NEWS PROFILE
Trending

STRATEGI ENERGI NASIONAL, DORONG PERTUMBUHAN EKONOMI

STRATEGI ENERGI NASIONAL, DORONG PERTUMBUHAN EKONOMI

Listrik Indonesia | Akibat Pandemi virus corona (Covid-19) ekonomi nasional mengalami resesi yang sebelumnya juga pernah terjadi pada krisis moneter 1998. Hingga kini, sektor energi masih menjadi tulang punggung pendapatan Negara, tak ayal Pemerintah membuat strategi ketahanan energi dengan tujuan membangkitkan kembali ekonomi nasional melalui Grand Strategi Energi Nasional yang dicetuskan oleh Dewan Energi Nasional (DEN).
 

Saat ini perekonomian global termasuk Indonesia mengalami ketidakpastian dan mengarah pada resesi ekonomi karena pandemi Covid-19. Dampaknya pertumbuhan ekonomi nasional negatif pada Triwulan I dan II Tahun 2020 dan menimbulkan efek domino dari kesehatan ke masalah sosial dan ekonomi, termasuk pelaku usaha.

Badan Pusat Statistik mencatat laju pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I (Januari - Maret) 2020 hanya tumbuh 2,97%. Angka ini melambat dari 4,97% pada Kuartal IV 2019. Bahkan, pertumbuhan jauh di bawah pencapaian Kuartal I 2019 yang mencapai 5,07%. Dan pada Kuartal II Tahun 2020 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32%.

Dalam hal ini sektor energi mempunyai peranan penting dalam mendongrak ekonomi nasional. Sejumlah strategi tengah disusun oleh para stakeholders Negara untuk menyesuaikan guna meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor energi.

Sekretaris Jenderal DEN, DR, Ir Djoko Siswanto saat ditemui Listrik Indonesia di kantornya, ia menyampaikan, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada Oktober 2020 meminta agar sektor energi ke depan dapat mendukung ekonomi nasional dengan adanya pandemi seperti sekarang ini. Sekaligus juga Ketua DEN (Joko Widodo) menginginkan adanya keselarasan usulan Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) 2021-2040 dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

“Ini juga sebagai bentuk penyempurnaan terhadap Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2017 tentang RUEN,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Djoksis ini menuturkan, dalam RUEN diasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 sampai 8 persen, kemudian dilanda pandemi. Sehingga demand energi dan ekonomi menurun. Maka, DEN menyesuaikan GSEN sebagai  bahan masukan dalam RUEN untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 4 hingga 5 persen demand-nya.

“Secara realistis pertumbuhan 5 persen di saat pandemi itu sudah baik. GSEN disusun dengan visi mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ujarnya pada Mei lalu.

Dalam Sidang Paripurna Ke-5 DEN pada 20-April-2021 yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo selaku Ketua DEN. Mengemukakan program dari GSEN tersebut antara lain persoalaan terkait meningkatnya permintaan energi untuk jangka panjang dan terbatasnya pasokan sumber daya dalam negeri.

Untuk mengatasi hal tersebut, dijelaskan oleh Djoksis, Pemerintah berupaya meningkatkan energi fosil di dalam negeri. Di mana saat ini sebagian besar energi fosil masih mengandalkan impor seperti LPG (liquefied petroleum gas) dan minyak mentah (crude oil).

Upaya yang dilakukan untuk menekan impor energi tersebut, lanjut Djoko Siswanto menjelaskan, untuk miyak mentah Pemerintah melakukan penambahan kilan-kilang baru, hal ini mengacu pada program SKK Migas yakni 1 juta barel per hari. Sementara mengurangi impor LPG Pemerintah juga meningkatkan produksi LPG dalam negeri, sembari membangun jaringan gas (Jargas) untuk masyarakat dan industri.

