan Jalan Terus
Chevron di Blok Rokan

Listrik Indonesia - Kepala SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) Dwi Soetjipto menanggapi santai pertanyaan jurnalis seputar beberapa aset yang dipandang seharusnya diserahkan PT Chevron Pasifik Indonesia (CPI) kepada negara, sehubungan alih kelola Wilayah Kerja (WK) Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero).

Blok Rokan di Riau merupakan salah satu WK andalan sektor industri hulu migas Indonesia selama ini. Dengan produksi minyak antara 170 ribu-200 ribu barel per hari, ia menyumbang sekitar 25 persen produksi minyak nasional.

Berbagai pihak mengkritisi proses penyerahan Blok Rokan ke Pertamina --dalam hal ini melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Misalnya, Pengamat Ekonomi Eneregi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan ada beberapa teknologi dan aset yang tidak sepenuhnya dikembalikan oleh CPI. Di antaranya, teknologi enhanced oil recovery (EOR) dan pembangkit listrik. 

BACA JUGA: PLN Penuhi Kebutuhan Tenaga Listrik dan Uap Blok Rokan

CPI, kata Fahmy, belum bersedia memberikan satu formula dari empat formula EOR, yang selama ini digunakan dalam eksplorasi dan ekspoitasi minyak di Blok Rokan.

Listrik pada operasional lapangan dipakai buat penyuntikan uap ke sumur-sumur minyak. Blok Rokan ditopang Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) North Duri Cogeneration (NDC) berkapasitas 300 MW, yang menghasilkan output berupa daya listrik 300 MW dan uap 3.140 MMBTU sekaligus. 

PLTG dikelola oleh PT MCTN (Mandau Cipta Tenaga Nusantara). Saham perusahaan ini dimiliki CSL (Chevron Standard Ltd.) sebesar 95 persen  dan PT Nusa Galih Nusantara (NGN) sebesar lima persen. CLS sendiri terafiliasi dengan Chevron Corporation.

Belakangan diketahui, PLTG tidak dimasukkan sebagai aset yang ditransfer dari CPI kepada Pertamina. Chevron tidak ingin mentransfer aset ini secara cuma-cuma. CPI menyatakan berhak melelang pembangkit tersebut kepada penawar tertinggi. Disebut-sebut nilainya sekitar Rp4,2 triliun.

Salah seorang pengamat yang lantang mengkritisi sikap CPI adalah Yusri Usman, direktur eksekutif CERI (Center of Energy and Resources Indonesia). Dia mempertanyakan "akal-akalan" CPI.

Senin (26/4/2021), ia melayangkan surat kepada Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) guna meminta konfirmasi LHP BPK 2006 atas pembangkit listrik Blok Rokan.

BACA JUGA: Sinergi BUMN, PLN Siapkan Keandalan Pasokan Listrik Jangka Panjang Blok Rokan

Sementara Direktur Eksekutif IRESS (Indonesia Resources Studies) Marwan Batubara bersuara sama dengan rekannya, Yusri.

"Saat ini Chevron masih terikat kontrak PSC Blok Rokan dengan pemerintah atau SKK Migas. Jadi Chevron tidak berhak secara hukum menenderkan PLTG NDC secara sepihak kepada pihak manapun, tanpa persetujuan pemerintah. Mengapa pemerintah dan SKK diam saja? Dicurigai ada oknum penguasa atau pengurus partai yang terlibat perburuan rente listrik Blok Rokan," papar Marwan.

Kepala SKK Migas tidak menjawab langsung status PLTG NDC. Apakah harus masuk bagian yang harus diserahkan CPI ke Pertamina tanpa syarat? Atau sebaliknya, sepenuhnya milik CPI? 

Dwi, pada jumpa pers di Jakarta, Senin, 26/4/2021), cuma menegaskan bahwa proses transisi Blok Rokan sedang berjalan. Alih kelola resmi pada 8 Agustus mendatang.

"Proses transisi sedang berjalan dengan sembilan aspeknya. Pembangkit itu soal B to B. Masalah administrasinya diharap beres hingga Agustus 2021. Yang terpenting bagi SKK Migas adalah produksi Blok Rokan berlangsung terus. Itu komitmen kita semua," tandas Dwi. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button