Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

PLTS Kejar 6,5 GW di 2025

PLTS Kejar 6,5 GW di 2025
Ilustrasi

Listrik Indonesia | IESR mencatat kapasitas terinstal pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)  sebesar 152 MW hingga tahun 2019, hanya tersisa 6 tahun untuk mencapai target 6.5 GW di tahun 2025.

Hapsari Damayanti Program Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam catatanya mengungkapkan, hingga tahun 2019 kapasitas terinstall sebesar 152 MW untuk off grid sebesar 59%, on grid 30% dan on grid surya atap 11%.

Menurutnya, surya atap sangat berpeluang untuk mengejar target tersebut. Dengan berbagai tantangan yang ada, visi keberlanjutan dan regulasi yang lebih baik mendorong pemanfaatan listrik surya atap pada pelanggan bisnis dan industri.

Ia menilai masih ada tantangan untuk penggunaan surya atap baik untuk rumah tangga dan industri lebih massif lagi seperti proses perizinan yang rumit, skema transaksi net metering, Untuk bisnis dan industri yang beroperasi pada hari kerja, Skala keekonomian umumnya tercapai untuk proyek skala medium-besar (>1 MW), Resiko pemasangan surya atap pada asuransi gedung.

Lebih lanjut, ia menguraikan hammbatan PLTS skala besar. Tingkat komponen dalam negeri, Peningkatan TKDN: 40,68% (2017) menjadi 60% (2020) disaat kapasitas manufaktur lokal ~500 MW. Harga modul lokal 40-60% > harga modul impor. Ketersediaan lahan di lokasi yang sesuai, Mendapatkan lahan yang tersedia, murah, iradiasi yang tinggi, dan dekat dengan jaringan PLN.

Tarif yang tidak menarik, tarif 85% BPP local jika BPP local > BPP nasional Tarif sesuai negosiasi jika BPP nasional > BPP lokal. Alokasi resiko yang tidak seimbang, risiko kerusakan jaringan PLN yang dibebankan kepada IPP dengan grace period selama 14 hari. Tingkat pengembalian (IRR) yang tidak wajar, 7.5% IRR saat terminasi proyek. Skema pembiayaan, Skema take or pay terbatas pada periode pelunasan ke pemberi pinajaman,, tidak selama periode konsesi. Tingginya suku bunga, Bank lokal umumnya menawarkan suku bunga 10-12%. Transparansi procurement, Proses dan timeline procurement yang tidak terprediksi. Alokasi proyek, spesifikasi teknis, dan komersial berubah-ubah.

“6.5 GW dapat tercapai karena potensi proyek dan berbagai inisiatif yang semakin terlihat,” ujarnya. (Cr)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button