Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

THORIUM & PLTT: Dilema PLN di Antara Over Supply, Harga Listrik & Emisi Karbon

THORIUM & PLTT: Dilema PLN di Antara Over Supply, Harga Listrik & Emisi Karbon
Transmisi listrik (ilustrasi).

 

 

LISTRIK INDONESIA | PT PLN (Persero) menilai bahwa teknologi baru dari Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) bisa menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik nasional ke depan karena harga yang ditawarkan dari pembangkit berbahan bakar thorium itu lebih kompetitif.

 

Namun, kondisi kelistrikan nasional saat ini masih menghadapi kelebihan daya (over supply). Hal itu disebabkan target pertumbuhan demand listrik tidak tercapai akibat tekanan pandemi Covid-19.

 

Penurunan pertumbuhan demand listrik pada 2020 sejalan dengan pelemahan pertumbuhan ekonomi yang minus 2,07% (resesi). Padahal, pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun sebelumnya di kisaran 4%-5%. Adapun, target awal pertumbuhan permintaan listrik di kisaran 7% - 9% per tahun.

 

Kondisi over supply daya listrik membuat cadangan listrik (reserve margin) relatif tinggi di hampir seluruh sistem kelistrikan di Tanah Air.

 

Sementara itu, jalan pengembangan thorium sebagai bahan bakar pembangkit listrik mulai menemui titik terang. Adalah PT ThorCon International Pte. Ltd. yang sangat intens dalam mengembangkan thorium di Provinsi Bangka Belitung.

 

Oleh karena itu, Indonesia akan mulai mengembangkan thorium sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Bahkan, Indonesia menjadi negara pertama yang mengembangkan pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT) yang menjadi teknologi baru dalam dunia pembangkitan.

 

EVP Perencanaan Sistem Kelistrikan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra menilai bahwa kondisi kelistrikan nasional sedang terjadi kelebihan daya (over supply) karena pertumbuhan permintaan listrik di bawah target. Hal itu disebabkan pandemi Covid-19 yang membuat permintaan listrik melemah sepanjang 2020.

 

Di sisi lain, beberapa pembangkit listrik segera beroperasi dan bakal masuk ke sistem jaringan kelistrikan PLN sehingga berpotensi kian menambah over supply dan reserve margin listrik PLN.

 

Selain thorium, Edwin menilai bahwa potensi energi terbarukan (surya, panas bumi, hidro, angin, biomassa, dll) di Indonesia mencapai sekitar 400 gigawatt (GW). Potensi tersebut belum memasukkan potensi pembangkit listrik tenaga thorium.

 

“Kami bisa melihat tantangan dalam pengembangan coal power plant terkait dengan tuntutan emisi karbon. Sementara itu, pembangkit dari energi terbarukan menghadapi tantangan intermittency. Berikutnya PLTT diklaim bisa menghasilkan listrik dengan harga lebih kompetitif, tentu akan lebih baik bagi Indonesia,” ujarnya, Jumat (26/2/2021).

 

Dia melihat bahwa harga listrik yang ditawarkan dari PLTT akan lebih efisien sehingga bisa memperbaiki harga listrik secara nasional. Sampai saat ini, pemerintah masih memberikan subsidi listrik untuk golongan keluarga dengan daya 450 VA dan Sebagian 900 VA.

 

PLN, lanjutnya, juga melihat bahwa kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang telah masuk ke sistem kelistrikan selama 5 tahun terakhir cukup besar. Hal itu juga masih akan ditambah beberapa unit PLTU yang akan masuk ke sistem PLN dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini sangat berkaitan dengan emisi karbon.

 

Selain itu, katanya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) jenis terapung, landed, dan atap (rooftop) juga semakin masaif dan akan masuk ke jaringan PLN sehingga sangat menantang bagi perseroan ke depan.

 

Pemerintah mulai mengerem pembangunan PLTU karena terkait dengan emisi CO2. Sebaliknya, pemerintah memprioritaskan EBT seperti surya dan angin. Namun, pembangkit energi terbarukan memiliki sifat intermittency yang cukup tinggi sehingga bisa mengganggu realibilitas/keandalan sistem kelistrikan nasional.

 

Teknologi baterai yang bisa menjadi solusi atas persoalan intermittency dan over supply daya listrik juga masih menghadapi tantangan mahalnya harga baterai.

 

Adapun, pembangkit dari energi terbarukan memiliki sifat intermittency (tidak stabil) dan capacity factor (CF) relatif rendah. Dia menilai bahwa PLTT sangat mungkin ke depan dengan berbagai kelebihan seperti harga kompetitif dan daya yang stabil (base load). “Selamat datang ThorCon untuk mengembangkan PLTT dan terus berupaya di Indonesia menggunakan thorium sebagai bahan bakar pembangkit listrik.”


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button