NEWS
Trending

Tren Harga Energi Global Sejalan dengan Pertumbuhan Investasi ESDM

Tren Harga Energi Global Sejalan dengan Pertumbuhan Investasi ESDM
Listrik Indonesia | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, realisasi investasi di sektor energi dan sumber daya mineral hingga kuartal ketiga 2018 mencapai US$ 15,2 miliar.

Adapun rinciannya sebagai berikut : US$ 8 miliar diantaranya dari sektor minyak dan gas bumi; US$ 4,8 miliar dari sektor ketenagalistrikan; US$ 1,6 miliar dari sektor mineral dan batubara; dan US$ 0,8 miliar dari sektor energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE).

Menteri ESDM, Ignasius Jonan mengatakan, investasi, terutama di hulu migas, sangat dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia. Sementara, jumlah investasi di hulu migas saat ini dipicu dari tahun 2011-2012, di mana harga minyak mentah mencapai lebih dari US$ 100 perbarel dan akhirnya keputusan investasinya mengikuti.

"Refleksinya di tahun 2014-2015, begitu harga minyak turun di tahun 2016, dan 2017 naik lagi, kebutuhan investasinya mulai bangkit lagi, nantinya refleksinya di tahun 2019 atau 2020," jelas Jonan di Jakarta, seperti di tulis (25/10).

Selain itu, ia melanjutkan, investasi besar, terutama pada eksplorasi, jika dilihat dari siklusnya dilakukan di periode setelah harga minyak mengalami kenaikan.

"Jadi ini tidak bisa, ini sering terlambat. Kalau lihat siklusnya itu semua investasi besar, eksplorasi terutama, itu dilakukan di periode di mana setelah harga minyak tinggi. Jadi karena tidak ada yang bisa memprediksi harga minyak berapa, ya kira-kira saja," paparnya.

Jonan menuturkan, investasi di sektor migas sangat tergantung pada harga minyak mentah dunia, namun, komitmen untuk eksplorasi migas sekarang sudah besar. Pemerintah pun berkomitme untuk melakukan eksplorasi hingga US$ 2 miliar.

"Kalau migas, ya tergantung harga dunia, semata-mata ini kita tidak bisa kendalikan, terserah saja investasinya bagaimana. Namun, komitmen untuk eksplorasi sekarang sudah besar. Pemerintah mendapatkan komitmen eksplorasi dengan perpanjangan blok migas termasuk Blok Rokan dan blok lain kira-kira US$ 2 miliar, ini seharusnya bisa digunakan untuk memicu eksplorasi," imbuh Jonan.

Lebih lanjut Jonan mengungkapkan, selain sektor migas, angka investasi di sektor ketenagalistrikan juga menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi dan penggunaan listrik perkapita.

"Listrik investasinya pasti turun, kalau diharapkan meningkat terus, itu membangun (pembangkit) berapa besar, kan tidak mungkin itu. Jadi listrik 35.000 Megawatt (MW) tidak mungkin semua diinvestasikan sampai 2019, karena pertumbuhan ekonomi sebesar 5%," jelasnya.

Sewaktu program kelistrikan (35.000 MW) ini dicanangkan harus selesai dalam waktu 5 tahun, dengan asumsi pertumbuhan ekonominya sebesar 7% sampai 8% per tahun. Untuk itu, pembangunan pembangkit listrik yang termasuk dalam program 35.000 MW akan diteruskan hingga tahun 2024-2025 mendatang.

"Penggunaan listrik rata-rata setiap daerah sekitar 1,5 kali pertumbuhan ekonomi. Kalau misalnya pertumbuhan ekonomi 7%, ya penggunaan listrik 10,5%, kalau (pertumbuhan ekonomi) 8% ya (penggunaan listrik) 12%. Tetapi kalau pertumbuhan ekonomi 5% maksimum penggunaan listrik 7,5%," kata Jonan.

"Kalau dibandingkan beda 3%, itu besar sekali. Kalau kapasitas terpasang 60 Gigawatt, 3% itu 1.800 MW, besar sekali. Jadi ini kita geser sampai 2024 2025, jadi makanya setelah ini akan flat," tandasnya. (Rg)

 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button