Business CORPORATION Emission & Carbon ENVIRO NEWS
Trending

PLN 'Mikirin' Pembangkit EBT Setelah Proyek 35 Ribu MW Beres

PLN 'Mikirin' Pembangkit EBT Setelah Proyek 35 Ribu MW Beres
Semangat merampungkan proyek pembangkit listrik 35.000 MW [Foto: spiritriau.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - PT PLN (Persero) boleh dikatakan belum fokus mikirin dan menggarap pemanfaatan sumber energi bersih, walaupun memiliki komitmen menghadirkan pembangkit listrik yang ramah lingkungan.

Hal itu tergambar dalam pernyataan Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini saat menjadi pembicara diskusi virtual bertajuk Program Co-Firing dan Konversi EBT, Jumat, 7 Mei 2021. 

Dia memastikan perseroan yang dipimpinnya akan fokus membangun pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) setelah proyek 35.000 MW rampung.

Sekitar 95 persen megaproyek tersebut telah selesai kontraknya, sementara lima persen lainnya masih tahap perencanaan.

"Kami berkomitmen bahwa penambahan energi listrik di waktu yang akan datang hanya akan berfokus pada energi baru terbarukan. Jadi komitmen PLN adalah setelah 35.000 MW selesai, kami akan menambahkan ke dalam sistem kelistrikan Indonesia hanya EBT," ujar Zulkifli.

BACA JUGA: Lagi Pandemi, Momentum Menata Ulang Proyek 35.000 MW

Menurut Zulkifli, listrik EBT masih mendapatkan porsi sangat kecil dalam megaproyek 35.000 MW yang diluncurkan sejak 2015. Porsinyanya kurang dari 10 persen dari total kapasitas pembangkit baru yang akan dibangun.

Padahal, Indonesia punya target bauran EBT 23 persen pada 2030 dan net zero emission pada 2050.

"Hanya 2.000 MW yang merupakan proyek energi baru terbarukan. Sekitar 33 ribu dari proyek tersebut adalah non-EBT. Kami akan lihat COD (commercial operation date) proyek tersebut tahun ini, tahun depan, dan seterusnya," papar Direktur Utama (Dirut) PLN lagi.


Co-firing dan Konversi PLTD

Sementara itu, sebagai wujud komitmen PLN pada pelestarian lingkungan, perusahaan setrum plat merah tersebut mengandalkan sistem co-firing untuk menambah sedikit persentase bauran listrik EBT.

Upaya lain berupa mengonversi 5.200 pembangkit listrik diesel (PLTD) menjadi EBT. Pembangkit-pembangkit itu tersebar di 2.100 lokasi di wilayah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal) dengan total kapasitas 2.000 MW.

Tahap pertama, konversi PLTD ke EBT akan dilakukan di 200 lokasi dengan kapasitas 225 MW.

BACA JUGA: Pembangkit EBT di Jabar, Bukti Transformasi Pilar 'Green' PLN

"Progres saat ini kami sedang melakukan perencanaan pengadaan dan direncanakan COD-nya pada 2023 dan 2024," ucap Zulkifli.

Kemudian, tahap kedua dengan potensi konversi PLTD ke EBT sebesar 500 MW, akan dilakukan pada 2022 dengan target pengoperasian bertahap pada 2024 sampai 2025. "Sedangkan tahap ketiga, dengan potensi 1.300 MW direncanakan dapat COD atau beroperasi pada tahun 2025," papar Zulkifli.

Program tersebut tidak hanya berguna untuk memenuhi target bauran EBT, melainkan juga menggantikan pembangkit tua di wilayah 3T yang hanya beroperasi optimal selama enam jam sampai 12 jam.

Selain itu, Indonesia juga akan mendapatkan efek pengganda (multiplier effect) melalui penurunan penggunaan BBM atau solar yang berimbas pada pengurangan subsidi BBM. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button