ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Waduh! Permintaan Energi Bakal Lama Pulih

Waduh! Permintaan Energi Bakal Lama Pulih
Pemulihan permintaan energi diperkirakan terjadi pada 2025. (foto: net)

Listrik Indonesia | Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pemulihan permintaan energi bakal mundur akibat pemulihan ekonomi yang lambat. Dalam skenarionya, ekonomi global pulih pada 2021 jika vaksin Covid-19 cepat ditemukan sehingga permintaan energi pun cepat pulih.

Namun, jika pemulihan ekonomi global tertunda maka prediksi dalam skenario itu dapat mundur dua tahun, hingga 2025. Terlebih, saat ini, terjadi kemerosotan ekonomi yang lebih dalam.

“Kemerosotan yang lebih dalam dapat mengikis potensi pertumbuhan ekonomi, pengangguran yang tinggi mengikis modal, sedangkan kebangkrutan serta perubahan ekonomi struktural membuat beberapa aset fisik menjadi tidak produktif, akhirnya berdampak pada permintaan energi dunia," tulis IEA dalam laporan Outlook Energi Dunia 2020, Rabu (14/10).

Badan yang berkedudukan di Paris ini mengungkapkan, permintaan energi global turun 5 persen pada 2020, emisi CO2 terkait energi merosot 7 persen. Begitu pun dengan investasi energi yang juga turun 18 persen. Permintaan minyak pun begitu, turun sebesar 8 persen, dan penggunaan batu bara anjlok 7 persen. Namun, tulisnya, permintaan energi terbarukan yang diprediksi mengalami sedikit kenaikan.

“Era pertumbuhan permintaan minyak global diprediksi akan berakhir dalam 10 tahun ke depan, tetapi dengan tidak adanya perubahan besar dalam kebijakan pemerintah, saya tidak melihat tanda-tanda itu secara jelas. Rebound ekonomi global akan segera membawa permintaan minyak kembali ke level sebelum krisis,” kata Direktur IEA, Fatih Birol.

Ketidakpastian atas permintaan energi ini, lanjutnya, akan mempengaruhi bagaimana produsen minyak mengukur keputusan investasi. Itu menyebabkan ketidaksesuaian dalam penawaran dan permintaan dan memicu volatilitas pasar di masa depan.

Dalam skenario utamanya, IEA memprediksi investasi hulu meningkat dari titik terendah pada tahun 2020, didukung oleh kenaikan harga minyak menjadi 75 per dolar AS barel pada 2030. Namun, mengingat kondisi saat ini, maka masih belum jelas apakah pertumbuhan investasi akan datang tepat waktu. (pin)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button