“Kalau batu bara dan Liquefied Natural Gas (LNG) kita masih bisa ekspor. Untuk mensibtitusi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang penggunaannya didominasi oleh transportasi dan industri. Karena itu, GSEN mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan,” terangnnya.

Ia membeberkan, target kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT tahun 2025 mencapai 24 ribu Mega Watt (MW). Selanjutnya, pada tahun 2035 ditargetkan ada penambahan pembangkit listrik EBT sebesar 38 ribu MW dari kapasitas terpasang saat ini. Salah satu strategi yang diusung Pemerintah adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi surya.

 

“Nanti backbone-nya kita upayakan dari energi surya yang dari perkembangannya makin ekonomis,” tuturnya.

 

“Pemerintah akan mempercepat proses hilirisasi dari produk-produk batu bara. Pemerintah ingin mencapai target 100 persen elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia. Demikian juga dengan penyediaan BBM Satu Harga, akan terus dilakukan agar bisa dinikmati oleh seluruh rakyat di pelosok tanah air. Program-progra ini bisa membangkitkan ekonomi kerakyatan di daerah-daerah tersebut,” imbuhnya.

 

Ia menegaskan, apabila program-program GSEN tidak tercapai target. Maka DEN akan mengevaluasinya. DEN akan berkoordinasi oleh pihak pelaksana, dengan menyisir kendala-kendala beleid tersebut. “Tentu setelah dievaluasi kita akan membuat suatu rujukan kebijakan agar kendala tersebut cepat terselesaikan,” tegasnya.

Pacu Energi Terbarukan

DEN juga memastikan ketersedian energi sekaligus mengubah komposisi lebih condong ke EBT, inovasi dan kesiapan teknologi dengan menggandeng Kemenristek dan Kementerian ESDM. Lima inovasi teknologi yang tengah dipersiapkan adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) dari Kelapa Sawit, biogas – alternatif terbaik di tempat-tempat terpencil, Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Panas Bumi skala Kecil, baterai kecil dan teknologi nuklir. Terkait, pengembangan energi nuklir dalam RUEN menjadi opsi terakhir.

“Secara teknologi kita sudah mampu memproduksi pane surya, kompor dan kendaraan listrik. Target akhir di 2024, kita bisa mendapatkan peningkatan dari EBT di dalam energy mix nasional. Meski nuklir menjadi opsi terakhir tetap kita jalankan risetnya,” jelasnya.

Menjawab soal wacana pembentukan Holding EBT. Ia mengatakan, di dalam draft Rencana Undang-undang EBT memang menyinggung pembentukan BUMN EBT. Namun, sejauh ini masih melihat situasi dari industri EBT itu sendri karena ini masih menuai pro – kontra.

“Dalam RUU EBT masih melihat prospek dari masing-masing bidang industri EBT,” ucapnya.

TKDN Meningkatkan Daya Saing

 

Menurut Djoko Siswanto, pentingnya menumbuhkan dan meningkatkan lokal konten di bidang industri. Hal ini agar industri Indonesia mampu berdaya saing dengan industri negara lain. GSEN juga mendorong peningkatan TKDN. TKDN juga berpengaruh terhadap ketergantungan impor energi.

 

“Dengan membangun pabrik baterai, panel surya, dan biofuel itu kan sebagai bentuk wujud penerapan lokal konten. Maka, lapangan pekerjaan terbuka lebar,” ujarnya.

 

Melihat sektor energi khususnya ketenagalistrikan, ia menyampaikan, Indonesia masih membutuhkan infrastruktur ketenaglistrikan baik dari penambahan pembangkit dan transmisi. Listrik EBT sangat tepat apabila dibangun di wilayah-wilayah yang belum teraliri listrik.

 

“Ini didukung oleh APBN untuk peningkatan rasio elektrifikasi. Saya berharap visi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi dengan target bauran energi bisa tercapai. Sehingga masyarakat merasakan manfaatnya dengan hadirnya energi bersih dan listrik terjangkau harganya,” pungkasnya.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button