NEWS
Trending

Strategi Pertamina di tengah Harga Minyak Dunia yang Rendah

Strategi Pertamina di tengah Harga Minyak Dunia yang Rendah
Listrik Indonesia | PT Pertamina (Persero) tengah menyiapkan strategi investasi dan pembiayaan di saat sedang anjloknya harga minyak dan gas (migas) dunia. Hal ini dilakukan guna menjaga ketahanan energi nasional.

Menurut Direktur Keuangan Pertamina Arif Budiman, beberapa upaya telah dilakukan Pertamina seperti melakukan efisiensi, menurunkan beban pinjaman dan memperluas basis investor.

"Fokus utama adalah efisiensi yang mendorong pertumbuhan laba bersih kita, naik cukup tajam sekitar 100 persen dari tahun sebelumnya. Hingga kuartal ke III tahun ini Pertamina telah melakukan efisiensi 1,6 miliar dollar," ungkap Arif dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (14/12).

Ia mengatakan, perseroan juga berhasil menurunkan posisi utang dari US$17,4 miliar menjadi US$11,6 miliar dengan cara refinancing melalui pinjaman baru yang memiliki bunga lebih rendah.

Tahun 2017, lanjutnya, Pertamina telah juga menyiapkan belanja modal sebesar 3 miliar dollar yang rencananya akan didanai dari project financing, ECA (Export Credit Financing), reserve base lending untuk aset di luar negeri dan equity light instrument yang sudah ditawarkan ke investor yang ingin repatriasi.

"Terlepas dari sumber-sumber pembiayaan yang lebih tradisional seperti obligasi dan pinjaman korporasi, Pertamina saat sedang mengkaji bentuk pendanaan lain di luar pinjaman bank dan obligasi," terangnya.

Sementara, Goro Ekanto, Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) mengatakan, untuk mendukung peningkatan investasi di industri hulu migas, pemerintah akan memberikan insentif fiskal.

Di antaranya keringanan pajak baik itu pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPn) maupun pajak bumi dan bangunan (PBB). "Untuk tahap eksplorasi, kementerian juga akan memberikan sejumlah insentif," kata Goro.

Menurut Managing Director, Head of Corporate and Investment Banking Citibank Indonesia, Gioshia Ralie mengungkapkan, pada semester I 2016 capaian investasi hulu migas hanya sebesar US$5,65 miliar atau turun sekitar 27% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$7,74 miliar.

"Energi baru terbarukan mencapai US$0,87 miliar. Terdiri dari US$0,56 miliar di sektor panas bumi, lalu sekitar US$0,018 miliar di sektor aneka EBT, dan US$0,289 miliar di sektor bioenergi," ungkap Gioshia.

Menurutnya, sektor energi menjadi faktor penting pendorong pertumbuhan ekonomi karena itu perlu dikembangkan. "Upaya peningkatan investasi di bidang migas hendaknya menjadi titik sentral dalam menjaga keberlanjutan produksi migas untuk mengoptimalkan penerimaan negara dan tingkat pengembalian investor," tandasnya. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button