Listrik Indonesia | Perkembangan teknologi hidrogen di Indonesia memasuki babak baru dengan diresmikannya Hydrogen Refueling Station (HRS) Merah Putih di Unit Pembangkitan (UP) Rembang, Kamis (11/12/2025). Acara yang diprakarsai PT PLN (Persero) dan anak subholdingnya PT PLN Nusantara Power (PLN NP) ini menghadirkan Talkshow Hidrogen Merah-Putih dengan para pakar dari lembaga riset, industri energi, hingga pemerintah.
Talkshow ini menghadirkan empat pembicara utama:
• Agustanhakri, Fungsional Perekayas Ahli Madya BRIN sekaligus Committee Chairman Indonesia Fuel Cell and Hydrogen Energy (IFHE)
• Ricky Cahya Andrian, Vice President Decarbonization PT PLN (Persero)
• Urip Priyono, Analis Kebijakan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM
• Ardi Nugroho, Vice President Technology Development PT PLN Nusantara Power
Acara ini mempertegas komitmen Indonesia membangun ekosistem hidrogen nasional, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi energi bersih di sektor kelistrikan dan industri.
BRIN: Ekosistem Hidrogen Harus Tumbuh dari Kebutuhan Pengguna
Agustanhakri dari BRIN memaparkan perjalanan riset hidrogen di Indonesia yang telah dilakukan sejak lebih dari satu dekade terakhir. Menurutnya, riset kini harus memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.
“Kami sekarang diminta untuk mencari teknologi yang dibutuhkan user, bukan hanya mengejar target-target riset. Jika ingin menghasilkan produk, maka harus berbicara dengan industri,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa BRIN telah melakukan berbagai kolaborasi, termasuk dengan industri otomotif seperti Toyota, untuk memajukan pemanfaatan fuel cell dan hidrogen.
Agustanhakri juga menjelaskan bahwa IFHE dibentuk untuk menghimpun seluruh pemangku kepentingan, mulai dari peneliti hingga perusahaan, guna mendorong tumbuhnya ekosistem hidrogen nasional.
“Hari ini kami bangga karena hadir kegiatan yang mendorong pemakaian teknologi hidrogen di Indonesia. IFHE siap mendukung dan mengawal perkembangan ekosistem hidrogen ke depan,” tegasnya.
.jpg)
Hidrogen Jadi Bisnis Masa Depan Energi
Vice President Decarbonization PT PLN (Persero), Ricky Cahya Andrian, menegaskan bahwa hidrogen akan menjadi bagian penting dalam strategi dekarbonisasi nasional. Menurutnya, PLN memiliki kekuatan besar karena menguasai jaringan transmisi dan distribusi listrik, yang membuat produksi hidrogen lebih efisien tanpa biaya transport yang tinggi.
“Kalau kita mau main di bisnis hidrogen, kita punya keunggulan besar. Hidrogen bisa diproduksi langsung di lokasi lewat electrolyzer. Transportnya bisa diminimalkan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa berbagai sektor transportasi dapat menjadi pasar awal hidrogen, mulai dari kendaraan berat, marine, hingga kebutuhan kelistrikan di kapal.
“Kalau untuk marine, kita bisa mulai dari kebutuhan lighting di kapal menggunakan hidrogen. Yang penting mulai dulu, kita tunjukkan teknologinya bekerja,” ujarnya.
Ricky juga mendorong sinergi antara industri dan penyedia teknologi. Ia menyebut bahwa langkah progresif PLN NP Rembang membuka peluang besar bagi investasi dan inovasi.
“Apa yang dilakukan di Rembang ini sejalan dengan roadmap hidrogen PLN. Tinggal bagaimana kita memperluas ekosistemnya. Kuncinya ada pada kolaborasi,” katanya.
Hidrogen Masuk Agenda Strategis Transisi Energi Nasional
Dari sisi regulasi dan kebijakan, Analis Kebijakan Direktorat Jenderal EBTKE, Urip Priyono, menyampaikan bahwa baru-baru ini pemerintah telah menerbitkan regulasi berupa peraturan pemerintah no.40 tahun 2025 tentang kebijakan energi nasional, yang didalamnya disebutkan hidrogen sebagai energi baru. Selain itu kementerian ESDM juga telah meluncurkan Strategi Hidrogen Nasional (SHN) dan Roadmap Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) sebagai referensi dalam pengembangan ekosistem hidrogen hingga tahun 2060.
“Pilar pertama adalah mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Pilar kedua untuk mendukung dekarbonisasi menuju net zero emission. Pilar ketiga mendorong potensi ekspor hidrogen dan amonia Indonesia,” ujar Urip.
Ia mengajak bahwa dalam mengakselerasi pengembangan ekosistem hidrogen ini perlu keterlibatan dan dukungan dari berbagai pihak serta para pemangku kepentingan, diantaranya dari kementerian/lembaga terkait serta badan usaha baik itu BUMN maupun Swasta.
“PLN dan PLN NP berada di garda depan. Banyak inisiatif yang sudah berjalan lebih cepat dibanding sektor lain. Pemerintah tentu memberi perhatian besar pada perkembangan ini,” tambahnya.
Rembang Jadi Pionir Ekosistem Hidrogen Merah Putih
Vice President Technology Development PLN NP, Ardi Nugroho, menyampaikan bahwa HRS Merah Putih Rembang dirancang sebagai proyek percontohan yang akan memperlihatkan kesiapan teknologi hidrogen produksi dalam negeri.
Menurut Ardi, fasilitas ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga membuka jalan bagi pemanfaatan hidrogen di industri transportasi, kelistrikan, hingga sektor manufaktur.
“Kami ingin Rembang menjadi titik awal ekosistem hidrogen nasional. Dengan HRS Merah Putih, kami menunjukkan bahwa teknologi ini bukan lagi konsep, tetapi sudah bisa diterapkan,” ungkap Ardi.
Peresmian HRS Merah Putih Rembang dan talkshow yang mengiringinya mencerminkan sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dan industri energi dalam membangun ekosistem hidrogen nasional.
Dengan riset yang semakin matang, dukungan regulasi yang kuat, serta peran aktif PLN dan PLN NP dalam pengembangan infrastruktur, Indonesia kini memasuki fase awal pemanfaatan hidrogen sebagai energi masa depan.
HRS Merah Putih Rembang menjadi simbol kemajuan, sekaligus langkah penting menuju pemanfaatan hidrogen yang lebih luas untuk pembangkit listrik, transportasi, industri, hingga peluang besar di pasar ekspor.