Berapa MW yang Dihasilkan dari PLTSa?

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:03:49 WIB
Gambar ilustrasi PLTSa.

Listrik Indonesia | Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WTE) berpotensi menghasilkan listrik dengan kapasitas hingga 200 Mega Watt (MW). Hal tersebut ia ungkapkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip pada Jumat (30/01/2026).

Hanif menjelaskan bahwa meskipun secara teknis proyek WTE dapat menghasilkan listrik hingga 200 MW, kontribusi tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan total kapasitas terpasang sistem kelistrikan nasional milik PT PLN (Persero). Oleh karena itu, proyek WTE tidak ditempatkan sebagai penopang utama penyediaan energi listrik nasional.

"Waste to Energy ini paling banyak akan menyuplai listrik dengan jumlah hanya sekitar 200 MW, sehingga dengan demikian maka tidak terlalu besar pada kapasitas on-grid PLN," ujar Hanif.

Menurut Hanif, pembangunan fasilitas WTE sejak awal tidak diarahkan untuk mengejar target produksi energi listrik. Fokus utama proyek ini adalah penyelesaian permasalahan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah perkotaan yang volumenya terus meningkat dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Sejalan dengan tujuan tersebut, pemerintah memfokuskan pelaksanaan WTE pada penerapan teknologi pengolahan sampah yang efektif. Pendekatan ini dilakukan sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menempatkan WTE sebagai instrumen penanganan lingkungan, bukan semata-mata proyek energi.

"Sehingga arahan Bapak Presiden, ini bukan masalah energi, ini masalah lingkungan, sehingga pelaksanaannya ditangani penuh di dalam Waste to Energy," tambahnya.

Dari sisi keekonomian, pemerintah telah menetapkan skema tarif jual beli listrik WTE dengan harga flat sebesar 20 sen dolar Amerika Serikat per kilowatt hour (kWh). Penerapan tarif tersebut disertai dengan ketentuan minimal volume sampah yang diolah mencapai 1.000 ton per hari agar proyek dinilai layak secara teknis dan finansial.

"Kemudian penanganannya memang dengan alokasi dana yang ditetapkan flat yaitu 20 sen dolar per kWh. Bahwa ini hanya memang diperuntukkan untuk 1.000 ton per hari," tandas Hanif.

Tags

Terkini