NEWS
Trending

Program Bioetanol Digeber Guna Kurangi Impor BBM

Program Bioetanol Digeber Guna Kurangi Impor BBM
Dok. Istimewa

Listrik Indonesia | Indonesia terus menggenjot pengembangan energi bersih berbasis energi baru dan terbarukan untuk menggantikan bahan bakar berbasis fosil. Namun, situasi perekonomian global yang diprediksi tidak bersahabat pada 2023 akibat berlarutnya perang Rusia-Ukraina, menyebabkan dunia perlu meninjau kembali rencana peta jalan yang berkaitan dengan energi bersih.

 

Dari tahun ke tahun, produksi migas selalu tidak pernah terpenuhi target. Misalnya untuk produksi 2022, pemerintah menetapkan target produksi sesuai ketetapan APBN 2022 sebesar 660.000 barel per hari. Namun, realisasi produksi hanya 612.712 barel per hari.

 

Tahun ini, pemerintah telah menetapkan target lifting minyak mentah dan gas bumi, masing-masing 660.000 barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak. Target sesuai itu tertuang di APBN 2023.

 

Persoalannya, produksi migas yang dihasilkan selama ini belum mampu untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Rata-rata kebutuhan di dalam negeri di kisaran 1,4 juta barel per hari. Sisanya, harus dipenuhi melalui impor.

 

Sejumlah cara dilakukan untuk memperoleh produk yang nantinya mampu menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM). Beberapa program untuk konversi, antara lain, program biodiesel-35 (B-35) dan bioetanol, yang semula 5 persen (E5) hingga E20.

 

Bukti keseriusan pemerintah untuk menjadikan bioetanol berbasis tebu sebagai salah satu opsi konversi BBM juga dikemukakan Presiden Joko Widodo dalam pelbagai kesempatan, salah satunya ketika kunjungan kerja di Jawa Timur.

 

Berkaitan dengan program itu, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengatakan, produksi bioetanol berasal dari tiga pabrik. Dari ketiga pabrik itu, dua di antaranya berasal dari wilayah Jawa Timur, yakni PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Kabupaten Mojokerto dengan 30.000 kilo liter (kl) dan PT Molindo Raya Industrial di Kabupaten Malang dengan 10.000 kl. Sedangkan satu lagi berada di Yogyakarta. Yakni, PT Madu Baru di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dengan 3.600 kl.

 

"Dengan kapasitas tersebut rencana akan diimplementasikan E5 di wilayah Surabaya dan sekitarnya dan saat ini masih dibahas dan dipastikan kembali kesiapan implementasinya," ujar Dadan.

 

Dadan menjelaskan, pemerintah sejauh ini belum menetapkan alokasi pengadaan tahunan BBN bioetanol sebagaimana yang telah dilakukan pada penyediaan biodiesel sebanyak 13,15 juta kl untuk program B35 pada 2023. "Untuk rencana implementasi bioetanol tidak sama dengan mekanisme pengadaan biodiesel. Karena tidak ada insentif, maka tidak ada proses penetapan alokasi," ujar Dadan. (*)

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button