MEGA PROJECT
Trending

RUPTL 2021 – 2030 Diyakini Dongkrak Investasi Ketenagalistrikan

RUPTL 2021 – 2030 Diyakini Dongkrak Investasi Ketenagalistrikan

Listrik Indonesia | Meski Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 masih dalam pembahasan, namun terbitnya RUPTL 2021-2030  nanti diyakini mampu mendongkrak investasi ketenagalistrikan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Rida Mulyana mengatakan, dalam RUPTL 2021-2030 menekankan pergeseran porsi untuk energi baru terbarukan (EBT) yang lebih besar dibanding sebelumnya.

“Kalau dibandingkan dengan pada RUPTL 2019-2028 porsi pembangkit fosil dan energi baru terbarukan pada saat itu masih 70 berbanding 30 persen,” jelasnya.

Ia memaparkan, berdasarkan RUPTL tersebut, dalam 10 tahun ke depan menargetkan 41 ribu Megawatt tambahan pembangkit listrik. Itu dimaksudkan untuk menjaga reserve margin atau cadangan daya pembangkit di tingkat aman, tetapi juga tidak boros.

"RUPTL 2021-2030 dalam waktu dekat bisa diselesaikan, sehingga kemudian ini bisa jadi patokan kita semua, termasuk untuk para investor baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri. Karena kita juga pada masa pandemi ini makin mengemuka pentingnya investasi di segala sektor, termasuk di subsektor ketenagalistrikan," tegas Rida pada saat rapat dengan Komisi VII beberapa waktu lalu.

Terkait kesiapan industri dalam negeri pada Mega Proyek Ketenagalistrikan 35.000 Megawatt. Menurut Rida, kesiapan industri dalam negeri untuk ikut berpartisipasi pada proyek pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan transmisi dan distribusi sudah cukup baik, namun proporsi untuk proyek pembangunan pembangkit tenaga listrik masih sangat rendah. Beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut antara lain:

 

Sebagian besar IPP mengklaim mesin/peralatan utama dari lokal tidak memenuhi spesifikasi yang mereka inginkan, namun produsen lokal mengklaim produk mereka sudah sesuai spesifikasi, dan mereka dapat memproduksi sesuai permintaan apabila vendor memberikan detail/technical desain engineering-nya, untuk itu solusinya perlu adanya kepastian dan kesamaan acuan basis standar antara produsen lokal dan impor.

 

Ditambah, belum adanya forum fasilitasi yang mempertemukan produsen lokal dengan investor sehingga produsen lokal tidak dapat mempersiapkan kapasitas produknya untuk memenuhi volume dan harga yang diinginkan, mesin/ peralatan pembangkit tenaga listrik umumnya tidak ada ready stock karena bersifat customized (sesuai pesanan) sehingga investor cenderung menganggap produsen lokal tidak mampu dari kualitas, kuantitas maupun waktu, sementara produsen lokal tidak memulai investasi produksi apabila tidak ada kepastian permintaan volume setiap tahunnya, hal ini menjadi lingkaran masalah, salah satu solusinya adalah mempertemukan produsen lokal dengan investor dimulai sejak periode perencanaan proyek.

 

“Pada prinsipnya, industri ketenagalistrikan harus siap dan mampu untuk bersaing dengan industri global sehingga pembangunan sektor ketenagalistrikan dapat dijadikan momentum oleh industri untuk berkembang dan menjadi tuan ditanah sendiri. Investasi sektor ketenagalistrikan dapat meningkatkan pertumbuhan industri yang akan menggerakan ekonomi nasional,” ujar Rida kepada Listrik Indonesia belum lama ini.

"Dengan yang sekarang kita upayakan lebih hijau, dengan komposisi sementara 48 persen untuk EBT dan 52 persen untuk fosil. Jadi porsi EBT-nya akan lebih besar,” pungkasnya.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button