ENVIRO NEWS Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

PLTA Batang Toru Molor, Faktor Lingkungan dan Pandemi

PLTA Batang Toru Molor, Faktor Lingkungan dan Pandemi
Aksi aktivis Walhi di depan kantor Bank of China di Medan [Foto: mangobay.co.id - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut), tiba-tiba ramai diberitakan media massa akibat bencana longsor di arealnya akhir April lalu. 

Terlebih sejumlah pekerja dan warga menjadi korban longsoran. Terdapat tenaga kerja asing (TKA) di antara korban tewas.  

PLTA Batang Toru yang berkapasitas 4 x 127,5 MW ini berlokasi di Sungai Barang Toru. Persisnya di Desa Sipirok. 

Pembangkit yang bagian proyek strategis nasional (PSN) ini menerapkan konsep run-off hydro system dan irit lahan. Luas lahannya hanya hanya 122 hektar. Fisik proyek cuma di atas 56 hektar. Luas genangan maksimalnya 66 hektar. 

PLTA ini diproyeksikan guna berkontribusi sekitar 15 persen beban puncak Sumut. Target operasi (commercial operation date, COD) pada 2022 --namun terkoreksi. 

BACA JUGA: Pengamat Ekonomi Energi: Era Baru Pengembangan PLTU Ramah Lingkungan


PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI) mendapatkan penugasan dari PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) menjadi project sponsor dan pemegang saham pengembangan independent power producer (IPP) PLTA Batang Toru, efektif pada 31 Agustus 2017. 

Kepemilikan saham PJBI di joint venture company (JVC) IPP PLTA Batang Toru, yakni PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) sebesar 25 persen.

Penandatanganan kontrak power purchase agreement (PPA) NSHE dan PLN dilaksanakan pada 21 Desember 2015. 

Fase konstruksi proyek berbasis energi baru terbarukan (EBT) ini dimulai pada akhir 2007.


Molor Tiga Tahun

Perampungan PLTA Batang Toru dipastikan molor. Pihak PT PLN (Persero) dikabarkan telah menerima laporan dan menyetujui keterlambatan pembangunan unit 4 oleh pengembang.

BACA JUGA: PLTU Kian Ramah Lingkungan, Listrik Tercukupi dan Udara Terjaga Bersih

Kemungkinan mundur ke 2025. Faktor utama penyebabnya adalah terhentinya drawdown lender Bank of China karena isu lingkungan (habitat orangutan). Kondisi pandemi covid-19 juga salah satu kendala.

“Memang betul ini terkendala karena protes dari LSM terkait dengan environmental issues, adanya orangutan dan lain-lain di situ,” kata Direktur Utama (Dirut) Zulkifli Zaini di sela rapat dengar pendapat di DPR, Rabu (17/6/2020).

Beberapa pihak menentang pembangunan PLTA dimaksud karena dipandang mengancam keberadaan spesies orangutan. Menurut advokat lingkungan dan ahli fauna setempat pembangkit akan merusak habitat orangutan.

“Kami sudah menerima permintaan pengembangan Batang Toru untuk menunda COD Batang Toru selama tiga tahun. Juga karena adanya covid,” kata Zulkifli. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button