NEWS
Trending

Skandal Balongan: 3 Presiden, 6 Jaksa Agung, 2 Tersangka

Skandal Balongan: 3 Presiden, 6 Jaksa Agung, 2 Tersangka
Mantan Direktur Pengolahan Pertamina Tabrani Ismail (tersangka) dan Menteri Pertambangan dan Energi Ginanjar Kartasasmita (saksi) di Kejaksaan Agung, Jakarta [Foto: liputan6.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Sejak awal, kilang minyak khusus ekspor atau export oriented (exor) Balongan didesain menjadi arena bacakan. Pabrik pemurnian minyak terbesar Indonesia ini dibangun dengan biaya kemahalan. Lebih mahal US$800 juta dibanding proyek sejenis di luar negeri.

Bukan hanya saat pengerjaan konstruksi, tindak korupsi pun berlangsung saat produksi dan penjualan. Persekongkolan jahat berlangsung demikian terbuka oleh pejabat-pejabat super penting negeri.

Skandal Balongan mulai mencuat medio 1989, tak lama setelah Soeharto lengser. Sebulan pasca B.J. Habibie dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) pada 21 Mei 1989, DPR mulai mengungkit borok PT Pertamina (Persero). 

Korupsi Balongan mulai ditangani "serius" oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) saat dipimpin Andi Muhammad Ghalib. Belakangan digantikan oleh wakilnya, Ismudjoko.

BACA JUGA: Pencegahan Korupsi, Kementerian ESDM Berkoordinasi dengan KPK

Saat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur duduk sebagai Presiden produk Sidang Umum MPR, kasus Balongan semakin ramai disorot oleh berbagai pihak. Ia benar-benar menjadi "menu" politisi.

Di era Gus Dur, tiga Jaksa Agung yang menggarap korupsi Balongan; Marzuki Darusman, Baharuddin Lopa, dan Suparman. 

Selanjutnya, Jaksa Agung  M.A. Rahman yang percaya Presiden Megawati juga mengusut skandal Balongan. Kasus ini dijadikan "benchmark" penanganan tindak pidana korupsi. Bahwa mereka bekerja.

Akhirnya, setelah empat tahun lebih, tepatnya 2002, Kejagung memiliki keberanian menetapkan tersangka. Mantan Direktur Pengolahan Pertamina Tabrani Ismail dan Erry Putra Oudang --putra saudara ipar Nyonya Tien Soeharto-- yang disebut calo Foster Wheelers International Corporation (FW). Mereka disebutkan sebagai tersangka kasus mark up proyek Exor I Balongan.

BACA JUGA: Erick Buka Data Awal Jabat Menteri, 159 Kasus Korupsi BUMN

Dengan demikian, proses penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi kakap ini berlangsung di bawah pengaruh tiga Presiden dan enam Jaksa Agung. Bergulir tiga tahun lebih, hasilnya adalah dua orang tersangka.  

Dan, satu-satunya yang divonis bersalah hanya Tabrani. Dia divonis enam tahun penjara.

Aktivis dan peneliti George J. Aditjondro menegaskan skandal Balongan merupakan contoh gamblang potret aksi komprador domestik yang menjadikan Indonesia bulan-bulanan kapitalisme global. 

Borjuis domestik inilah yang melicinkan jalan transnational corporation jahat menguras sumber daya Indonesia, dan negara dunia ketiga lainnya. Judulnya menanamkan modal atau berdagang, namun sesungguhnya sistem ekonomi politik yang diusung adalah penjajahan. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button