AGENDA Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

RUPTL 2021-2030, Pembangkit EBT Mulai Diprioritaskan

RUPTL 2021-2030, Pembangkit EBT Mulai Diprioritaskan
Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini Saat Memaparkan Ringkasan RUPTL PLN 2021-2030

Listrik Indonesia | Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang telah ditunggu-tunggu, kini telah didiseminasikan oleh PT PLN (Persero). Dalam RUPTL tersebut pembangkit listrik yang berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) mulai diprioritaskan pembangunannya.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana dalam sambutannya menjelaskan, RUPTL dalam setiap tahunnya tidak mengalami perubahan yang signifikan, namun pada 2021 akibat Pandemi Covid-19 pada kahir 2019 yang melanda dunia yang mengakibatkan menurunnya ekonomi dan penurunan konsumsi tenaga listrik. Selain itu, RUPTL juga  memuat tuntutan dunia untuk menghadirkan energi bersih.

“Pandemi Covid-19 memengaruhi lamanya proses RUPTL yang  memerlukan waktu penyusuaian asumsi yang digunakan dengan  banyak melibatkan lembaga terkait. Kemudian RUPTL dipengaruhi kebijakan nasional seperti dorongan transisi energi, penggunaan smart grid guna meningkatkan penertrasi pembangkit EBT dan sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sistem tenaga listrik

Pada kesempatan  yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan, arah Kebijakan Energi Nasional (KEN) ialah transisi dari energi fosil menuju EBT yang ramah lingkungan. Hal ini dengan KEN dan RUPTL menguatkan kembali komitmen Indonesia pada target Paris Agreement dengan menjaga kenaikan temperatur global tidak melebihi 2o celcius dan mengupayakan menjadi 1,5o celcius.

Kemudian komitmen nasional sesuai amanat UU Nomor 16 tahun 2016 Tentang Pengesahan Paris Agreement to The UNFCCC di mana penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% tanpa syarat di bawah business as usual (BAU) dan 41% bersyarat dengan dukungan Internasional yang memadai pada 2030.  Selain itu, menghadirkan energi bersih diperkual oleh komitmen sektor energi yang mengharuskan menurunkan emisi GRK  sebesar 314-446 juta Ton CO2 pada 2030 melalui pelaksanaan efisiensi energi, koservasi energi, dan penerapan teknologi energi bersih.

“Dalam mengatasi perubahan iklim disikapi dengan roadmap Net Zero Emission (NZE). Salah satu tantangan yang harus dihadapi menuju NZE adalah menyediakan listrik yang rendah karbon dengan mengurangi dominasi fosil terutama batu bara pada sektor pembangkitan, industri juga dituntut menggunakan energi yang rendah karbon agar produknya dapat diserap oleh pasar Internasional,” ujar Arifin Tasrif dalam acara diseminasi RUPTL PLN 2021-2030. Selasa, (5/10/2021).

Pada RUPTL yang baru ini porsi EBT sebesar 51,6 persen pada komposisi tambahan pembangkit sementara komposisi pembangkit fosil sebesar 48,4 persen. Arifin Tasrif juga menyampaikan pencapaian rasio elektrifikasi nasional, pada Juni 2021 tercatat rasio elektrifikasi mencapai 99,37% dan rasio desa berlistrik 99,61%.

Adapun rencana tambahan pembangkit RUPTL PLN 2021-2030 dijelaskan oleh Menteri ESDM pada gambar di bawah ini:

Menteri ESDM Arifin Tasrif Saat Menjelaskan Penambahan Pembangkit Dalam RUPTL PLN 2021-2030

RUPTL Dorong Penggunaan EBT

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini menyebutkan ringkasan RUPTL 2021-2030. RUPTL 2021-2030 disusun dalam ketidakpastian demand yang diakibatkan oleh pandemi CoviD-19. Realisasipertumbuhan listrik pada tahun 2020 hanya sebesar -0,799%, sehingga selanjutnya diproyeksikan pertumbuhan listrik untuk 10 tahun ke dapan rata-rata sebesar 4,9% per tahun, lebih rendah daripada RUPTL 2019-2028 dengan rata-ratasebesar 6,49% per tahun.

Program 35 GW yang telah direncanakan sejak tahun 2015 sebagian besar telah memasuki masa konstruksi dan akan segera beroperasi. Hal ini akan berpotensi terjadinya oversupply karena demand yang rendah. PLN telah menyusunbeberapa upaya untuk mengurangi risiko atau dampak oversupply.

Lebih lanjut, Ia menyebut,RUPTL 2021-2030 merupakan RUPTL paling Green yang digunakan sebagai landasan untuk mencapai Cartbon Neutral2060. PLN berkomitmen mencapai bauran energi dari EBT sebesar 239% mulai tahun 2025 dan mendukung porsi EBT pada rencana pembangkit baru lebih dari 50%.

Pengembangan pembangkit EBT juga harus memperhitungkan keseimbangan antara supply & demand, kesiapansistem, keekonomian, serta harus dikuti dengan kemampuan domestik untuk memproduksi industri EBT sehinggaIndonesia tidak hanya menjadi importir EBT.

Transisi energi harus tetap memperhatikan trilema security of supply, sustainability dan affordability. Transisi energi ke EBT merupakan upaya bersama antara PLN, Pemerintah dan semua pihak, sehingga dampak biayanya agar tidak dibebankan hanya pada PLN maupun masyarakat, namun perlu didukung juga oleh Pemerintahmaupun lembaga-lembaga donor Internasional.

Langkah PLN dalam menuju transisi energi. Pertama, meningkatkan COD PLTP dan PLTA dalam bauran energi. Kedua, dedieselisasi dengan PLTS 1,2 GWp dengan baterai. Ketiga, pembangunan PLTS 4,7 G. Keempat, Cofiring Biomassa oleh PLTU.

“PLN juga mendorong penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik, dan setelah tahun 2025 PLN bakal menggantikan peran PLTU ke pembangkit EBT sebesar 1 GW,” ujarnya.

 

 

 

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button