NEWS Association PROFILE
Trending

Sejarah AKLI, Berawal Target PLN Tambah Konsumen Baru

Sejarah AKLI, Berawal Target PLN Tambah Konsumen Baru
Petugas instalasi bekerja [Foto: nikifour.co.id - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Peran pengusaha atau perusahaan kontraktor listrik dan mekanikal dalam pembangunan kelistrikan dan energi tak dapat dipandang sebelah mata. Mereka ujung tombak pengaplikasian penggunaan tenaga listrik bagi masyarakat.

Guna memantapkan konsolidasi partisipasinya, segenap perusahaan kontraktor bernanung dalam satu wadah organisasi. Aspirasi dan kepentingan para anggota pun diperjuangkan di sini.

Organisasinya itu tiada lain Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia, disingkat AKLI. Berikut sekilas sejarah pembentukan AKLI dan ruang lingkup asosiasi ini.


HILI ke AKLI

Berawal dari pertemuan pengusaha instalatir yang sehari-hari bekerja sama dengan PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, mencuat pemikiran pentingnya menghadirkan organisasi bagi mitra Perusahaan Listrik Negara dimaksud.

Ide itu dikemukakan GM PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang saat itu, Ketut Kontra, yang memprakarsai pertemuan. Menurutnya, kualitas kerja sama instalatir dengan PLN dapat ditingkatkan dengan adanya asosiasi. 

BACA JUGA: APPI, Berawal dari Kumpulan Produsen Panel Listrik

Ketut pada pertemuan tersebut, sebut situs web Akli.org, mengajak para instalatir meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. PLN menargetkan peningkatan penyambungan listrik setelah ketersediaan tenaga listrik semakin membaik.

Kelanjutan pertemuan awal, yakni pada 12 September 1979, para pengusaha instalatir menyepakati bulat pembentukan organisasi. Namanya Himpunan Instalatir Listrik Indonesia (HILI) di Jakarta.

Terbentuknya HILI dan keberadaan wadah serupa di kabupaten/kota lain di berbagai provinsi di tanah air, muncul gagasan untuh berhimpun dalam cakupan lebih luas. 

Gayung bersambut, kerja keras tim kecil Syamsul Bahri Yusuf berhasil menggelar Konvensi I Instalatir Listrik se-Indonesia pada 23-24 September 1980. Konvensi digelar di kantor PLN Jakarta Pusat, atas bantuan Direktur Pengusaha PLN Bambang Sarah.

Salah satu hasil konvensi edisi perdana, yakni menyepakati ruang lingkup pekerjaan listrik tidak hanya instalasi, tetapi juga pekerjaan jaringan dan pembangkitan. Hal ini sejalan dengan pembangunan kelistrikan yang digalakkan pemerintah. 

Atas konteks tersebut, nama HILI diganti menjadi AKLI, singkatan Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia. Ditetapkan pula tanggal 24 September 1980 merupakan hari jadi AKLI.


Perkembangan AKLI

Seiring perputaran roda pembangunan yang semakin kencang melalui PELITA I hingga IV, AKLI saat itu pun tumbuh dan berkembang sejalan geliat kelistrikan di Indonesia yang tumbuh rata-rata 14-25 persen per tahun.

BACA JUGA: AESI di HLN ke-75: Perlu Ekosistem Kebijakan yang Tepat

Saat didirikan pada 1980, jumlah anggota AKLI sebanyak 828 perusahaan. Anggota bertambah sekitar lima ribu pada 2004. Mereka terdiri atas: 
- Perusahaan kualifikasi K3, untuk pekerjaan sampai dengan Rp100 juta
- Perusahaan kualifikasi K2, untuk pekerjaan sampai dengan Rp400 juta
- Perusahaan kualifikasi K1, untuk pekerjaan sampai dengan Rp1 miliar
- Perusahaan kualifikasi M2, untuk pekerjaan sampai dengan Rp3 miliar
- Perusahaan kualifikasi M1, untuk pekerjaan sampai dengan Rp10 miliar
- Perusahaan kualifikasi B, untuk pekerjaan sampai di atas Rp10 miliar.

Berdasarkan golongan penanggung jawab teknik (PJT):
- PJT Golongan A, untuk pekerjaan instalasi listrik sampai dengan 25 kVA
- PJT Golongan B, untuk pekerjaan instalasi listrik sampai dengan 99 kVA dan jaringan tegangan rendah
- PJT Golongan C, untuk pekerjaan jaringan tegangan rendah dan menengah, sambungan tegangan menengah dan pembangkit sampai dengan 500 kW
- PJT Golongan D, untuk semua pekerjaan kelistrikan. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button