Transmisi MEGA PROJECT
Trending

Tak Lama Lagi, Jepang Buang Limbah Nuklir Ke Laut Lepas

Tak Lama Lagi, Jepang Buang Limbah Nuklir Ke Laut Lepas
Limbah berupa air yang terkontaminasi radioaktif akan dibuang ke laut lepas. (foto: net)

Listrik Indonesia | Pemerintah Jepang memutuskan untuk membuang limbah nuklir ke laut lepas. Limbah berupa air yang terkontaminasi radioaktif ini merupakan hasil olahan di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang meledak beberapa tahun lalu.

""Kami tidak dapat menunda keputusan rencana untuk menangani air olahan, untuk mencegah penundaan dalam penonaktifan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi," ujar Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato seperti dilansir dari AFP, Jumat (16/10).

Sedikitnya, ada 1,2 juta ton lebih limbah yang terkontaminasi nuklir ini. Rencananya, pembuangan limbah nuklir ini akan dilakukan pada 2022 mendatang untuk mengurangi radioaktif di dalamnya.

Keputusan ini mengakhiri perdebatan bertahun-tahun tentang bagaimana membuang limbah cair yang digunakan untuk mendinginkan pembangkit listrik setelah dilanda tsunami dahsyat pada 2011.

Sebelumnya, ada dua pilihan yang realistis, yakni membuang ke laut atau diuapkan. Namun, tim panel pemerintah setempat memilih untuk membuang limbah ke laut meski  mendapat perlawanan dari nelayan setempat. Namun, pihaknya belum menjelaskan kapan limbah itu mulai dibuang.

Keputusan itu terpaksa diambil karena ruang penyimpan air, termasuk air tanah dan hujan yang merembes ke fasilitas setiap hari, semakin menipis. Operator pembangkit listrik, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), menyebut ada sekitar 1,23 juta ton air limbah yang disimpan di tangki fasilitas tersebut.

Sebagian besar isotop radioaktif telah dihilangkan melalui proses filterisasi ekstensif, namun masih tersisa satu, yakni tritium, yang tidak dapat dihilangkan menggunakan teknologi yang ada saat ini.

Para ahli mengatakan, tritium bisa membahayakan manusia jika dosisnya sangat besar. Badan Energi Atom Internasional berpendapat air yang disaring dengan benar dapat dinetralisasi menggunakan air laut dan kemudian aman dibuang ke lautan.

Aktivis lingkungan, nelayan, serta petani, menentang keras rencana tersebut karena khawatir konsumen mereka akan menghindari makanan laut dan hasil bumi lainnya.

Bukan hanya itu, Korea Selatan, yang masih memberlakukan larangan impor makanan laut dari Fukushima, juga berulang kali menyuarakan keprihatinan tentang dampak lingkungan. (pin)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button