NEWS
Trending

Revolusi Industri 4.0 Peningkatan Produktivitas Hingga Kunci Kepercayaan Konsumen

Revolusi Industri 4.0 Peningkatan Produktivitas Hingga Kunci Kepercayaan Konsumen
Listrik Indonesia - Jakarta | Xavier Denoly, Country President Indonesia Schneider Electric mengungkapkan, industri makanan dan minuman merupakan salah satu industri yang menjadi percontohan penerapan revolusi industri 4.0. Namun berdasarkan data yang rilis oleh Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) pada April 2018, dari 6.875 industri makanan dan minuman skala menengah besar, saat ini baru 20% yang sudah menuju industri 4.0, meski belum di seluruh rantai nilai produksi. Lalu pertanyaannya seberapa perlu industri ini beralih ke smart manufacturing? Dan mengapa?  

Bila kita melihat dari karakteristik industrinya, produsen makanan dan minuman menghadapi banyak tantangan yang sama seperti perusahaan di industri lainnya– margin tipis, peralatan yang menua dan anggaran pengadaan teknologi yang minim.

Problem lainnya adalah konsumen saat ini menuntut lebih banyak variasi produk daripada sebelumnya - menurut Fortune, meningkatnya permintaan akan variasi produk adalah salah satu penyebab utama banyaknya pergantian manajemen di perusahaan makanan dan minuman global beberapa tahun terakhir ini  Bayangkan saja dalam satu merek produk biskuit misalkan, perusahaan harus memproduksi hingga belasan varian biskuit mulai dari pilihan rasa, penambahan kandungan yang berbeda (seperti tambahan kalsium, vitamin, dsb), produk khusus untuk pengidap penyakit tertentu (seperti diabetes atau darah tinggi) dan masih banyak lagi.

Semakin banyak varian yang diproduksi, semakin tinggi biaya produksi. Permintaan varian produk yang meningkat berarti perusahaan harus lebih berinovasi dan sekaligus bekerja dengan lebih cerdas untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional agar tetap kompetitif.

Kedua, konsumen yang semakin terhubung secara digital mengharapkan produsen lebih transparan dalam menyampaikan informasi dan akan bereaksi dengan sangat cepat terhadap masalah terkait keamanan dan kesehatan dari produk yang dikonsumsinya.

Untuk itu sangat penting bagi produsen makanan dan minuman untuk memiliki sistem pelacakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir serta sistem jaminan mutu produk, yang tidak hanya bertujuan untuk mengatur efesiensi dan efektivitas produksi, namun juga untuk memberikan informasi yang akurat dan merespon dengan cepat dan efisien. Transformasi digital memungkinkan perusahaan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan konsumen, menjaga kualitas dan mengurangi risiko kesalahan, serta memenangkan hati konsumen.

Lebih jauh Vavier menjelaskan, perawatan aset seperti mesin yang kurang baik akan berdampak terhadap efektivitas dan kualitas produksi. Namun sering kali perusahaan melihat aspek perawatan aset sebagai hal yang dapat ditunda dan dianggarkan dengan budget yang minim, sehingga perawatan baru dilakukan ketika terjadi gangguan atau kerusakan pada aset. Padahal apabila dihitung lebih seksama, biayanya menjadi sangat tinggi karena tidak hanya biaya untuk perbaikan namun dampak terhadap terhentinya kegiatan operasional dan produksi akibat kegiatan perbaikan aset.   

Pemanfaatan Industri 4.0 atau smart manufacturing, yang menggabungkan Industrial Internet of Things (IIoT), Big Data and analytics, Cloud, mobility dan augmented and virtual reality (AR/VR), memberikan kemampuan lebih untuk produsen makanan dan minuman untuk memvisualisasikan potensi masalah, mencari solusi alternatif, dan memahami dampak dari keputusan yang mereka buat untuk meningkatkan keandalan operasional ke tingkat yang baru. Pengelolaan energi juga dapat dilakukan secara efisiensi sehingga biaya energi dapat ditekan.

Dalam lingkungan yang kompetitif ini, sangat penting bahwa perusahaan meningkatkan kecepatan distribusi produknya ke pasar. Tuntutan baru untuk variasi produk baru dapat muncul tiba-tiba. Perusahaan harus dapat merespons dengan cepat terhadap diet yang sedang tren atau meningkatnya permintaan akan bahan tertentu. Dengan semakin banyak perusahaan beroperasi secara global, artinya perusahaan harus memastikan produk yang diproduksinya menyesuaikan dengan peraturan BPOM yang berlaku di negara asal. Bahan yang diperbolehkan di satu negara dapat menjadi tidak diizinkan dalam konteks yang sama di negara atau wilayah yang berbeda. Ini berarti perusahaan harus tetap fleksibel dalam operasinya.

Kecenderungan yang sama terlihat dalam sisi pengemasan produk. Karena ada peningkatan permintaan untuk produk dan kemasan untuk acara-acara tertentu yang bersifat musiman, perusahaan harus dapat dengan cepat menciptakan variasi kemasan baru, namun tanpa perlu mengeluarkan tambahan biaya pengepakan yang mahal. Digitalisasi memberi perusahaan kemampuan untuk menjadi lebih responsif terhadap konsumen dan mengurangi waktu distribusi ke pasar. (DH)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button