NEWS
Trending

Permen ESDM 2017: Untuk Pemerataan Penyediaan Tenaga Listrik

Permen ESDM 2017: Untuk Pemerataan Penyediaan Tenaga Listrik
Listrik Indonesia | Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 menegaskan bahwa PT PLN (Persero) berkewajiban membeli tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Fotovoltaik, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan dilakukan dengan mekanisme harga patokan atau pemilihan langsung. PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan dengan kapasitas sampai dengan 10 MW secara terus menerus (must run).

“PT PLN (Persero) wajib mengoperasikan pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan dengan kapasitas sampai dengan 10 MW secara terus-menerus (must-run),” ungkap Dirjen Gatrik Jarman, di sela-sela briefing media di Kantor ESDM,Senin(20/2)

Lebih jauh Jarman mengungkapkan, secara umum Permen ESDM tersebut mengatur pembelian tenaga listrik dari PLTS Fotovoltaik, PLTB, PLTA, PLTBm, PLTBg paling tinggi 85% dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat. Dalam hal BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat sama atau di bawah rata-rata BPP Pembangkitan nasional, maka harga pembelian tenaga listriknya sebesar sama dengan BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat.

Sementara itu, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Yunus Saefulhak menambahkan pengembangan EBT di Indonesia masih terbuka lebar untuk para investor. Sesuai amanah undang-undang harga listrik EBT harus sesuai dengan harga keekonomian agar listrik menjadi ekonomis dan merata pemanfaatannya.
“Geothermal akan terus dipacu untuk dikembangkan agar menjadi based load kelistrikan. Untuk itu, potensi Indonesia Timur yang kaya akan sumber EBT pasti akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor,” ungkap Yunus

Ditempat yang sama pengamat kebijakan publik yang juga menjadi staf khusus menteri KLH, Agus Pambagio menambahkan intergarsi menjadi hal yang sangat penting dalam pengembangan EBT agar ada keseimbangan antara supplay and demand.

“ Sinergi antara lembaga menjadi penting dalam hal ini. Misalnya PUPR akan membangun infrastruktur, lalu kementerian lain menginformasikan akan membangun kawan ekonomi di wilayah tersebut. Sehingga ketika IPP jadi listriknya dapat diserap,” kata Agus Pambagio. (LN)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button