Trending

Strategi Pemerintah Wujudkan Energi Fosil Lebih Bersih

Strategi Pemerintah Wujudkan Energi Fosil Lebih Bersih

 

Listrik Indonesia | Pemerintah sejalan dengan dunia global dalam upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca melalui efisiensi energi. Namun energi fosil hingga kini masih mendominasi dalam bauran energi di Indonesia. Saat ini, batu bara masih berlimpah dan secara ekonomis menjadi pilihan utama dalam pemenuhan energi listrik.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana, mengatakan ketergantungan energi fosil masih tinggi tapi di sisi lain kita punya komitmen ke masyarakat global, pilihannya adalah dengan menggunakan energi fosil secara lebih bersih. “Kita melakukan transisi untuk energi yang kita pakai agar lebih bersih, berkelanjutan, kompetitif, dan bisa diterima oleh masyarakat kita sendiri dan masyarakat global,” tegas Rida.

Dia menjelaskan setidaknya ada lima hal yang dilakukan Pemerintah untuk membuat energi fosil menjadi lebih bersih. “Kita akan meneruskan cofiring dengan mencampurkan biomassa untuk bahan bakar PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap-red). Selain itu, kita juga menerapkan Clean Coal Technology (CCT) untuk pembangkit baru dan beberapa sudah dilakukan," kata Rida.

 Ia melanjutkan langkah lainnya adalah menjajaki penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).Beberapa PLTU yang sudah tua dan berumur 30 tahun dan dinilai sudah tidak lagi efisien dan sangat mahal maka kita akan menutupnya. “Kita juga mempertimbangkan menjalankan moratorium PLTU baru, kita membatasi PLTU baru di Jawa dan mendorong pembangunan PLTU di mulut tambang,” kata Rida.

Ia menyebut kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik per semester I/2020 sebesar 71 GW. Dari total kapasitas tersebut, batu bara masih mendominasi sebesar 35.220 MW (49,6%). Total kapasitas tambahan pembangkit listrik yang akan dibangun hingga 2028 adalah sekitar 56,39 GW. Dari jumlah itu, total tambahan kapasitas PLTU dan PLTU Mulut Tambang (MT) dari tahun 2019 hingga 2028 sebesar 27.063 MW (48%).

“PLTU berbahan bakar batu bara masih akan dikembangkan dalam lima tahun ke depan dan kemudian secara bertahap akan berkurang. Hingga 2028, Pemerintah menilai ketersediaan batu bara lebih dari cukup untuk pembangkitan listrik,” ujar Rida. (TS)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button