NEWS
Trending

Reformasi Kelistrikan Secara Menyeluruh

Reformasi Kelistrikan Secara Menyeluruh
Listrik Indonesia | Sektor ketenagalistrikan penuh dengan tantangan dan ketidakefisienan, belum lagi kasus pencurian listrik yang dapat dijumpai sebagai problematika sehari-hari dan kesemrawutan kabel yang tak sedap dipandang juga membahayakan. Karena itu, perlu suatu reformasi pengelolaan di sektor ketenagalistrikan nasional mengarah yang lebih baik.

Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi menyebutkan, untuk mencapai reformasi kelistrikan nasional ada dua indikator yang harus diperhatikan. Pertama, rasio elektrifikasi dimana program 35.000 MW adalah tantangan yang memang harus dijawab. Dalam menjawab tantangan tersebut, ada aspek yang harus disentuh antara lain ketersediaan pasokan energi, pembangunan infrastruktur kelistrikan dengan penambahan kapasitas dan teknologi mutakhir.

Indikator kedua ialah harus berani melepas ketergantungan dari energi fosil yakni batu bara dan bahan bakar minyak. Mengandalkan energi masa depan seperti dari energi terbarukan, atau bahkan nuklir. Mengimplementasikan energi terbarukan masih terkendala ongkos dan juga stabilisasi energinya, hal ini yang membuat sejumlah operator di sektor energi terbarukan merugi. Fahmy berpendapat, Pemerintah perlu memberi intensif kepada pengembang energi terbarukan. Semisal, membangun infrastrukturnya selama ini infrastruktur mayoritas dibangun oleh pihak pengembangnya, hal ini yang menyebabkan investasi energi terbarukan mahal.

“Indikator tersebut untuk pengelolaan sektor ketenagalistrikan nasional mengarah yang lebih baik lagi,” tuturnya. Lanjut katanya, “Indonesia masih mengandalkan batu bara sebesar 57 persen, seharusnya dalam RUEN (rencana umum energi nasional) porsi energi terbarukan dapat lebih diprioritaskan,” katanya.

Upaya Pemerintah menyediakan listrik 35.000 Megwatt (MW) selama kurang lebih lima tahun sejak 2014, membutuhkan dana sekitar Rp 1.200 triliun. PLN diharuskan membangun pembangkit sebesar 10.000 MW dengan nilai investasi sebesar Rp 585 triliun. Lalu, dari investor swasta membangun pembangkit listrik sebesar 25.000 MW dengan biaya sekitar Rp 615 triliun. Dari total dana Rp 585 triliun, PLN mengalokasikan untuk pembangunan pembangkit sebesar Rp 200 triliun dan Transmisi serta gardu induk sebesar Rp 385 triliun. Untuk membangun jaringan distribusi dan  transmisi sepanjang 46.000 kilometer sirkit (kms), dan membangun gardu induk sebanyak 109 mega volt ampere (MVa) dari Sabang – Merauke.

Fahmy juga menyampaikan, energi nuklir juga sudah harus diperhatikan, karena Indonesia dengan wilayahnya yang luas membutuhkan kapasitas yang besar, maka dengan memanfaatkan energi nuklir  salah satu cara untuk dapat mencapai kapasitas yang dibutuhkan dengan cepat.

“Kita harus berani berubah salah satu cara untuk mencapai 35.000 megawatt dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Energi terbarukan juga harus didukung teknologi yang mutakhir” pungkasnya. (GC)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button