Activity CORPORATION NEWS
Trending

PLN Cegah 'Overrun' Proyek Via Transformasi Digital

PLN Cegah 'Overrun' Proyek Via Transformasi Digital
Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero) M. Ikhsan Asaad (tengah) [Foto: Dok. LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero) M. Ikhsan Asaad menegaskan pentingnya penyelesaian proyek ketenagalistrikan sesuai kualitas dan waktu yang ditentukan. Terlebih sebagian garapan tersebut merupakan proyek strategis nasional (PSN) atau terkait.

Dalam konteks PLN sebagai entitas bisnis, penyelesaian proyek sesuai rencana berperan penting dalam mewujudkan kinerja keuangan perusahaan yang diharapkan. Keberhasilan perampungan proyek ketenagalistrikan, sehingga segera beroperasi, langsung memberikan revenue bagi perusahaan.

"Namun sebaliknya, jika proyek-proyek tersebut mengalami keterlambatan atau time overrun maka akan memberikan efek negatif terhadap keuangan perusahaan," tandas Ikhsan saat memberikan sambutan pembukaan (opening speech) pada webinar Project Talks Series #1 'Sharing and Growing Together', Rabu, 14 April 2021.

BACA JUGA: PLN Perkenalkan Transformasi Digital Ketenagalistrikan di Hannover Messe 2021

Webinar PLN seri pertama bertema Digitalization In Construction Management: Building Information Modelling (BIM) Implementation In Power Plant Project ini dibuka Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini.  

Tampil sebagai pembicara webinar yang diikuti seribu lebih peserta; Enni Soetanto/Riky Budiman (MOTT Macdonald), General Manager Operations Department of Power and Energy Division PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Adi Widyo Nugroho, dan Manager of Innovation & Technology PT Brantas Abipraya Aminudin Azis.

Lebih lanjut, istilah 'time overrun' merujuk pada suatiu kondisi proyek konstruksi yang pengerjaannya tidak rampung sesuai jadwal yang ditetapkan sebelumnya. Time overrun dipastikan memicu cost overrun.

"Time overrun proyek akan mengakibatkan adanya tambahan biaya yang keluar untuk penyelesaian proyek ke depannya. Inilah yang kita sebut sebagai cost overrun." Ikhsan menyatakan.

Menghindari hal tersebut, menurut Ikhsan, dibutuhkan manajemen proyek yang excellent dan tim yang solid. 

PLN sendiri melakukan transformasi organisasi guna memastikan semua proyek raksasa yang ditanganinya sukses pembangunan dan pengoperasian.

Ditambahkan, unit-unit proyek kini berada dalam satu direktorat PLN, yakni Direktorat Mega Proyek dan EBT. Tujuan penyatuan agar semua proses bisnis proyek secara keseluruhan berjalan secara end to end --mulai perencanaan, pengadaan, supervisi konstruksi, pengerjaan fisik, hingga pengoperasian dan perawatan. 

Guna memaksimalkan manajemen konstruksi atas proyek-proyek tersebut, Ikhsan mengungkapkan manajemen PLN melakukan transformasi digital. Pemanfaatan teknologi digital dimaksudkan untuk memperkuat sistem monitoring proyek. 

"Saat ini kami menyusun sistemnya dibantu tim IT. Ini merupakan sebuah program yang dapat memonitor seluruh data proyek, seperti status proyek, progres dan finansial, data vendor, yang dapat diakses melalui gawai," papar Ikhsan. 

BACA JUGA: Schneider Electric: Edge Computing Tumbuhkan Ekonomi Digital di Asia Pasifik

Ditambahkan, salah satu bentuk transformasi guna meningkatkan sistem monitoring dan manajemen konstruksi melalui pemanfaatan teknologi digital, yakni penerapan building information management (BIM). BIM akan kami uji coba di proyek PLTA Asahan 3, Sumatera Utara. 


Project Talk

Pada kesempatan sama, Direktur Mega Proyek dan EBT PLN Ikhsan menjelaskan latar belakang penyelenggaraan serial webinar project talks yang mengusung nilai sharing and growing together


Seminar virtual setiap bulan itu bertujuan meningkatkan kompetensi pegawai PLN dalam pengelolaan proyek ketenagalistrikan. Kegiatan ini bagian langkah transformasi PLN menjadi perusahaan yang lean, green, inovatif, dan customer focus

"Tentunya sebagai wadah sharing best practice dan success story bagi pelaku proyek ketenagalistrikan, serta menjadi media update terkait pengembangan teknologi, metode kerja baru pelaksanaan proyek, dan lain-lain," lanjut Ikhsan. 

Melalui project talk, menurut Ikhsan lagi, seluruh unsur PLN mendapatkan awareness terhadap proyek yang sedang dilaksanakan.

Pegawai juga mendapatkan capacity building di era digital dan mampu mengembangkan pengetahuan untuk perencanaan serta eksekusi proyek, dalam mendukung program strategis perusahaan. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button