Business CORPORATION NEWS
Trending

PLN Malaysia, Berawal Generator Pertambangan Kecil 1894

PLN Malaysia, Berawal Generator Pertambangan Kecil 1894
Penerangan listrik di sudut Malaysia [Foto: tnb.com.my - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Perusahaan listriknya Malaysia awalnya menjadi pembincangan di tanah air ketika rencana Indonesia --dalam hal ini PT PLN (Persero)-- mengimpor listrik mengemuka di media. 

PLN membeli listrik dari negeri jiran guna memenuhi kebutuhan warga Kalimantan Barat (Kalbar). Suplai berasal dari Serawak disepakati mulai 2014 hingga 25 tahun ke depan. Pemasoknya Syarikat Sesco Berhad, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Malaysia.

Pada Januari 2021, soal impor listrik tersebut kembali ramai diberitakan pers. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengungkapkan Indonesia sepanjang 2020 membeli daya listrik di kisaran 100-120 MW.

Dikemukakan pula bahwa pemerintah tidak akan mengimpor terus-menerus karena pembangkit listrik di Kalbar tengah dibangun. Pembangkit ini diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di perbatasan Indonesia dengan Serawak, Malaysia. 


Awal Sejarah 

Perusahaan yang bertanggung jawab atas penyediaan tenaga listrik di Malaysia adalah Tenaga Nasional Berhad (TNB). Dialah PLN-nya Malaysia. 

Produksi tenaga listrik di negara serumpun itu kali pertama di penghujung abad ke-20. Tepatnya di kawasan pertambangan kecil di Rawang, Selangor. Di sinilah awal Malaysia mengenal listrik.

Adalah dua sosok, yakni Loke Yew dan Thamboosamy Pillai, mengoperasikan generator listrik pada 1894 untuk keperluan operasi tambang.  

mengoperasikan tambang mereka; mereka adalah orang pertama yang menggunakan pompa listrik untuk pertambangan di Malaya, dan menandai awal cerita kelistrikan di Malaysia. 

Pada tahun yang sama, pasokan pribadi untuk keperluan penerangan jalan diperluas ke kota Rawang, dan pada tahun 1895 stasiun kereta api di Kuala Lumpur menerima pasokan listrik pertamanya. 

BACA JUGA: Impor Listrik di Wilayah Perbatasan Kalbar Diproyeksi Naik, COD PLTU Kalbar-1 200 MW Ditunggu

Pada 1900, Perusahaan Pertambangan Emas Australia Raub membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sempam di Raub. Inilah pembangkit listri pertama di Malaysia.

Hingga pertengahan 1920-an, seperti dilansir situs web resmi TNB, tumbuh pembangkit-pembangkit kecil. Depot produsen listrik dimaksud menggunakan sumber bahan baku yang ada di lokasi setempat. Mulau baru bara kualitas rendah, minyak, kayu lokal, bahkan arang lokal. 

Sementara upaya pembangunan PLTA yang lebih besar mulai dilakukan, seiring tuntutan kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik. 

Pemerintah lalu membentuk Central Electricity Board (CEB). Mulai bekerja bekerja pada 1 September 1949. Modal dari dalam dan luar negeri dikumpulkan. Perekrutan tenaga ahli asing juga dilakukan, wujud keseriusan pemerintah untuk segera menghadirkan suplai listrik guna menunjang perencanaan pembangunan bangsa umumnya.

Awal kiprahnya, CEB ditugasi Departemen Listrik untuk mengawal tiga proyek kelistrikan besar. Departemen Listrik sendiri dibentuk pada April 1946. Dia mungkin semacam direktorat kelistrikan pada kementerian. 

Tiga proyek tersebut: Pembangkit Listrik Jembatan Connaught, Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Cameron Highlands, dan Pengembangan Grid Nasional.

Selanjutnya CEB menangani 34 PLTU dengan kapasitas pembangkitan 39,88 MW. Di antaranya PLTU Bangsar berkapasitas 26,5 MW, PLTA Ulu Langat berkapasitas 2,28 MW, serta beberapa PLTD yang totalnya kapasitas 11,1 MW.

CEB juga membangun sistem transmisi dan distribusi di atas dan di bawah tanah senilai hampir tiga puluh juta dolar.

Singkatnya, kiprah CEB mengakhiri era generator pribadi. Negara mulai menghadirkan listrik untuk semua. Listrik bukan lagi hanya dinikmati segelintir orang yang mampu membeli generator.


Pasca Kemerdekaan

Pada 31 Agustus 1957, Tunku Abdul Rahman mendeklarasikan Kemerdekaan Malaya (sekarang Malaysia). Hari bersejarah ini juga awal Malayanisasi.

Untuk itu, putra-putri Malaysia dibiayai negara menjadi insinyur dan teknokrat. Mereka diproyeksikan untuk mengganti peran ekspatriat di CEB. 

Pada 1951, tiga insinyur lokal --Abu Zarim bin Haji Omar, Tengku Daud bin Tengku Besar Burhanuddin, dan Tengku Yaacob Shah-- diberangkatkan mengikuti pelatihan di Otoritas Kelistrikan Inggris, Britania Raya. 

BACA JUGA: Masyarakat Sambas Tak Lagi Impor Listrik

Sepanjang 1954-1957, lebih banyak orang Malaysia dikirim ke luar negeri guna memperoleh kualifikasi profesional yang relevan dengan kebutuhan CEB.

Pada 1964, Manajer Umum CEB ekspatriat kedua, J. Sharples pensiun, pensiun. Ia lalu digantikan oleh Raja Zainal bin Raja Sulaiman, yang sekaligus tercatat sebagai orang Malaysia pertama yang menduduki jabatan tinggi di CEB. 

