NEWS
Trending

Pemerintah Sambut Baik Rencana PLN Miliki Tambang Batu Bara Sendiri

Pemerintah Sambut Baik Rencana PLN Miliki Tambang Batu Bara Sendiri
Listrik Indonesia | Rencana PT PLN (Persero) yang ingin memiliki tambang batu bara sendiri mendapat respons baik dari pemerintah, sebab hal ini dilakukan perusahaan setrum negara semata-mata untuk menekan harga biaya pokok produksi (BPP).

Menurut Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara, Direktorat Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sri Raharjo, rencana PLN tersebut hanya untuk mengamankan pasokan batu bara. Perseroan tidak ingin menjadi penambang, akan tetapi misinya yaitu untuk mengamankan pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) miliknya.

"Seperti, PLTU mulut tambang. Ini jelas lebih murah kan, biaya logistiknya turun kalau mulut tambang itu. Karena langsung dibakar di situ dan bangkitkan di situ," ungkap Sri Raharjo kepada listrikindonesia.com usai diskusi Mencari Win-Win Solution Antara Ketahanan Energi Nasional dengan Pertumbuhan Hijau, di kawasan SCBD Jakarta, (30/08).

Ia mengungkapkan, cadangan batu bara dalam negeri cukup melimpah, menurut catatan Badan Geologi tercatat hampir 17 miliar ton yang siap ditambang, kemudian yang masih dalam bentuk cadangan ada sekitar 11,4 miliar ton, jika di total mencapai lebih dari 28 miliar ton.

Sri Raharjo menambahakan, tingkat produksi saat ini sekitar 400 juta ton, dan ini akan cukup lama habis kalau ada penemuan baru (misalnya, Energi Baru Terbarukan /EBT). Tentunya hal ini menjadi konsen bersama Pemerintah, kedepan untuk mengendalikan produksi di satu sisi, kemudian mencari cadangan di sisi lain, namun tetap menjaga konservasi energi.

"Kemampuan suplai saat ini, untuk tahun 2017 kita di targetkan oleh Bappenas (Kementerian/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) tingkat produksinya sekitar 413 juta ton, itu akan menurun pada tahun 2019 hanya sekitar 400 juta ton dan akan dijaga yang pada akhirnya dapat diserap domestik," tambahnya.

Kalau dilihat kapasitas produksi batu bara saat ini jauh lebih tinggi dari target tersebut. Tercatat dari rencana usulan produksi perusahaan-perusahaan tambang batu bara sekitar 475 juta ton di tahun 2017.

"Ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah, karena itu pihaknya harus mengendalikan produksi itu. Kami akan evaluasi terus menerus agar realisasinya tepat dari waktu ke waktu," paparnya.

Tahun kemarin (2016) produksi batu bara juga lebih tinggi dari target, akan tetapi dirinya tetap optimis di 2019 akan beda jauh dari target. Ke depan sesuai dengan kebijakan batubara nasional yang utama adalah menjamin pasokan batubara dalam negeri.

Sementara ini, demand dari dalam negeri masih relatif rendah, dirinya percaya dengan adanya proyek kelistrikan 35.000 Megawatt (MW) kebutuhan batu bara akan meningkat di masa mendatang, bahkan sudah ditargetkan bahwa 60% dari penyerapan batu bara di 2019 untuk kepentingan domestik.

Visi Pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) sudah jelas, yakni mendorong agar penggunaan energi bari terbarukan (EBT) semakin meningkat dari waktu ke waktu dan targetnya sudah jelas dalam bauran energi nasional penggunaan EBT sebesar 23% hingga 2025 mendatang.

"Ini merupakan visi kita, target kita, untuk itu kami harus bekerja keras untuk mencapai target itu (23%). Pemerintah juga sudah menerbitkan beberapa regulasi untuk mendorong itu semua, salah satunya Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 Tahun 2017, di mana di dalamnya sudah diatur bahwa PLN diwajibkan untuk menyerap energi listrik dari pembangkit EBT," tandasnya. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button