Brand CORPORATION NEWS
Trending

Sejarah PLN: Dari Pabrik Gula Tebar Senyum Manis

Sejarah PLN: Dari Pabrik Gula Tebar Senyum Manis
Senyum bocah Wamena, Papua, malam hari belajar dengan penerangan listrik kali pertama [Foto: Dok. PLN - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - "Tersimpul senyum dari wajah adik-adik di Wamena, Papua, tatkala terang pertama kali mereka rasakan. Sebuah wujud 'merdeka belajar' untuk masa depan yang mandiri."

Demikian petikan kiriman @pln_id, akun instagram resmi PT PLN (Persero), pada Minggu, 2 Mei 2021. Kiriman bertema Hari Pendidikan Nasional ini disertai dua foto. 

Pertama, senyum dua bocah yang tengah belajar didampingi ibunya di dalam honai yang diterangi bola lampu listrik. 

Kedua, petugas lapangan PLN yang memanjat tiang listrik dengan latar belakang honai, rumah tradisional masyarakat Papua. 

Tak ditampik, suplai tenaga listrik diharap setiap saat oleh seluruh keluarga yang bermukim di pusat kota metropolitan hingga pelosok wilayah nusantara di pegunungan hingga pulau-pulau terjauh. 

Akses listrik sama dengan hak dasar warga negara memperoleh sandang-pangan yang terjangkau. Bukan cuma warga biasa, perkantoran dan sarana umum, serta industi membutuhkan pasokan tenaga listrik. 

BACA JUGA: Sejarah PLN Batam: Dari Pulau Kecil Untuk Nusantara

Tak heran bila saat aliran listrik terputus, tak sedikit konsumen mengumpat, marah, atau dongkol. Demikianlah, PLN itu di-"benci" oleh pelanggannya, alias "benar-benar cinta".

Nah, mari mengenal sejarah kehadiran PT PLN (Persero).


Berawal di Pabrik Gula

Data yang dikumpulkan LISTRIK INDONESIA dari situs web PLN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan pembangkit listrik pertama dan selanjutnya di seantero nusantara berawal pada abad 19. Pembangkit dibangun untuk kebutuhan pabrik-pabrik gula milik pengusaha kolonial Belanda di tanah Jawa.

Produksi gula meningkat pesat setelah sistem tanam paksa pada 1830 diterapkan. Tebu rakyat dibeli pemborong kolonial. Selanjutnya dijual ke pabrik gula swasta.

Pada akhir 1890-an, Amerika Serikat (AS) menjadi target ekspor gula dari Jawa. Terlebih ketika AS menghentikan ekspor dari Kuba oleh Spanyol ke AS. Rentang 1900-1930, ekspor gula melebar ke Cina, Jepang, Hongkong, dan India.

Permintaan global yang terus meningkat memacu industri gula di Jawa menggunakan terknologi terkini guna memacu produktivitas pabrik. Pabrik swastapun bukan cuma dimiliki pengusaha kolonial Belanda, namun pebisnis etnis Cina juga memanfaatkan peluang.

BACA JUGA: ZULKIFLI ZAINI; Memberi Lebih

Wilayah Tegal merupakan salah satu lokasi pabrik gula dimaksud. Terdapat tujuh pabrik, yang awalnya di Desa Pangkah (1832). Dibangun oleh investor swasta melalui perusahaan NV Kosy & Sucier.

Untuk pengiriman gula ke luar, pemerintah kolonial Belanda membangun pelabuhan Tegal. Jalur kereta uap dari kawasan pabrik di selatan Tegal menuju pelabuhan digelar. Bahan baku tebu juga memanfaatkan infrastruktur ini.

Wilayah tengah dan timur Jawa merupakan sentra terbesar perkebunan tebu dan pabrik gula saat itu.



Pembangkit Untuk Umum

Suplai tenaga listrik untuk masyarakat umum disiapkan oleh perusahaan bernama Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM). Perusahaan ini berpusat di Belanda. 

Di Batavia, NIEM membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di tepi Sungai Ciliwung, di Gambir.

Pembangkit berkekuatan 3200+3000+1350 kW itu PLTU pertama di nusantara. Ia memasok kebutuhan listrik di Batavia dan sekitarnya. 

NIEM selanjutnya beroperasi pula di Surabaya melalui perusahaan berjuluk Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM). Saat itulah, suplai listrik menyebar ke kota-kota besar di Jawa. 

Pada 1927, kolonial Belanda membentuk s'Lands Waterkracht Bedriven (LWB). Perusahaan listrik ini mengelola pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di beberapa daerah.

BACA JUGA: PLN Malaysia, Berawal Generator Pertambangan Kecil 1894

Pembangkit dimaksud adalah PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi Utara, dan PLTU di Jakarta. 

Di beberapa kotapraja dibentuk perusahaan-perusahaan listrik dengan ruang lingkup kota. 


PLN Dibentuk

Kurun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda oleh Jepang. Ini buntut Belanda menyerah kepada Jepang pada awal Perang Dunia II

Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. 

Momentum tersebut dimanfaatkan pemuda dan buruh listrik. Perwakilan buruh listrik dan gas yang bersama-sama dengan elite Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) menghadap Presiden Republik Indonesia (RI) Soekarno. Maksud mereka menyerahkan perusahaan-perusahaan penjajah kepada Pemerintah RI. 

Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Tanggal ini kemudian menjadi tonggak Hari Listrik Nasional (HLN), sekaligus hari lahir PLN.

Selanjutnya pada 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pemimpin Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas, dan kokas --yang dibubarkan pada 1 Januari 1965.

Pada saat yang sama, dua perusahaan negara, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.

Pada 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17, status PLN ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK). Tanggung jawabnya menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.

BACA JUGA: Sejarah AKLI, Berawal Target PLN Tambah Konsumen Baru

Kemudian, seiring dengan kebijakan pemerintah memberikan kesempatan kepada swasta bergerak di bisnis penyediaan listrik maka sejak 1994 status PLN beralih dari perusahaan umum (perum) menjadi perusahaan perseroan (persero) dan sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.

Hari ini, jumlah pelanggan PLN hingga Juni 2020 sebanyak 77,19 juta. Bertambah 3,59 juta pelanggan dari posisi Juni 2019 atau setahun sebelumnya.

Pertumbuhan infrastruktur ketenagalistrikan sampai Juni 2020, PLN telah menambah kapasitas terpasang pembangkit sebesar 1.285,2 MW. 

Jaringan transmisi, khususnya untuk evakuasi daya pembangkit, yang telah beroperasi mengalami peningkatan sepanjang 950,9 kilometer sirkit (kms). Penambahan kapasitas gardu induk (GI) sebesar 2.890 Mega Volt Ampere (MVA). (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button