Tak lama kemudian, Pembangkit Listrik Jembatan Connaught beroperasi penuh dan tahap pertama Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Cameron Highland hampir selesai. 

Di Selangor, ruas awal Jaringan Nasional mulai membentang. perlahan-lahan mulai terbentuk, dan Pembangkit Listrik Bangsar terhubung ke Pembangkit Listrik Jembatan Connaught. Jaringan kemudian diperpanjang ke Malaka.



Jaringan Transmisi Primer

Pada 22 Juni 1965, Central Electricity Board (CEB) diubah namanya menjadi National Electricity Board of the States of Malaya (NEB). Berkomitmen pada program pertumbuhan dan ekspansi jangka panjang yang telah dirancang CEB, NEB dipimpin putra Malaysia sebagai CEO.

Proyek jaringan transmisi primer yang menghubungkan antarpembangkitan ke suluruh permukiman di berbagai daerah digenjot. 

Pembangkit listrik tersebut berlokasi di Paka (Terengganu), Temengor, Kenering, Bersia dan Batang Padang (Perak), Jembatan Connaught, Kapar dan Serdang (Selangor), Cameron Highlands (Pahang), Prai (Penang), Port Dickson (Negeri Sembilan), Pergau (Kelantan), Pasir Gudang (Johor dan Malaka).

Jaringan area pusat dengan Pembangkit Listrik Jembatan Connaught di Klang merupakan pendahulu yang memanfaatkan skema Cameron Highlands Hydro dari Pembangkit Listrik Sultan Yussuf. Kemudian diperluas ke jaringan barat.

Pada 1980-an, koneksitas itu rampung. Pembangkit besar di Semenanjung utara dan Kota Bahru masuk dalam jaringan nasional.

BACA JUGA: PLN Alirkan Listrik Desa Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar

Bahkan, jaringan listrik nasional Malaysia juga terhubung ke jaringan transmisi Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT) melalui Jalur Sirkuit Tunggal 117 MVA, 132 kV, yang telah ditingkatkan versinya menjadi jalur HVCD. 

Pun terhubung ke Singapore Power Limited (SP) melalui jalur transmisi berkapasitas 250 MVA - 230 kV dan kabel bawah laut. 


Pendapatan Besar 

NEB telah memasok listrik ke seluruh Semenanjung. Secara strategis menggantikan perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Air Sungai Perak (PRHEP) dan anak perusahaannya Kinta Electrical Distribution Co. Ltd (KED) pada 1982. Kotamadya Penang pada 1976. Wilayah yang disuplai Huttenbach Ltd pada 1964.

Pada 1984, kapasitas terpasang meningkat lebih dua kali lipat menjadi 1.379,2 MW melebihi permintaan puncak dengan marjin yang sehat. Basis konsumennya sekarang berjumlah 1.965.162 dengan pendapatan sekitar RM2,2 miliar dan aset tetap mendekati RM5,5 miliar, serta 24.882 staf.

NEB menghasilkan membukukan keuntungan besar melalui manajemen berkaliber tertinggi. Dicapai pula kali pertama dalam sejarah, penurunan tarif signifikan. 

NEB menerima penghargaan Bank Dunia, yang mengakuinya sebagai entitas yang dikelola baik dan sehat secara finansial dengan kebijakan harga yang pas, perencanaan investasi, dan dengan otonomi yang memadai.


TNB Terbentuk

Namun demikian, pinjaman NEB meningkat untuk membiayai rencana ekspansi. Pinjaman asing dan pemerintah mencapai sekitar RM1 miliar. Ditambah pinjaman internal 1 miliar lagi. 

Selanjutnya, Perdana Menteri Dato Seri Dr. Mahathir Mohamad mengumumkan keputusan pemerintah tentang kebijakan privatisasi. Dia menekankan bahaya jika pemerintah terbebani karena rakyat ujung-ujungnya menanggung beban. Privatisasipun dijalankan.

BACA JUGA: Sejarah PLN Batam: Dari Pulau Kecil Untuk Nusantara

Kebijakan baru privatisasi memiliki empat tujuan utama. Pertama, meringankan beban administrasi dan keuangan pemerintah. Kedua, meningkatkan efektivitas dan kualitas layanan publik. 

Ketiga, mendorong penyebaran kewirausahaan swasta di sektor publik. Keempat, berkontribusi pada pencapaian tujuan yang ditetapkan untuk Kebijakan Ekonomi Baru (NEP). 

Pada 4 Mei 1988, pemerintah mengumumkan keputusan terakhirnya untuk memprivatisasi. Ini memicu kecemasan semua staf. Ada ketakutan akan keserakahan, pengalihan kepemilikan asing melalui pembelian saham di pasar terbuka, dan bahwa NEB menguntungkan sehingga tidak cocok diprivatisasi. 

Demi kepentingan bangsa, dua undang-undang disahkan untuk menggantikan Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan mengatur pendirian perusahaan baru. 

Berdirilah Tenaga Nasional Berhad (TNB), menggantikan NEB (Undang-Undang Perusahaan Penerus). Datuk Hj. Ibak bin Abu Hussein menjadi deputy chairman dan general manager terakhir NEB. Dia dipercaya menjadi managing director pertama TNB.

Pada 1 September 1990, Perdana Menteri Mahathir Mohamad secara resmi memproklamasikan TNB sebagai pewaris dan penerus NEB. 

TNB menjadi perusahaan swasta yang dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. Pada hari yang sama diangkatlah Tan Sri Dato Haji (Dr.) Ani bin Arope sebagai nakhoda pertama PLN-nya Malaysia. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button